Recent Blog post

Yah, sekarang saya lagi seneng main otome games, mungkin bisa dibilang penyakit main game otome saya kambuh, Beberapa minggu yang lalu saya nyobain game yang judulnya Nameless, satu developer tuh sama Mystic Messanger yang sekarang lagi rame-ramenya. Sebenernya udah lama tau sama game Nameless, tapi karena saya males download dan waktu itu juga masih demo version, jadi baru beberapa minggu yang lalu saya coba download dan mainin, tehee



Nameless menceritakan seorang heroine bernama Eri, pelajar tahun pertama di akademi Crobi dengan perawakan yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Orang tuanya yang bekerja di luar negeri, mengharuskannya untuk tinggal di rumah kakeknya, Setelah kematian kakeknya, Eri bersikeras ingin tetap tinggal sendiri di rumah kakeknya. Eri mempunyai hobi atau bisa dibilang terobsesi mengkoleksi ball jointed dolls (penjelasan bisa dibuka di sini : http://metaphysical-paradox.blogspot.co.id/2012/12/ball-jointed-doll.html), Eri tak ingin mengatakan pada siapa pun maupun pada sahabatnya mengenai hobi anehnya, Alasannya? Ia takut dikucilkan dan diejek, "masa udah gede masih main boneka-bonekaan XD?" Pada suatu hari, terjadi sebuah keajaiban.

BANG!


Kelima boneka tampan Eri tiba-tiba berubah menjadi manusia, dan kehidupan Eri yang sepi mulai berubah seiring berjalannya waktu. Ah! dan tentu saja Eri harus mendapatkan hati setiap lima bonekanya, namanya juga otome game. Tujuan kelima boneka tampan Eri dihidupkan ternyata sedih banget, endingnya juga bikin nyesek. Saya gak mau spoiler, lol.

Sejujurnya, saya main game ini ada beberapa rute cowoknya yang ngebosenin banget. Bikin ngantuk. Pas melek itu pun gara-gara dapet bad ending dan kedok asli sifat salah satu cowok yang saya mainin rutenya kebongkar, lol. Malah saya lebih menikmati alur secret endingnya dan bad ending yang didapetin setiap salah pilih, lol. Terus, mainin rute cowoknya menurut saya kurang bikin doki-doki. Cuma si Tei dan Lance yang mampu menaklukkan hati saya, walaupun saya kurang suka ama mereka, saya lebih suka dengan Red yang gokil. Tapih! Hmmm... kurang begitu berkesan di hati kecuali kekocakan /kebodohan/ dia yang selalu adu mulut ama Lance, mereka bikin ngakak. Ekspektasi saya di rute Yuri yang bakal super romantis karena saya nilai karakter dia yang super narsis dan pervert bakal tersimpan sesuatu yang bikin hati saya melting, hmmm ternyata...

Sekali lagi, saya lebih menikmati alur secret endingnya dan pengungkapan dibalik kejadian para boneka Eri dihidupkan menjadi manusia oleh [spoiler alert] Wizard.

Overall kalau saya kasih poin ; alur tiap rute cowoknya 70, humornya 85 /saya selalu ngakak/, alur secret ending + fakta pengungkapan 85, CG art 85, soundtrack 75.

Oh, ya, mungkin karena gak terbiasa denger otome game yang didubbing Korea kali yah rasanya kurang doki-doki gitu/plakk/. Saya main game ini berasa nonton drama Korea gitu, Lol.
Jadi, kalau udah ada yang pernah nyelesain game ini dimohon jangan tersinggung dengan reviewan saya yang kebanyakan minusnya. Karena pendapat kita berbeda-beda, temans. Bagi yang sudah baca reviewan ini /pede banget/ dan kekeuh pengen nyobain gamenya, silahkan. Saya bisa kasih link gamenya. Tapi game ini cuman bisa dimainkan lewat PC yah!

Oke, lanjut ke pengenalan karakter  :













Sebenernya masih ada satu karakter lagi. Tokoh utama sebenarnya dalam game ini. Tapi saya gak mau spoiler tampangnya. Karena makhluk ini tokoh penting di secret ending. Lol. Oh, ya kalau kepengen liat spoiler CGnya kalian bisa bertandang ke album galeri facebook saya di sini : https://web.facebook.com/dhaaalwayz...
Jadi, cukup sekian reviewan game ini. Terima kasih yang sudah membaca~
Source pict karakter : tumblr /saya lupa nama akunnya lol/

[Review] Otome Game Nameless -The One Thing You Must Recall-

By : Lidatan
Selasa, 27 Desember 2016
0
Sebelumnya saya mau bilang kalau saya gak pro-pro amat, masih amatiran. Bikin tutorial beginian karena saya iseng aja. Jika ada proporsi tubuh yang kelihatan aneh, yah... udah dibilang saya masih amatiran T^T.

Oke, semoga tutorial abal-abal ini dapat membantu~~

Aplikasi yang dibutuhkan : Paintool SAI.

Kalau gak punya aplikasinya silahkan agan-agan semua download dulu. Karena saya males browsing, jadi, saya tidak menyediakan linknya. Lol. Silahkan browsing sendiri yah *wink*

Oh, ya, tutorial ini sebelumnya pernah saya upload di FB.

Step 1



Setelah kalian sudah selesai membuat sketsa, buka file sketsa gambar kalian yang sudah discan. Kalau gak punya scan, bisa sih sebenernya sketsa gambar kalian difoto lewat kamera ponsel. Di sini saya menggunakan sketsa karakter Tsubaki Suwabe dari anime super ngefeels //katanya// Shigatsu wa Kimi no Uso.

Oke, bagi yang belum mengenal aplikasi Paintool SAI, cara membuka gambar sketsa = klik file - open atau yag lebih gampangnya memakai shortkey ctrl+O. Lalu tinggal pilih gambar sketsa yang udah discan atau difoto.

Step 2



Klik new folder di area sebelah kiri. Kemudian rename dengan cara mengklik dua kali area layer folder. Terserah sih mau dinamain foldernya apa. Karena kita mau bikin line, jadi yah dikasih nama 'line' //plakk//. Teruuussss~~ gunanya apaan sih bikin folder gitu? Gunanya supaya gak berhamburan aja nanti layer vectornya.

Step 3 


Klik new vector layer. Letaknya di samping new folder yah! Jangan lupa juga rename vector layernya sesuai dengan bagian mana yang mau ditracing nanti. Nah, karena saya mulainya dari bagian rambut, jadi saya kasih nama vector layernya 'rambut'. Cara ngerenamenya sama kayak di step 2, yah!

Tips : sebaiknya membuat vector jangan menggunakan satu layer saja. Kenapa? Karena kalau ada proporsi tubuh yang bentuknya atau letaknya aneh, misalnya mata, jadi tinggal pindahin aja atau rotate. Sangat menghemat waktu, bukan? Lol.

Step 4 :


Sketsa gambar tadi kita kurangin opacitynya. Caranya klik layer 1, kemudian klik opacity lalu tahan, gerakkan mouse ke sebelah kiri. Terserah mau berapa persen opacitynya, yang jelas jangan sampai 0% aja, jadinya gak keliatan mamen! Nah, gunanya mengurangi opacity ini, biar kita bisa fokus sama garis kurva vectornya nanti.

Step 5 


Kembali ke layer vector 'rambut'. Lalu klik 'curve' di area sebelah kanan, itu, yang udah saya tandai warna pinku XD. Nah, waktunya untuk mentracing, bahasa gahoelnya mengikuti garis-garis sketsa gambar. Ingat yah! Setiap bagian tubuh karakter yang mau ditracing selalu gunakan layer baru, dan jangan lupa dikasih nama juga. Biar gak bingung aja XD. Oh, iya! Sebelumnya pilih warna lineart kalian di bagian warna, letaknya di ujung sebelah kanan. Tinggal digeser-geser aja sampai nemuin warna yang pas. Atur juga size kurvanya, letaknya di bawah area kurva itu juga. Karena di screenshot gambarnya belum saya klik ikon curvenya makanya gak muncul XD. Kalau yang dicontoh gambar ini saya atur size kurvanya 2.0.

Step 6 


Oh, iya! Mau berbagi aja sih... setiap saya bikin lineart warna lineart saya coklat atau baru-baru ini abu-abu. Kenapa gak hitam? Ya, suka-suka aja sih lol. Nah, di gambar ini setting warnanya.

Step 7


Dududududududun~~ nah, hasil akhir tracingan tadi jadinya begini.Bentuknya masih agak gimana gitu~~

Step 8


Biasanya nih berdasarkan pengalaman saya, sketsa gambar yang udah ditracing pakai kurva, keliatannya sih hasilnya bagus, tapi setelah dihilangin/dinonaktifkan layer 1 (layer sketsanya) waduhhh kok malah bentuk garis kurvanya ada yang aneh! Kesannya kayak menipu indra penglihatan, gitu, lol! Maka dari itu sangat dianjurkan sekali menonaktifkan layer 1 aka si layer sketsa, klik pada bagian mata.Jika ada garis kurva di bagian-bagian tertentu yang menurut kalian aneh bisa langsung diperbaiki. Karena para layer kurva ini yang akan kita pakai, layer sketsa mah cuman jadi acuan doang lol.

Step 9


Ini dia jurus pamungkas para mouse user biar lineartnya kelihatan kayak pakai drawing tablet. Menggunakan pressure pemirsaaahhh!! Pressure itu gunanya menebalkan dan mempertipis garis kurva. Letaknya di area sebelah kanan, beredekatan dengan ikon curve.

Step 10


Yak!! Setelah ikon pressure diklik, layer kurva kita akan muncul titik-titik penghubung gitu. Nah, kayak yang saya tandai itu contohnya.

NB : Maaf saya kelupaan ngescreenshot gambar sebelum dipressure. Jadi yg di gambar ini hasil jadi keseluruhan yg udah dipressure //belibet dah//.

Step 11


Nah, klik titik kurva tadi, kemudian tahan. Jika hendak menebalkan garis kurva gerakkan mouse ke sebelah kanan. Maksimum ketebalan garis kurva 200%. Jika hendak menipiskan garis kurva gerakkan mouse ke sebelah kiri, maksimum ketipisan garis 0% (bener-benar ilang garisnya XD). Di screenshot gambar ini hasil ketebalan pressure garis kurva.

Step 12


Tadaaaaa~~ itu hasil pressure lineart rambut. Kalian bisa bereksperimen sendiri sih mau di bagian mana tebal-tipisnya. Atau bisa lihat-lihat hasil karya para senpai, bisa dijadikan referensi, teheee XP

Tips : biasanya kalau saya ngepressure, bagian luar pressurenya lebih tebel, sedangkan bagian dalam pressurenya lebih tipis.


Step 13



Finish!! Hasil akhir lineart yang awalnya rada berantakan, sekarang lumayan enak lah dipandang. Wkakakakakakakakakakak 

NB : Keknya belahan rambutnya kurang ke kiri lagi deh T^T


Step 14



Yak!! Jangan lupa disave yah ceman-ceman lineart kalian. Caranya klik file - save as - pilih mau tipe .sai/.psd./.jpeg bebas dah~~ kalau mau diwarnain lewat sai sih, tinggal disave .sai, kalau mau diwarnain pake photoshop disave pake extension .psd. Kemudian klik save. Selesai!!

Nah, ini beberapa contoh hasil lineart yang saya bikin :




Tutorial Membuat Lineart Menggunakan Mouse

By : Lidatan
Selasa, 01 November 2016
1
Oh! Mr. Hikkikomori
Vanille Yacchan
All Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
...
[Chapter Four : Encountered, Liar, and a Job]
...
Warning : OOC SASUKE.

Sasuke mengacak-ngacak rambut ayamnya frustasi. Tangannya bergerak merogoh kantung jeansnya. Membuka ponsel layar sentuh, dan sekali lagi membaca pesan yang dikirim oleh si gadis berambut merah muda.

From : 0777xxxx
Dear Uchiha Sasuke-dono
Kau telah terpilih menjadi kandidat terbaik sebagai proyek penelitianku. Jika kau ingin ‘Hikkikomori’mu disembuhkan, temui aku di Sanda Park, jam 9 malam.
PS : Kau bisa sekalian ambil CV yang tertinggal di perpustakaan J

Haruno Sakura

Hell!! Hantu apa yang telah merasuki dirinya? Sekarang ia benar-benar  memenuhi permintaan si gadis merah muda—Haruno Sakura. Setelah memberitahukan pesan mencurigakan itu pada Naruto. Pemuda pirang itu tanpa panjang lebar langsung menendangnya pergi.

Dasar kouhai tak berperasaan, batinnya jengkel.

Sebelum menutup pintu apartemen, pemuda kuning sialan itu mengatakan, ‘tak baik membuat gadis manis menunggu.’ Sasuke tak punya pilihan lain, ia bergegas mengambil jaketnya dan pergi. Sasuke bahkan terlalu bodoh sampai-sampai tidak mengecek masih pukul berapa waktu itu.

Sasuke mendengus. Onyxnya mengerling jam di ponselnya.

Pukul 9 tepat, great!! Di mana gadis pink itu sekarang?

Selama satu jam ia sudah menunggu. Berterima kasihlah dengan kebodohannya.

Sasuke mengembalikan ponsel di kantung jeansnya. Ia duduk di bangku taman sedikit gelisah.

Pemuda pantat ayam itu menumpu wajahnya.

Hening.

Kemudian sebuah pemikiran aneh menelisik otaknya.

Apa dia benar-benar akan datang menemuiku? Atau ini hanya pesan iseng untuk mengerjaiku, mungkin?

Keringat dingin bermunculan di jidat Sasuke. Kalau dipikir-pikir ini pertemuan ketiga kalinya dengan si gadis. Ia hanya mengetahui beberapa informasi. Pertama, gadis belia berambut merah muda itu bernama Haruno Sakura. Kedua, Haruno Sakura bekerja di sebuah perpustakaan kota. Selebihnya Haruno Sakura adalah gadis asing yang tak sengaja mengetahui aib memalukan Sasuke.

Bagaimana bisa!?!

Lalu…

Apa maksud Haruno Sakura mengenai proyek penelitian? Apa semacam proyek liburan musim panas anak SMA? Kemudian aku yang dijadikan sebagai kelinci percobaan, begitu? Heh… benar-benar gadis sialan! Pikir pemuda raven itu jengkel.

Atau… jangan-jangan gadis itu mata-mata dari sebuah organisasi rahasia yang ingin menjebakku tetap menjadi hikkikomori selamanya, teriak batin Sasuke ngeri.

Tidaktidatidaktidaktidaktidak.

Pemuda berambut buntut ayam itu bergumam sembari mengacak rambutnya. Kalau begitu ia seharusnya tidak membiarkan nalurinya yang menyedihkan itu menuntun semua sel-sel otot geraknya menuju taman Sanda untuk memenuhi permintaan gadis merah muda itu. Ia harus secepatnya pergi dari sini!

“Apanya yang tidak?”
Secepat kilat Sasuke memalingkan wajahnya. Onyxnya membulat.
Eeeek!! Ia benar-benar dataaaang!! Chikusoooo!!
Terlambat sudah.
Di sana.
Gadis berambut merah muda—Haruno Sakura—dengan wajah bingung menatap Uchiha Sasuke. Emeraldnya menyipit tajam, “Kenapa kau melarikan diri dari interview? Padahal  tidak banyak pelamar di sana,” langkah kakinya yang kecil itu menuntunnya ke samping pemuda Uchiha yang kini tak bisa berkata apa-apa. Haruno Sakura menghenyakkan pantatnya di bangku taman, “Tapi tak masalah.”
Sasuke yang tak biasa didekati oleh orang asing sedikit tersentak.
“Karena aku tahu cara untuk keluar dari kehidupan hikkikomori menyedihkanmu itu,” ucapnya percaya diri, sebuah senyuman manis terbit di bibir mungilnya.
Sasuke benar-benar tercengang mendengar ucapan Haruno Sakura.
Apa-apaan gadis ini? Dia pikir mudah untuk menyembuhkan penyakit hikkikomoriku? Apalagi gadis ini dilihat-lihat dari postur tubuhnya masih bocah.  Pikirnya sinis.
Sasuke mendengus. Lalu perhatiannya tertuju ke sebuah papan peringatan yang tertancap di antara semak-semak. Spontan jarinya menunjuk ke arah papan peringatan itu.
“Hati-hati orang mesum bebas berkeliaran!! Gadis belia sering diserang di area ini. Apa kau yakin aman memanggil orang mencurigakan sepertiku?”
Emerald itu berkedip. Kemudian dengan wajah tanpa dosa Haruno Sakura membuka mulutnya, “Sasuke-kun kau seorang penjahat?”
BRAAK!!
Spontan pemuda Uchiha itu bangkit dari duduknya, “Tidak! Apa kau bodoh?!?” ia benar-benar tidak terima dicap sebagai penjahat. Hell!! Walaupun  Sasuke menderita hikkikomori, dalam akal sehatnya ia tidak akan mungkin melakukan tindakan asusila. “Dan… jangan seenaknya memanggilku ‘Sasuke-kun’!?!?”
Kemudian sebuah tawa mengalun di bibir gadis merah muda itu. Sasuke kembali duduk di bangku taman. Menahan kejengkelannya terhadap Sakura.
“Tenang saja, rumahku dekat dari taman, kok.”
Tiba-tiba sebuah pertanyaan yang sedari tadi menjadi perdebatan di dalam otaknya terlintas di pikiran pemuda Uchiha itu, “Apa maksudnya proyek penelitian ini? Aku yakin kau hanya main-main, kan?”
Gadis merah muda itu mendesah, “Aku benar-benar serius. Karena aku berhutang sebuah permintaan dari seseorang.”
Kening Sasuke mengerut dalam, “Haaah!?!?”
Emerald Sakura memandang lurus, ekpresi cerianya berubah menjadi sendu,  “Karena aku ini tak lain hanya peganggu bagi orang itu. Makanya… aku pikir, aku ingin sesekali menolongnya.”
Onyx Sasuke tak lepas dari Sakura. Ia mendengarkan dengan cermat. Walaupun sedikit bingung ke mana arah pembicaraan Sakura.
“Jadi, jika kau ingin mengetahui jalan keluar dari kehidupan hikkikomori, bergabunglah dalam proyek penelitianku,” emeraldnya memandang Sasuke penuh harap.
Pemuda Uchiha itu menggelengkan kepalanya lalu mendengus, “Heh… asal kau tahu saja, aku bukan hikkikomori…”
“Bohong!” Sela Sakura cepat. “Ketika ibuku menawarkan selebaran ajakan sosialisasi, kau terang-terangan membeberkan rahasia memalukanmu itu!”
Kontan saja Sasuke bagaikan tertancap anak panah tak terlihat setelah mendengar kalimat tak terduga dari bibir Sakura.
Jadi, wanita sialan itu ternyata ibunya gadis aneh ini? Teriak batinnya histeris.
Lalu, kenapa pada malam kejadian laknat itu Sakura ada di komplek apartemennya?
Seakan mengerti ekspresi bingung Sasuke. Sakura mencoba menjelaskan, “Ibu terlalu lama mengobrol dengan calon kliennya. Aku bosan, jadi memilih pulang saja,” lalu ia terkikik. “tahu-tahu aku disuguhkan dengan kejadian memalukan. Beruntung sekali aku memilih pulang waktu itu.”
Akkhhh!!
Sasuke mengerti apa maksudnya. Ternyata kami-sama membuatnya membayar apa yang telah ia lakukan. Kembali bertemu dengan gadis aneh berambut merah muda, bahkan gadis ini dengan percaya diri menawarkan proyek secara gratis untuk menyembuhkan penyakit hikkikomorinya. Great!! Fabulous!! Amazing!! Bolehkah sekarang ia menggali lubang kuburannya sendiri?
Sasuke mendadak bangkit dari duduknya—lagi. Ia harus menjelaskan sesuatu. Sesuatu yang dapat mengenyahkan pikiran dari otak gadis itu mengenai dirinya yang menderita hikkikomori.  
“A-aku… sebenarnya aku hidup memang seperti hikkikomori. Tapi…” Sasuke memutar gerigi otaknya yang pintar, mencoba mencari sebuah alasan yang logis. “Kau tahu… aku berbeda dari rata-rata hikkikomori lainnya.”
Satu alis Sakura terangkat, “Berbeda bagaimana?”
Sialan!! Bocah merah muda ini benar-benar tidak bisa dibohongi!!
“Uhhh… kau tahu… semacam kantor kecil yang berada di rumah. Yaa!! Aku dipaksa bekerja di rumah oleh perusahaan…”
Tidak masalah!! Katakan apa saja agar gadis ini benar-benar percaya padamu!!
Sakura kelihatannya berpikir sejenak. Lalu emeraldnya memandang onyx Sasuke, “Memangnya jenis pekerjaan apa yang kau kerjakan di rumah?”
Sasuke tertawa gugup, “Ak-aku terkejut kau menanyakan hal itu,” onyxnya berputar-putar, sekali lagi mencoba memutar otaknya. Ia berharap Haruno Sakura tidak menyadari ekspresi gugupnya. “Aku seorang kreator,” lanjut Sasuke.
Hening.
Sakura terdiam, sepertinya mencoba mencerna ucapan yang baru saja dikatakan Sasuke. Ekspresi datar Sakura terus terang saja membuat Sasuke tambah gugup. Tiba-tiba gadis merah muda itu tersenyum mengejek seakan tidak percaya, “Heeeeee… jadi, apa yang kau buat?”
Sial!
Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Sasuke. Ia harus mencari alasan lagi.
Benar!! Ucapkan apa saja yang terlintas dipikiranku.
“K-kau tahu… aku bekerja di bidang revolusioner. Y-ya!! Aku bekerja membuat software komputer. Seperti Bill Gates atau Linus Trovald. Orang berkulit putih yang menguasai dunia teknologi, ha-ha-ha,” Sasuke tertawa hambar sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
Bagus! Sekarang kita lihat bagaimana reaksi gadis ini.
Krik… krik…
Emeraldnya menatap Sasuke bosan. Seakan-akan Sasuke baru saja mengisahkan cerita yang tidak masuk akal.
“Heeeee~~~~”
Sasuke membeku.
Apa-apaan gadis ini!?!
Semua ucapan yang dikatakan Sasuke sepertinya tidak membuat Sakura percaya. Pemuda Uchiha itu berpikir ia baru saja membuat kehidupannya yang tenang mendadak dihujani meteor.
Benar-benar kacau!
“Jadi, kau mencoba mengesankan seorang gadis manis dan setelah mengatakan kebohongan itu kau melarikan diri?”
TAAK
Naruto meletakkan dua gelas kopi di meja. Salah satunya ia berikan pada Sasuke yang kini diselimuti aura gloomy. Sepertinya Sasuke menyesali apa yang telah ia katakan. Seandainya ia tidak memenuhi permintaan Sakura. Semua kebohongan itu pasti tidak akan pernah terjadi.
Sial.
Naruto mendesah. Apa susahnya sih mengatakan kalau Sasuke benar-benar menderita hikkikomori? Lagipula gadis yang diceritakan senpainya itu menawarkan jasa yang menguntungkan bagi pemuda berambut buntut ayam ini.
Terkutuklah Uchiha dan harga diri mereka yang menyebalkan itu! Pikir Naruto jengkel.
Senpai, kau benar-benar… tidak habis pikir,” Naruto mengeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Untuk memuluskan kebohonganmu itu aku akan membantumu, begitu?” lanjutnya sambil sesekali menyesap kopi panas buatannya.
“NARUTOOOOO!! TOLONG!! KAU SATU-SATUNYA ORANG YANG BISA MEMBANTUKU!!” Sasuke membungkukkan tubuhnya. Menghancurkan harga dirinya yang tinggi. Memohon pada kouhai berambut pirang yang sekarang ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Se-senpai kau tidak butuh merendahkan kepalamu jika menginginkan bantuanku,” Naruto tersentak sembari menenangkan Sasuke yang kelihatannya sudah mencapai batasnya.
Guuoooohh… ini semua kulakukan demi diriku sendiri Naruto. Aku yang memulai semuanya. Arrghhh… Kenapa aku harus mengatakan kebohongan besar seperti itu?
“Hmm… aku mengerti,” suara Naruto membuyarkan penyesalan inner Sasuke. Pemuda Uchiha itu menegakkan tubuhnya. Ia tidak tahu bagaimana membalas kebaikan kouhainya nanti. Membelikan sesuatu untuk Naruto? Hmm, itu tidak mungkin. Kita tahu Sasuke sekarang dilanda ambang kemiskinan.
“Karena kau mengatakan sebagai seorang kreator. Jadi, mari kita pikirkan jenis kemampuan apa yang dibutuhkan seorang kreator.”
Sasuke melongo, “Kemampuan?”
Naruto melirik Sasuke heran seakan senpainya itu benar-benar bodoh.
Rupanya hikkikomori sudah membuat otak pintarnya itu membeku, pikir Naruto kasihan.
“Sebagai kreator kau harus bisa menggambar, menggubah musik, dan menguasai bahasa pemrograman,” Naruto menjelaskan.
Sasuke mendesah pelan. “Semua kemampuan itu… tidak ada yang kukuasai. Kemampuan yang kukuasai hanya menjadi hikkikomori.”
Naruto meringis, “Sudah kuduga.” Kemudian ia tersenyum canggung. Tiba-tiba saraf di otak Naruto mendeteksi sebuah ide brilian, “Ah, mungkin kau bisa menulis karangan, senpai. Di dekat sini ada kelas menulis sastra. Kau bisa mendaftar kelas itu.”
“Uheeeeee~~~~ tidaktidaktidaktidaktidak,” Sasuke menolak sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “tidak ada gunanya!! Terakhir kali aku menulis ketika SMP. Betapa menyusahkan.”
CTAK
Perempatan sudut muncul di jidat Naruto. Ia sudah berusaha mencoba membantu. Tapi, apa yang ia dapat? Kelakuan Senpainya yang benar-benar membuatnya kesal.
Sialan kau Uchiha Sasuke!! Teriak inner Naruto kesal.
“Baiklah…” Naruto menghela napas pelan, tiba-tiba suasana berubah mencekam, “Apa kau ingin menjadi seorang kreator?” nada suaranya yang cempreng itu berubah serius. Mata birunya mendelik tajam ke arah Sasuke, giginya bergemeletuk menahan amarah, “Apa kau sungguh-sungguh mau melakukannya, huh?”
Sasuke bersusah payah menelan salivanya. Baru kali ini Sasuke merasa terancam dan yang lebih mengejutkan Naruto benar-benar berhasil membuat Sasuke ketakutan. Ha-ha dunia mungkin sebentar lagi akan berakhir. Dengan gugup pemuda raven itu membuka mulutnya, “Y-ya, tak masalah. Aku bisa menulis, Naruto!! Aku bisa membuat plot yang bagus!”
Inner Naruto menyeringai menang.
Gotcha!! Akhirnya!!
“Sungguh?” Aura mencekam itu luruh seketika. Pemuda kuning itu nyengir, “Bagus! Kalau begitu kita akan mengambil jalan sebagai kreator game!”
Hening.
Kemudian terdengar suara teriakan bak banshee dari mulut seorang Uchiha, “UOOOOOO!! SIALAN KAU LUAR BIASA NARUTO!!”
“Sudah… sudah… senpai…” Pemuda kuning itu berbisik mengingatkan Sasuke agar tenang. Kelakuan Sasuke luar biasa tidak terduga. Kemana perginya sifatnya yang biasanya terkontrol itu?
Setelah sedikit tenang, Sasuke kembali membuka mulutnya, “Jadi, game apa yang akan kita buat?”
“Ahh… sebelum itu,” mata biru Naruto menyipit tajam, “senpai, kau harus berjanji padaku.” Sasuke merespon dengan anggukan singkat.
“Jika kita tetap terus menjalankan proyek ini, mungkin kita akan banyak menumpahkan darah. Tapi aku tidak akan menginzinkan senpai berhenti setengah jalan,” air muka pemuda kuning itu mengeras, Naruto Uzumaki benar-benar serius.
“Yeah! Kau bisa menyerahkannya padaku. Aku akan baik-baik saja! Jika itu demi menjadi seorang kreator, aku akan melakukan apa saja. Aku berjanji, Naruto!!”
Naruto mengangguk-angguk sembari bergumam ‘bagus… bagus…’
“Jadi, jenis game apa yang akan kita buat?” sekali lagi Sasuke menanyakan.
Uzumaki Naruto tersenyum misterius, kelopak matanya menutup sesaat, seolah-olah memberikan efek dramatis. Kemudian turqouisenya itu menatap lurus onyx Sasuke, dengan ekspresi santai Naruto berujar, “Erotik!”
“Eh?”
Apa yang barusan ia dengar?  Telinganya tidak salah dengar, kan?
Melihat senpainya tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mendengar ide cemerlang Naruto, pemuda Uzumaki itu kembali menjelaskan, “Game erotik untuk pasar pemain di bawah umur sekarang sangat menjanjikan,” Naruto memajukan tubuhnya, ia tersenyum bak om-om mesum yang sedang melihat mangsanya. “Kita akan menjajaki posisi teratas panggung dunia erotika! Setelah itu kita akan mendapat penghargaan dari kerja keras kita! Benar-benar menakjubkan, bukan?”
Menakjubkan apanya, hah?
Sasuke tersenyum hambar. Ekspektasi yang baru saja ia gantungkan pada pemuda kuning Uzumaki itu melebur berkeping-keping.
Kouhai brengseknya itu akan meyeretnya ke dalam dunia kebejatan.
Sekarang apa yang harus ia lakukan?
Tiba-tiba saraf otaknya mengingat Haruno Sakura yang menawarkan untuk menyembuhkan penyakit hikkikomorinya.
Jalan terang satu-satunya yang ia miliki.
Tidaktidaktidaktidak.
Sasuke akan melanjutkan proyek membuat game bersama Naruto walaupun pekerjaannya dianggap kriminal.
Yah, ini semua demi harga dirinya untuk menghindari Haruno Sakura dan proyek penelitiannya yang menganggu itu.
.
.
.
.
To Be Continue...

FF - Naruto - SasuSaku - Oh! Mr. Hikkikomori [Chapter 4]

By : Lidatan
Sabtu, 18 Juni 2016
1
 Oh! Mr. Hikkikomori
Vanille Yacchan
All Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
...
 [Chapter Three : Regret Tears, Suicide, and Message]
...
Warning : OOC SASUKE.
.
.
Jika salah satu saudaramu bertanya, apa sih yang paling menyebalkan di dunia ini? Mungkin di antara beberapa orang akan menjawab hal yang paling menyebalkan adalah kegiatan menunggu. Yeah, menunggu merupakan rutinitas yang kerap kali membuat kita gelisah, emosi, berpikiran pesimis, apalagi orang yang kita tunggu tidak datang tepat waktu rasanya ingin sekali menampar wajahnya dan mengatakan 'berhentilah membuatku menunggu'.

Tetapi, kategori menunggu bukan sesuatu hal yang paling dibenci oleh pemuda kuning yang kini melotot ngeri ke arah komputer layar flatnya.

Uzumaki Naruto dan ketololannya adalah sebuah bukti nyata bahwa pemuda kuning itu sangatsangatsangat membenci dirinya yang begitu tergesa-gesa. Baru saja pemuda Uzumaki itu berniat memformat USB flashdisk miliknya, tetapi karena dirinya yang bisa dibilang terlalu mempercayakan insting daripada otaknya, ia hanya asal menceklis kotak dialog yang tiba-tiba muncul di layar komputer dan mengklik button OK. Alhasil, pemuda kuning itu tiba-tiba menyadari bahwa ia begitu tolol!

Kenapa?

Karena Naruto telah berhasil—atau tak sengaja—memformat hardisk komputernya.
Segera, pemuda Uzumaki itu mencoba menekan shortcut yang tersedia di keyboard guna menghentikan proses pembersihan data. Tetapi apa yang ia dapat? Komputer layar flatnya sama sekali tak merespon. Ia menggebrak keyboard, rasa frustrasi menjalari otaknya.

Akh! Semua data-dataku telah lenyap! teriak batinnya histeris.

Mungkin, jika kalian dihadapkan dengan situasi seperti itu, kalian akan menangis tersedu-sedu dan berteriak sekencang-kencangnya atau lebih buruknya kalian akan memecahkan salah satu barang, baru akan merasa puas.

No-no! Hal yang seperti itu pasti tidak akan mungkin terjadi. Karena Uzumaki Naruto adalah lelaki kuat. Pemuda itu hanya mengutuk ketidakjeliannya yang benar-benar buruk.

Naruto menghela napas lemah, otaknya mulai berpikir apakah kejadian ini merupakan karma yang telah ia lakukan terhadap senpainya? Balas dendam, ya, balas dendam karena senpainya telah melecehkan Mikarin tersayang. Pemuda kuning itu memutar tubuhnya dengan kursi putar, ia menatap nanar ke arah figur gadis maid robo—Mikarin—yang ia letakkan di lemari sudut ruangan.

"Apa yang harus ku perbuat, Mikarin?" bisiknya lemah.

Oh, ayolah Naruto! Kau seharusnya jangan mengajak sebuah boneka robo bicara. Tentu saja, karena ia hanya seonggok karet yang dibentuk menyerupai seorang gadis maid robo. Pastinya ia tak akan mau repot-repot merespon pertanyaan bodohmu.

Tetapi karena Naruto sudah menganggap Mikarin benda hidup, setiap ia berkeluh kesah satu-satunya orang—benda—yang paling tepat mendengarkan curahan hati sang Uzumaki muda ini adalah gadis maid robo miliknya.

Pemuda kuning itu menghela napas lagi, ia hendak bangkit dari duduknya, tapi tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang merangkul pundak tegasnya itu. Alhasil, pemuda kuning itu terhentak di atas kursinya yang empuk.

"Moshi-moshi, Naru-kyuun~~!" seru sebuah suara centil menembus indra pendengaran Naruto. Pemuda itu segera menoleh dan mendapati seorang gadis dengan perawakan yang sama seperti boneka maid robo miliknya keluar dari layar flat komputer yang kini menggelap.

Ya, itu kenyataan. Apa perlu diulang? Seorang gadis dengan perawakan yang sama seperti boneka maid robo miliknya keluar dari layar flat komputer yang kini menggelap.

Uzumaki Naruto tidak hanya penderita akut delusif tetapi ia juga penderita akut nijikon. Pemuda kuning itu terlalu sering mengandai-andai jika Mikarin memang nyata, dan tak dapat di duga sel-sel saraf di otaknya itu mampu merefleksikan figur gadis maid robo yang dicintainya itu benar-benar menjadi nyata—tentu saja hanya ia yang dapat melihat Mikarin.

"Nee, Naru-kyuun, kau ada masalah?" gadis imajinasi Naruto itu bertanya, sepertinya Mikarin menyadari Naruto terlihat tak seperti biasanya.

Naruto menundukkan wajah, aura gloomy terpancar di seluruh tubuhnya, "Semua game yang memuat dirimu, beribu-ribu manga online yang ku download, ero game yang belum kumainkan, link bookmark yang kusimpan, musik anime, data-data dan semua password akun milikku lenyap karena kebodohanku!" jeritnya histeris.

Mikarin mendekap erat bibirnya sesaat, bola mata besarnya yang berbeda warna—jade dan aqua blue—itu terbelalak ngeri, "Mikarin tak tahu isi semua data-data di komputer itu sebegitu penting untukmu, Naru-kun," sahut Mikarin parau. Kini gadis itu menitikkan air matanya, hati gadis itu serasa tercabik-cabik ketika menatap Naruto bersedih.

Mikarin mengulurkan kedua tangannya, menyentuh erat kedua bahu lebar Naruto, "Jangan khawatir Naru-kun. Kau tidak akan sendirian lagi, bukankah Mikarin akan ada untukmu ketika kau sedang susah?"

Pemuda Uzumaki itu megangkat wajahnya, menatap Mikarin yang masih memasang wajah sedih. Ia merasa sedikit bersalah membuat gadis imajinasinya itu menangis demi kebodohannya yang di ambang batas, iris turquoisenya itu berkilat cerah. Sebuah senyuman terpatri di wajahnya. Langsung saja, pemuda kuning itu memeluk erat Mikarin yang selalu muncul di saat kesedihan melanda dirinya.

"Arigatou, Mika-chan."
"He-he-he... Mikarin senang kalau Naru-kun senang," balas gadis itu sembari tangan mungilnya mengelus helaian rambut pemuda kuning itu lembut.
"Mungkin aku mendapat karma karena membiarkan senpaiku kelaparan," tiba-tiba Naruto berujar, ia melepaskan pelukannya. Kontan saja membuat Mikarin mengerutkan keningnya bingung.
"Naru-kun, memangnya karma bisa membuat komputermu seperti itu, ya?" tanya Mikarin sembari dengan pose berpikirnya.

Ah, seketika otak pemuda kuning itu ingat. Ketika ia berhasil membuat gadis imajinasinya itu menjadi nyata, Mikarin muncul dengan sifat polosnya yang membuat Naruto kelimpungan.

"Setahuku, bukankah itu karena kebodohanmu? Ya, kan? Ya, kan?" imbuh Mikarin
Kontan saja, kalimat itu membuat Naruto seperti dihantam batu besar. Kau terlalu jujur Mika-chan, sahut batinnya merana. Kini pemuda kuning itu tersenyum hambar.
"Ah, apakah ucapan Mikarin membuatmu tak senang?"

Naruto hanya merespon dengan tawa hambar yang dibuat-buat. Mikarin nyengir lebar, merasa tak berdosa dengan ucapannnya barusan. Benar-benar cewek naif.

"Mungkin kau bisa mengundang senpaimu itu makan malam di apartemenmu, Naru-kun! Kudengar dari paman Televisi, ia frustrasi kehabisan uang!" sembur Mikarin, kini gadis itu berjalan menuju lemari berisi tankouban-tankouban manga. Ia mengambil salah satu manga dari lemari dan membukanya. Sebuah senyuman terlukis di wajah gadis itu.

Kening pemuda kuning itu mengerut bingung. Bukan! Bukan bingung karena senpainya itu kehabisan uang, hal itu sih sudah biasa. Tapi, karena paman Televisi! Sejak kapan senpainya itu punya kenalan? Dan memangnya ada di dunia ini orang tua dengan rela menamakan anaknya Televisi? Memikirkannya saja sudah membuat gerigi-gerigi otak pemuda kuning itu hampir rusak.

"Ee..to… paman Televisi?" ulang Naruto sembari menggaruk pipinya yang tak gatal. Mikarin yang masih sibuk dengan manganya hanya merespon dengan anggukan singkat.

Kontan saja, ruangan apartemen kecil itu diselimuti oleh gelak tawa Naruto, "Paman Televisi? Hahahaha… Sasuke senpai punya teman aneh! Hahaha…"
Mikarin menjauhkan manganya, menatap Naruto heran. Apa yang lucu dari paman Televisi? Pikirnya. Mengangkat bahu, gadis itu membiarkan Naruto terbuai dengan lelucon garingnya. Mata beda warnanya kembali menatap gambar hitam putih yang terpampang di hadapannya. Sedetik kemudian sebuah tawa halus terdengar dari mulut gadis imajinasi itu.

"Haha… paman Tele…haha…visi…hahaha…" pemuda kuning itu masih saja tergelak dengan lelucon garingnya. Sungguh Naruto, selera humormu cukup buruk.
"Mati aku… mati aku… mati aku… mati aku… mati aku…"

Di sepanjang jalan Sasuke tak henti-hentinya menggumamkan kalimat itu. Pemuda bermarga Uchiha ini sangat kacau. Setelah akal sehatnya berniat untuk menjadi manusia berguna, ternyata takdir buruk masih menghadangnya. Kenapa harus ada gadis itu di sana! Batinnya berteriak histeris. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Jika bertemu dengan gadis itu lagi. Ia tak tahu bagaimana menghadapinya nanti. Mungkin lebih baik ia tetap mengurung dirinya di apartemen hingga membusuk. Ya—mungkin itu cara yang lebih baik, pikirnya, kemudian ia menyeringai aneh. Tanpa sengaja dua pasang sejoli yang melintas melihat senyumnya itu. Mereka bergidik dan langsung berlari menjauh.

Sasuke yang melihat itu hanya menghela napas pasrah.

Pasti mereka menganggapku penguntit! Ah! Terlalu lama menjadi hikkikomori membuatku tak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum dengan normal. Pikirnya frustrasi.

Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju apartemen dan menutupi setengah wajahnya dengan syal hitam yang saat ini ia kenakan.

"Kenapa waktu terasa sangat lamban!" protesnya, karena dari tadi kecepatan kakinya melangkah sama seperti binatang berlendir yang jalannya lamban.
BAAM

Pemuda Uchiha itu menggebrak pintu apartemen sembari berteriak, "DUNIA YANG LEBIH MENYENANGKAN HANYA ADA DI DALAM APARTEMEN INI!"

Segera Sasuke melangkah masuk dan menutup pintu itu dengan keras. Ia tak peduli jika tetangga apartemennya terganggu, yang lebih penting ia harus menyelamatkan dirinya. Dunia luar itu sangat kejam.

Pemuda itu terduduk dan menyandar di pintu. Ia mendesah sembari mengacak rambut buntut ayamnya.

Oh, ayolah! Seperti itu saja kau sudah menyerah? Tiba-tiba Sasuke mendengar sebuah suara di dalam dirinya, ujian hidup yang sebenarnya masih terbentang jauh. Kalau kau sudah menyerah seperti itu, lebih baik kau mati saja sana!

Ah! Benar! Untuk apa ia terus-terusan hidup? Manusia lemah dan rapuh seperti dirinya memang tak pantas untuk bersaing di dunia ini. Lagipula jika ia mati, populasi manusia tak produktif akan sedikit berkurang. Pemikiran yang sangat sempurna.

Sasuke bangkit dari duduknya. Ia mengambil sebuah pestisida, pencair cat, dan memungut kecoa mati yang tergeletak di samping bajunya di lantai.

"Setelah aku mencampur bahan-bahan mematikan ini, lalu meminumnya secara perlahan, pasti rasa sakit menuju kematian itu tak terasa, he…he…he," kekehnya.

Sasuke mulai mencampur semua bahan percobaan bunuh dirinya ke dalam gelas sembari tersenyum mengerikan—layaknya ilmuan gila yang ingin menghancurkan dunia.

… Selesai.

Iris onyxnya memperhatikan gelas itu. Kecoa mati mengambang di atas cairan bening yang baunya cukup menyengat. Apa benar ia cukup waras ingin meminumnya? Tidak! Tidak! Sasuke sekarang memang dalam keadaan sangat sinting!

Dengan ekspresi datar ia mulai menjulurkan tangannya, mengambil gelas yang berada di atas meja. Sasuke menelan salivanya. Setengah bagian dirinya berteriak, 'kau masih bisa kembali, kau masih bisa memperbaiki hidupmu yang menyedihkan itu. Jadi jangan sia-siakan hidupmu!' setengah bagian dirinya yang lain memberontak, 'mati saja sana! Memangnya kau mau seumur hidup tak punya pekerjaan? Jadi perjaka busuk, menambah beban keluargamu saja! Dasar manusia menyedihkan!'

Ia menggelang cepat. Mana yang harus ia pilih? Akkh! Otaknya menjadi gila! Bunuh diri saja susahnya minta ampun! Sasuke menarik napas dalam, pemuda itu sudah memprediksi akan jadi seperti ini. Seolah meblokir semua hasutan yang mengganggunya, pemuda itu menganggukkan kepala, lalu menutup rapat kelopak matanya. Sasuke dengan tegas kembali pada keputusan awal, 'lebih baik mati saja!'

Ini akan menjadi perjalanan yang sangat singkat, bisa saja di kehidupan keduanya nanti, ia akan menjadi bos besar atau yang lebih buruknya ia tetap bereinkarnasi menjadi seorang hikkikomori busuk.

Tak apa! Setidaknya ia pernah berusaha mengubah takdirnya dengan cara mengakhiri hidupnya lalu bereinkarnasi.

Oh! Ayolah Sasuke! Memangnya kau hidup di zaman apa? Pikiranmu sekolot itu? Memangnya ada di dunia ini reinkarnasi? Bisa saja kau menjadi arwah gentayangan yang setiap malam mengetuk pintu rumah orang tuamu dan meminta dicarikan pekerjaan. Semuanya jadi tak masuk akal!

Sasuke mendesah, ia mulai mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Sensasi pestisida dan pencair cat menembus penciumannya.

Ini buruk sekali!

Tiga senti…

Dua setengah senti…

Ekspresi wajahnya mulai mengkerut. Ah! Apakah ia harus benar-benar mati?

Dua senti…

Bagaimana dengan orang tuaku nanti setelah mendengar kematian anaknya? Pikirnya kalut.

Satu setengah senti…

Apakah ia harus mati dengan cara tak elit seperti ini? Ayolah Sasuke, jika kau memang benar-benar berniat ingin mati, cukup teguk racunmu, seketika rohmu melayang menuju alam baka, kemudian selesai.

Satu senti…

Sasuke meringis, ia menutup hidungnya. Sasuke hendak meneguk racunnya dan bersamaan dengan itu pintu depan terbanting keras.

"SENPAI!... UWAAAAAH!"

Naruto bergegas menyingkirkan gelas di tangan Sasuke, "Apa yang kau lakukan? Apa otakmu sudah tak bekerja lagi? Masa kau mau makan itu—" pemuda kuning itu menunjuk sang kecoa mati yang menempel di dinding, pemuda Uzumaki itu menggigil karena ngeri.

Sasuke tertawa hambar, kemudian menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Ia mulai menangis keras.
Naruto mengerutkan keningnya, "Senpai! Apa kau sebegitu frustrasinya karena tak punya uang hingga ingin memakan itu? Seharusnya kau bilang padaku kalau kelaparan! Di apartemen masih ada sepuluh dus mie ramen instan."

Ah! Rupanya ada yang salah paham!

"Senpai!" panggil Naruto, Sasuke malah mengeraskan tangisannya.

Dasar baka! Baka! Batin Sasuke berteriak. Kemudian Sasuke mengangkat wajahnya, ia menoleh ke arah Naruto. Air matanya dengan deras mengalir, "Apa yang kau lakukan! Padahal sebentar lagi aku sampai di alam baka!"

Turquoisenya itu membesar, "APA?" sergahnya, kemudian bau pestisida dan pencair cat menembus indra penciuman pemuda kuning itu. Ekspresinya menjadi geram. Sungguh Naruto, responmu lamban sekali.

Naruto mengulurkan tangannya dan menyentuh bahu Sasuke, "Apa yang kau lakukan senpai? Jika kau mati, apa yang harus kujelaskan dengan polisi ketika meminta keterangan kematianmu? La-lalu jika aku dituduh menjadi tersangka, bagaimana hidupku dipenjara nanti? Kehidupanku sebagai penikmat 2D berakhir!" sergahnya sembari mengguncang-guncang tubuh Sasuke.

Sasuke dengan cepat menyingkirkan kedua tangan Naruto di bahunya, "Kenapa kau malah mengkhawatirkan dirimu sendiri? Kau lebih senang kalau aku mati jauh-jauh dari apartemen ini, begitukah?"
"Bu-bukan begitu!" sahutnya kemudian, "hanya saja—aku tak pintar kalau berurusan dengan polisi. Aku jadi gugup, tahu!" semburnya.
"Aku tidak peduli! Yang jelas, kau sudah menghancurkan ritual pembebasan roh di dalam tubuhku!"
Naruto tersenyum kecut, pemuda kuning itu berpikir mental senpainya ini benar-benar sudah tak bisa diselamatkan! Ia mendesah, "Lebih baik kau ke apartemenku saja senpai!"
Satu alis Sasuke terangkat, "Hah?"

Tanpa basa-basi Naruto menarik senpai menyedihkannya itu ke apartemen miliknya.
"Oh, jyadikwaubwetmu dwengan gwawis witu?"
Sasuke meringis jijik, "Telan dulu makananmu ketika kau hendak bicara! Menjijikan!" lalu Sasuke menyesap Oolong tea perlahan, ah~ sekarang dirinya lebih tenang.

Pemuda kuning itu menelan makanannya, seketika ia tersedak, segera meraih minuman di hadapannya, lalu meneguknya dengan cepat, "Gwuah! Ahahaha… gomen… gomen…"
"Kau menjijikan!" gumam Sasuke menatap Naruto datar.

Kau lebih menjijikan senpai, balasnya dalam hati. Naruto tak mau mencari masalah dengan senpainya sekarang. Bisa-bisa nanti ia jadi korban pembunuhan setelah apa yang ia lihat tadi, "Jadi, kau bertemu dengan gadis itu?" ulangnya lagi mengklarifikasi.
"Hn! Bukankah aku sudah menjelaskannya tadi? Gadis kemarin, yang melihatku hendak membuang boneka laknatmu itu!" sahutnya sembari memejamkan matanya sesaat.

Entah kenapa ada perasaan senang di dalam diri Naruto. Ternyata Sasuke senpai kena batunya!

"Kenapa kau terlihat senang?" sembur Sasuke yang sadar akan ekspresi pemuda kuning itu. Segera Naruto mengelak, "Ti-tidak! Aku hanya berpikir, mungkin saja gadis itu ditakdirkan menyembuhkan penyakit hikkikomorimu itu, senpai!"
"Kau mengigau ya?" sahut Sasuke dengan enteng, "Di dunia ini sudah menjadi aturan kalau mengigau itu hanya saat tidur saja. Jadi enyahkan pemikiran itu dari otak dangkalmu!"
Naruto terpancing emosi, rasanya ia hendak sekali merobek-robek mulut senpainya yang tak ada manis-manisnya itu. Dengan segera pemuda kuning itu ingat, hari ini ia tidak boleh marah. Hari ini hari spesial untuk menyenangkan hati senpainya itu. Naruto tertawa tertahan, "Benar juga katamu, sen-pai!"

Sasuke medesah, ia tak sadar jika ada aura membunuh menguar di tubuh Naruto. Onyxnya itu memandang Naruto yang menunduk, pemuda Uchiha itu jadi bingung. Seharusnya yang di sini menderita itu dirinya, kenapa pemuda kuning itu yang terlihat nampak menderita? Dasar Sasuke bodoh! Naruto terlihat menderita karena memendam amarahnya!

Lalu, onyxnya mengarahkan atensinya ke arah komputer layar flat milik pemuda kuning itu.

Gelap.

Hari ini ia tak mendengar bunyi berisik dari soundtrack anime yang diputar Naruto. Otaknya yang pintar itu menyimpulkan, jadi karena 'itu' ya?

"Hei! Ada apa dengan komputermu?"

Naruto mengangkat wajahnya perlahan, tak disangka ekspresinya langsung memucat—layaknya jasad tak bernyawa. Sepertinya Sasuke sudah salah membahas mengenai hal itu, dengan kikuk ia menyela, "Ah, lupakan saja!"

Setelah itu keheningan melanda, Naruto masih berkutat dengan kesedihannya, sedangkan Sasuke ia merebahkan tubuhnya di lantai tatami. Ia mendesah, otaknya berpikir, ternyata keluar dari dunia hikkikomori itu sangat sulit.

"Hei, Naruto?" panggil Sasuke, Naruto dengan wajah merana menatap senpainya, ia bergumam 'ada apa?'
"Seandainya keadaan Tokyo tidak seperti sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan tetap berimajinasi dengan karakter tak nyata di otakmu?"
Kening Naruto mengerut, ada apa tiba-tiba senpainya bertanya seperti itu? Tidak biasanya. Lalu ia mengerang, "Entahlah! Mungkin tidak," ia mengangkat bahu, lalu melanjutkan, "ya, mungkin aku akan membantu orang tuaku di desa dan melakukan suatu perubahan."
Sasuke mendengus mendengar jawaban Naruto, "Baguslah kalau begitu," sahutnya simpel, seketika membuat pemuda kuning itu bingung luar biasa, "Apa maksudmu, senpai? Kau hanya mengetesku ya?"
"Tidak! Aku hanya terlintas berpikiran seperti itu. Ternyata jawabanmu cukup keren juga," Sasuke tertawa kecil, Naruto mendesah. Pemuda kuning itu balik bertanya, "Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan, senpai?"
"Hmmm… mungkin aku akan tetap menjadi hikkikomori. Karena pada dasarnya, aku tak tahu bagaimana cara mengubah kehidupanku," sahutnya sembari tersenyum kecut.
"Senpai! Kau menyedihkan sekali!"
"Hn! Aku tahu itu!"

DRRRRTTTT DRRRRTTTT

Tiba-tiba ponsel Sasuke bergetar, pemuda Uchiha itu merogoh kantung celana jeansnya. Naruto yang berada di seberang meja nampak penasaran, "Langka sekali aku melihat kau menerima pesan, senpai!"
"Kau penguntit ya? Kenapa kau tahu aku jarang menerima pesan?"
Naruto meringis mendengar tuduhan senpainya itu, "Kau gila ya? Kau itu hikkikomori, bukankah kenalanmu saat SMA hanya aku dan si gadis menyebalkan itu? Dan aku yakin temanmu saat SMP dan SD tak akan mengingatmu."
"Kau sok tahu!" balasnya dingin.
Segera Sasuke membuka ponsel layar sentuhnya, kemudian membuka sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Seketika onyxnya itu terbelalak tak percaya.

From : 0777xxxx
Dear Uchiha Sasuke-dono
Kau telah terpilih menjadi kandidat terbaik sebagai projek penelitianku. Jika kau ingin 'Hikkikomori'mu disembuhkan, temui aku di Sanda Park, jam 9 malam.
PS : Kau bisa sekalian ambil CV yang tertinggal di perpustakaan

Haruno Sakura

Ini tak salah lagi! Pesan ini dari gadis itu!

Bagaimana ia tahu nomor ponselku? Pikir Sasuke kalut. Ah! Ya! Pemuda Uchiha itu ingat, ia menuliskan nomornya di belakang kertas CV miliknya.

Lalu bagaimana gadis ini tahu tentang penyakit hikkikomoriku? Apakah gadis ini peramal? Sasuke menggeleng cepat, tak mungkin! Tampang peramal biasanya agak mengerikan. Sepertinya pemikiran aneh Naruto menjadi kenyataan.

Lalu apa yang harus ia lakukan? Pilihan pemuda itu hanya ada dua ; datang ke tempat perjanjian atau acuhkan saja gadis itu.

Akkh... memikirkan hal itu membuat otaknya hampir meledak, sedangkan Naruto, ia menaikkan satu alisnya ketika melihat kelakuan senpainya itu tiba-tiba agak sinting.

"MEMBINGUNGKAAAAANNN!"

Sontak apartemen kecil itu diisi teriakan Sasuke yang benar-benar sudah sangat kacau.
.
.
.
.
To Be Continue...

Maaf Baru posting sambungan FF absurd ini. Kalian bisa berkunjung ke akun FFn saya, author penname saya Vanille Yacchan

FF - Naruto - SasuSaku - Oh! Mr. Hikkikomori [Chapter 3]

By : Lidatan 0

- Copyright © 2013 Lidatan - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -