Recent Blog post

Tampilkan postingan dengan label Naruto. Tampilkan semua postingan

Oh! Mr. Hikkikomori
Vanille Yacchan
All Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
...
[Chapter Four : Encountered, Liar, and a Job]
...
Warning : OOC SASUKE.

Sasuke mengacak-ngacak rambut ayamnya frustasi. Tangannya bergerak merogoh kantung jeansnya. Membuka ponsel layar sentuh, dan sekali lagi membaca pesan yang dikirim oleh si gadis berambut merah muda.

From : 0777xxxx
Dear Uchiha Sasuke-dono
Kau telah terpilih menjadi kandidat terbaik sebagai proyek penelitianku. Jika kau ingin ‘Hikkikomori’mu disembuhkan, temui aku di Sanda Park, jam 9 malam.
PS : Kau bisa sekalian ambil CV yang tertinggal di perpustakaan J

Haruno Sakura

Hell!! Hantu apa yang telah merasuki dirinya? Sekarang ia benar-benar  memenuhi permintaan si gadis merah muda—Haruno Sakura. Setelah memberitahukan pesan mencurigakan itu pada Naruto. Pemuda pirang itu tanpa panjang lebar langsung menendangnya pergi.

Dasar kouhai tak berperasaan, batinnya jengkel.

Sebelum menutup pintu apartemen, pemuda kuning sialan itu mengatakan, ‘tak baik membuat gadis manis menunggu.’ Sasuke tak punya pilihan lain, ia bergegas mengambil jaketnya dan pergi. Sasuke bahkan terlalu bodoh sampai-sampai tidak mengecek masih pukul berapa waktu itu.

Sasuke mendengus. Onyxnya mengerling jam di ponselnya.

Pukul 9 tepat, great!! Di mana gadis pink itu sekarang?

Selama satu jam ia sudah menunggu. Berterima kasihlah dengan kebodohannya.

Sasuke mengembalikan ponsel di kantung jeansnya. Ia duduk di bangku taman sedikit gelisah.

Pemuda pantat ayam itu menumpu wajahnya.

Hening.

Kemudian sebuah pemikiran aneh menelisik otaknya.

Apa dia benar-benar akan datang menemuiku? Atau ini hanya pesan iseng untuk mengerjaiku, mungkin?

Keringat dingin bermunculan di jidat Sasuke. Kalau dipikir-pikir ini pertemuan ketiga kalinya dengan si gadis. Ia hanya mengetahui beberapa informasi. Pertama, gadis belia berambut merah muda itu bernama Haruno Sakura. Kedua, Haruno Sakura bekerja di sebuah perpustakaan kota. Selebihnya Haruno Sakura adalah gadis asing yang tak sengaja mengetahui aib memalukan Sasuke.

Bagaimana bisa!?!

Lalu…

Apa maksud Haruno Sakura mengenai proyek penelitian? Apa semacam proyek liburan musim panas anak SMA? Kemudian aku yang dijadikan sebagai kelinci percobaan, begitu? Heh… benar-benar gadis sialan! Pikir pemuda raven itu jengkel.

Atau… jangan-jangan gadis itu mata-mata dari sebuah organisasi rahasia yang ingin menjebakku tetap menjadi hikkikomori selamanya, teriak batin Sasuke ngeri.

“Tidaktidatidaktidaktidaktidak.”

Pemuda berambut buntut ayam itu bergumam sembari mengacak rambutnya. Kalau begitu ia seharusnya tidak membiarkan nalurinya yang menyedihkan itu menuntun semua sel-sel otot geraknya menuju taman Sanda untuk memenuhi permintaan gadis merah muda itu. Ia harus secepatnya pergi dari sini!

“Apanya yang tidak?”
Secepat kilat Sasuke memalingkan wajahnya. Onyxnya membulat.
Eeeek!! Ia benar-benar dataaaang!! Chikusoooo!!
Terlambat sudah.
Di sana.
Gadis berambut merah muda—Haruno Sakura—dengan wajah bingung menatap Uchiha Sasuke. Emeraldnya menyipit tajam, “Kenapa kau melarikan diri dari interview? Padahal  tidak banyak pelamar di sana,” langkah kakinya yang kecil itu menuntunnya ke samping pemuda Uchiha yang kini tak bisa berkata apa-apa. Haruno Sakura menghenyakkan pantatnya di bangku taman, “Tapi tak masalah.”
Sasuke yang tak biasa didekati oleh orang asing sedikit tersentak.
“Karena aku tahu cara untuk keluar dari kehidupan hikkikomori menyedihkanmu itu,” ucapnya percaya diri, sebuah senyuman manis terbit di bibir mungilnya.
Sasuke benar-benar tercengang mendengar ucapan Haruno Sakura.
Apa-apaan gadis ini? Dia pikir mudah untuk menyembuhkan penyakit hikkikomoriku? Apalagi gadis ini dilihat-lihat dari postur tubuhnya masih bocah.  Pikirnya sinis.
Sasuke mendengus. Lalu perhatiannya tertuju ke sebuah papan peringatan yang tertancap di antara semak-semak. Spontan jarinya menunjuk ke arah papan peringatan itu.
“Hati-hati orang mesum bebas berkeliaran!! Gadis belia sering diserang di area ini. Apa kau yakin aman memanggil orang mencurigakan sepertiku?”
Emerald itu berkedip. Kemudian dengan wajah tanpa dosa Haruno Sakura membuka mulutnya, “Sasuke-kun kau seorang penjahat?”
BRAAK!!
Spontan pemuda Uchiha itu bangkit dari duduknya, “Tidak! Apa kau bodoh?!?” ia benar-benar tidak terima dicap sebagai penjahat. Hell!! Walaupun  Sasuke menderita hikkikomori, dalam akal sehatnya ia tidak akan mungkin melakukan tindakan asusila. “Dan… jangan seenaknya memanggilku ‘Sasuke-kun’!?!?”
Kemudian sebuah tawa mengalun di bibir gadis merah muda itu. Sasuke kembali duduk di bangku taman. Menahan kejengkelannya terhadap Sakura.
“Tenang saja, rumahku dekat dari taman, kok.”
Tiba-tiba sebuah pertanyaan yang sedari tadi menjadi perdebatan di dalam otaknya terlintas di pikiran pemuda Uchiha itu, “Apa maksudnya proyek penelitian ini? Aku yakin kau hanya main-main, kan?”
Gadis merah muda itu mendesah, “Aku benar-benar serius. Karena aku berhutang sebuah permintaan dari seseorang.”
Kening Sasuke mengerut dalam, “Haaah!?!?”
Emerald Sakura memandang lurus, ekpresi cerianya berubah menjadi sendu,  “Karena aku ini tak lain hanya peganggu bagi orang itu. Makanya… aku pikir, aku ingin sesekali menolongnya.”
Onyx Sasuke tak lepas dari Sakura. Ia mendengarkan dengan cermat. Walaupun sedikit bingung ke mana arah pembicaraan Sakura.
“Jadi, jika kau ingin mengetahui jalan keluar dari kehidupan hikkikomori, bergabunglah dalam proyek penelitianku,” emeraldnya memandang Sasuke penuh harap.
Pemuda Uchiha itu menggelengkan kepalanya lalu mendengus, “Heh… asal kau tahu saja, aku bukan hikkikomori…”
“Bohong!” Sela Sakura cepat. “Ketika ibuku menawarkan selebaran ajakan sosialisasi, kau terang-terangan membeberkan rahasia memalukanmu itu!”
Kontan saja Sasuke bagaikan tertancap anak panah tak terlihat setelah mendengar kalimat tak terduga dari bibir Sakura.
Jadi, wanita sialan itu ternyata ibunya gadis aneh ini? Teriak batinnya histeris.
Lalu, kenapa pada malam kejadian laknat itu Sakura ada di komplek apartemennya?
Seakan mengerti ekspresi bingung Sasuke. Sakura mencoba menjelaskan, “Ibu terlalu lama mengobrol dengan calon kliennya. Aku bosan, jadi memilih pulang saja,” lalu ia terkikik. “tahu-tahu aku disuguhkan dengan kejadian memalukan. Beruntung sekali aku memilih pulang waktu itu.”
Akkhhh!!
Sasuke mengerti apa maksudnya. Ternyata kami-sama membuatnya membayar apa yang telah ia lakukan. Kembali bertemu dengan gadis aneh berambut merah muda, bahkan gadis ini dengan percaya diri menawarkan proyek secara gratis untuk menyembuhkan penyakit hikkikomorinya. Great!! Fabulous!! Amazing!! Bolehkah sekarang ia menggali lubang kuburannya sendiri?
Sasuke mendadak bangkit dari duduknya—lagi. Ia harus menjelaskan sesuatu. Sesuatu yang dapat mengenyahkan pikiran dari otak gadis itu mengenai dirinya yang menderita hikkikomori.  
“A-aku… sebenarnya aku hidup memang seperti hikkikomori. Tapi…” Sasuke memutar gerigi otaknya yang pintar, mencoba mencari sebuah alasan yang logis. “Kau tahu… aku berbeda dari rata-rata hikkikomori lainnya.”
Satu alis Sakura terangkat, “Berbeda bagaimana?”
Sialan!! Bocah merah muda ini benar-benar tidak bisa dibohongi!!
“Uhhh… kau tahu… semacam kantor kecil yang berada di rumah. Yaa!! Aku dipaksa bekerja di rumah oleh perusahaan…”
Tidak masalah!! Katakan apa saja agar gadis ini benar-benar percaya padamu!!
Sakura kelihatannya berpikir sejenak. Lalu emeraldnya memandang onyx Sasuke, “Memangnya jenis pekerjaan apa yang kau kerjakan di rumah?”
Sasuke tertawa gugup, “Ak-aku terkejut kau menanyakan hal itu,” onyxnya berputar-putar, sekali lagi mencoba memutar otaknya. Ia berharap Haruno Sakura tidak menyadari ekspresi gugupnya. “Aku seorang kreator,” lanjut Sasuke.
Hening.
Sakura terdiam, sepertinya mencoba mencerna ucapan yang baru saja dikatakan Sasuke. Ekspresi datar Sakura terus terang saja membuat Sasuke tambah gugup. Tiba-tiba gadis merah muda itu tersenyum mengejek seakan tidak percaya, “Heeeeee… jadi, apa yang kau buat?”
Sial!
Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Sasuke. Ia harus mencari alasan lagi.
Benar!! Ucapkan apa saja yang terlintas dipikiranku.
“K-kau tahu… aku bekerja di bidang revolusioner. Y-ya!! Aku bekerja membuat software komputer. Seperti Bill Gates atau Linus Trovald. Orang berkulit putih yang menguasai dunia teknologi, ha-ha-ha,” Sasuke tertawa hambar sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
Bagus! Sekarang kita lihat bagaimana reaksi gadis ini.
Krik… krik…
Emeraldnya menatap Sasuke bosan. Seakan-akan Sasuke baru saja mengisahkan cerita yang tidak masuk akal.
“Heeeee~~~~”
Sasuke membeku.
Apa-apaan gadis ini!?!
Semua ucapan yang dikatakan Sasuke sepertinya tidak membuat Sakura percaya. Pemuda Uchiha itu berpikir ia baru saja membuat kehidupannya yang tenang mendadak dihujani meteor.
Benar-benar kacau!
…
…
“Jadi, kau mencoba mengesankan seorang gadis manis dan setelah mengatakan kebohongan itu kau melarikan diri?”
TAAK
Naruto meletakkan dua gelas kopi di meja. Salah satunya ia berikan pada Sasuke yang kini diselimuti aura gloomy. Sepertinya Sasuke menyesali apa yang telah ia katakan. Seandainya ia tidak memenuhi permintaan Sakura. Semua kebohongan itu pasti tidak akan pernah terjadi.
Sial.
Naruto mendesah. Apa susahnya sih mengatakan kalau Sasuke benar-benar menderita hikkikomori? Lagipula gadis yang diceritakan senpainya itu menawarkan jasa yang menguntungkan bagi pemuda berambut buntut ayam ini.
Terkutuklah Uchiha dan harga diri mereka yang menyebalkan itu! Pikir Naruto jengkel.
“Senpai, kau benar-benar… tidak habis pikir,” Naruto mengeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Untuk memuluskan kebohonganmu itu aku akan membantumu, begitu?” lanjutnya sambil sesekali menyesap kopi panas buatannya.
“NARUTOOOOO!! TOLONG!! KAU SATU-SATUNYA ORANG YANG BISA MEMBANTUKU!!” Sasuke membungkukkan tubuhnya. Menghancurkan harga dirinya yang tinggi. Memohon pada kouhai berambut pirang yang sekarang ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
“Se-senpai kau tidak butuh merendahkan kepalamu jika menginginkan bantuanku,” Naruto tersentak sembari menenangkan Sasuke yang kelihatannya sudah mencapai batasnya.
Guuoooohh… ini semua kulakukan demi diriku sendiri Naruto. Aku yang memulai semuanya. Arrghhh… Kenapa aku harus mengatakan kebohongan besar seperti itu?
“Hmm… aku mengerti,” suara Naruto membuyarkan penyesalan inner Sasuke. Pemuda Uchiha itu menegakkan tubuhnya. Ia tidak tahu bagaimana membalas kebaikan kouhainya nanti. Membelikan sesuatu untuk Naruto? Hmm, itu tidak mungkin. Kita tahu Sasuke sekarang dilanda ambang kemiskinan.
“Karena kau mengatakan sebagai seorang kreator. Jadi, mari kita pikirkan jenis kemampuan apa yang dibutuhkan seorang kreator.”
Sasuke melongo, “Kemampuan?”
Naruto melirik Sasuke heran seakan senpainya itu benar-benar bodoh.
Rupanya hikkikomori sudah membuat otak pintarnya itu membeku, pikir Naruto kasihan.
“Sebagai kreator kau harus bisa menggambar, menggubah musik, dan menguasai bahasa pemrograman,” Naruto menjelaskan.
Sasuke mendesah pelan. “Semua kemampuan itu… tidak ada yang kukuasai. Kemampuan yang kukuasai hanya menjadi hikkikomori.”
Naruto meringis, “Sudah kuduga.” Kemudian ia tersenyum canggung. Tiba-tiba saraf di otak Naruto mendeteksi sebuah ide brilian, “Ah, mungkin kau bisa menulis karangan, senpai. Di dekat sini ada kelas menulis sastra. Kau bisa mendaftar kelas itu.”
“Uheeeeee~~~~ tidaktidaktidaktidaktidak,” Sasuke menolak sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “tidak ada gunanya!! Terakhir kali aku menulis ketika SMP. Betapa menyusahkan.”
CTAK
Perempatan sudut muncul di jidat Naruto. Ia sudah berusaha mencoba membantu. Tapi, apa yang ia dapat? Kelakuan Senpainya yang benar-benar membuatnya kesal.
Sialan kau Uchiha Sasuke!! Teriak inner Naruto kesal.
“Baiklah…” Naruto menghela napas pelan, tiba-tiba suasana berubah mencekam, “Apa kau ingin menjadi seorang kreator?” nada suaranya yang cempreng itu berubah serius. Mata birunya mendelik tajam ke arah Sasuke, giginya bergemeletuk menahan amarah, “Apa kau sungguh-sungguh mau melakukannya, huh?”
Sasuke bersusah payah menelan salivanya. Baru kali ini Sasuke merasa terancam dan yang lebih mengejutkan Naruto benar-benar berhasil membuat Sasuke ketakutan. Ha-ha dunia mungkin sebentar lagi akan berakhir. Dengan gugup pemuda raven itu membuka mulutnya, “Y-ya, tak masalah. Aku bisa menulis, Naruto!! Aku bisa membuat plot yang bagus!”
Inner Naruto menyeringai menang.
Gotcha!! Akhirnya!!
“Sungguh?” Aura mencekam itu luruh seketika. Pemuda kuning itu nyengir, “Bagus! Kalau begitu kita akan mengambil jalan sebagai kreator game!”
Hening.
Kemudian terdengar suara teriakan bak banshee dari mulut seorang Uchiha, “UOOOOOO!! SIALAN KAU LUAR BIASA NARUTO!!”
“Sudah… sudah… senpai…” Pemuda kuning itu berbisik mengingatkan Sasuke agar tenang. Kelakuan Sasuke luar biasa tidak terduga. Kemana perginya sifatnya yang biasanya terkontrol itu?
Setelah sedikit tenang, Sasuke kembali membuka mulutnya, “Jadi, game apa yang akan kita buat?”
“Ahh… sebelum itu,” mata biru Naruto menyipit tajam, “senpai, kau harus berjanji padaku.” Sasuke merespon dengan anggukan singkat.
“Jika kita tetap terus menjalankan proyek ini, mungkin kita akan banyak menumpahkan darah. Tapi aku tidak akan menginzinkan senpai berhenti setengah jalan,” air muka pemuda kuning itu mengeras, Naruto Uzumaki benar-benar serius.
“Yeah! Kau bisa menyerahkannya padaku. Aku akan baik-baik saja! Jika itu demi menjadi seorang kreator, aku akan melakukan apa saja. Aku berjanji, Naruto!!”
Naruto mengangguk-angguk sembari bergumam ‘bagus… bagus…’
“Jadi, jenis game apa yang akan kita buat?” sekali lagi Sasuke menanyakan.
Uzumaki Naruto tersenyum misterius, kelopak matanya menutup sesaat, seolah-olah memberikan efek dramatis. Kemudian turqouisenya itu menatap lurus onyx Sasuke, dengan ekspresi santai Naruto berujar, “Erotik!”
“Eh?”
Apa yang barusan ia dengar?  Telinganya tidak salah dengar, kan?
Melihat senpainya tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mendengar ide cemerlang Naruto, pemuda Uzumaki itu kembali menjelaskan, “Game erotik untuk pasar pemain di bawah umur sekarang sangat menjanjikan,” Naruto memajukan tubuhnya, ia tersenyum bak om-om mesum yang sedang melihat mangsanya. “Kita akan menjajaki posisi teratas panggung dunia erotika! Setelah itu kita akan mendapat penghargaan dari kerja keras kita! Benar-benar menakjubkan, bukan?”
Menakjubkan apanya, hah?
Sasuke tersenyum hambar. Ekspektasi yang baru saja ia gantungkan pada pemuda kuning Uzumaki itu melebur berkeping-keping.
Kouhai brengseknya itu akan meyeretnya ke dalam dunia kebejatan.
Sekarang apa yang harus ia lakukan?
Tiba-tiba saraf otaknya mengingat Haruno Sakura yang menawarkan untuk menyembuhkan penyakit hikkikomorinya.
Jalan terang satu-satunya yang ia miliki.
Tidaktidaktidaktidak.
Sasuke akan melanjutkan proyek membuat game bersama Naruto walaupun pekerjaannya dianggap kriminal.
Yah, ini semua demi harga dirinya untuk menghindari Haruno Sakura dan proyek penelitiannya yang menganggu itu.
.
.
.
.
To Be Continue...

FF - Naruto - SasuSaku - Oh! Mr. Hikkikomori [Chapter 4]

By : Lidatan
Sabtu, 18 Juni 2016
0
 Oh! Mr. Hikkikomori
Vanille Yacchan
All Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
...
 [Chapter Three : Regret Tears, Suicide, and Message]
...
Warning : OOC SASUKE.
.
.
Jika salah satu saudaramu bertanya, apa sih yang paling menyebalkan di dunia ini? Mungkin di antara beberapa orang akan menjawab hal yang paling menyebalkan adalah kegiatan menunggu. Yeah, menunggu merupakan rutinitas yang kerap kali membuat kita gelisah, emosi, berpikiran pesimis, apalagi orang yang kita tunggu tidak datang tepat waktu rasanya ingin sekali menampar wajahnya dan mengatakan 'berhentilah membuatku menunggu'.

Tetapi, kategori menunggu bukan sesuatu hal yang paling dibenci oleh pemuda kuning yang kini melotot ngeri ke arah komputer layar flatnya.

Uzumaki Naruto dan ketololannya adalah sebuah bukti nyata bahwa pemuda kuning itu sangatsangatsangat membenci dirinya yang begitu tergesa-gesa. Baru saja pemuda Uzumaki itu berniat memformat USB flashdisk miliknya, tetapi karena dirinya yang bisa dibilang terlalu mempercayakan insting daripada otaknya, ia hanya asal menceklis kotak dialog yang tiba-tiba muncul di layar komputer dan mengklik button OK. Alhasil, pemuda kuning itu tiba-tiba menyadari bahwa ia begitu tolol!

Kenapa?

Karena Naruto telah berhasil—atau tak sengaja—memformat hardisk komputernya.
Segera, pemuda Uzumaki itu mencoba menekan shortcut yang tersedia di keyboard guna menghentikan proses pembersihan data. Tetapi apa yang ia dapat? Komputer layar flatnya sama sekali tak merespon. Ia menggebrak keyboard, rasa frustrasi menjalari otaknya.

Akh! Semua data-dataku telah lenyap! teriak batinnya histeris.

Mungkin, jika kalian dihadapkan dengan situasi seperti itu, kalian akan menangis tersedu-sedu dan berteriak sekencang-kencangnya atau lebih buruknya kalian akan memecahkan salah satu barang, baru akan merasa puas.

No-no! Hal yang seperti itu pasti tidak akan mungkin terjadi. Karena Uzumaki Naruto adalah lelaki kuat. Pemuda itu hanya mengutuk ketidakjeliannya yang benar-benar buruk.

Naruto menghela napas lemah, otaknya mulai berpikir apakah kejadian ini merupakan karma yang telah ia lakukan terhadap senpainya? Balas dendam, ya, balas dendam karena senpainya telah melecehkan Mikarin tersayang. Pemuda kuning itu memutar tubuhnya dengan kursi putar, ia menatap nanar ke arah figur gadis maid robo—Mikarin—yang ia letakkan di lemari sudut ruangan.

"Apa yang harus ku perbuat, Mikarin?" bisiknya lemah.

Oh, ayolah Naruto! Kau seharusnya jangan mengajak sebuah boneka robo bicara. Tentu saja, karena ia hanya seonggok karet yang dibentuk menyerupai seorang gadis maid robo. Pastinya ia tak akan mau repot-repot merespon pertanyaan bodohmu.

Tetapi karena Naruto sudah menganggap Mikarin benda hidup, setiap ia berkeluh kesah satu-satunya orang—benda—yang paling tepat mendengarkan curahan hati sang Uzumaki muda ini adalah gadis maid robo miliknya.

Pemuda kuning itu menghela napas lagi, ia hendak bangkit dari duduknya, tapi tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang merangkul pundak tegasnya itu. Alhasil, pemuda kuning itu terhentak di atas kursinya yang empuk.

"Moshi-moshi, Naru-kyuun~~!" seru sebuah suara centil menembus indra pendengaran Naruto. Pemuda itu segera menoleh dan mendapati seorang gadis dengan perawakan yang sama seperti boneka maid robo miliknya keluar dari layar flat komputer yang kini menggelap.

Ya, itu kenyataan. Apa perlu diulang? Seorang gadis dengan perawakan yang sama seperti boneka maid robo miliknya keluar dari layar flat komputer yang kini menggelap.

Uzumaki Naruto tidak hanya penderita akut delusif tetapi ia juga penderita akut nijikon. Pemuda kuning itu terlalu sering mengandai-andai jika Mikarin memang nyata, dan tak dapat di duga sel-sel saraf di otaknya itu mampu merefleksikan figur gadis maid robo yang dicintainya itu benar-benar menjadi nyata—tentu saja hanya ia yang dapat melihat Mikarin.

"Nee, Naru-kyuun, kau ada masalah?" gadis imajinasi Naruto itu bertanya, sepertinya Mikarin menyadari Naruto terlihat tak seperti biasanya.

Naruto menundukkan wajah, aura gloomy terpancar di seluruh tubuhnya, "Semua game yang memuat dirimu, beribu-ribu manga online yang ku download, ero game yang belum kumainkan, link bookmark yang kusimpan, musik anime, data-data dan semua password akun milikku lenyap karena kebodohanku!" jeritnya histeris.

Mikarin mendekap erat bibirnya sesaat, bola mata besarnya yang berbeda warna—jade dan aqua blue—itu terbelalak ngeri, "Mikarin tak tahu isi semua data-data di komputer itu sebegitu penting untukmu, Naru-kun," sahut Mikarin parau. Kini gadis itu menitikkan air matanya, hati gadis itu serasa tercabik-cabik ketika menatap Naruto bersedih.

Mikarin mengulurkan kedua tangannya, menyentuh erat kedua bahu lebar Naruto, "Jangan khawatir Naru-kun. Kau tidak akan sendirian lagi, bukankah Mikarin akan ada untukmu ketika kau sedang susah?"

Pemuda Uzumaki itu megangkat wajahnya, menatap Mikarin yang masih memasang wajah sedih. Ia merasa sedikit bersalah membuat gadis imajinasinya itu menangis demi kebodohannya yang di ambang batas, iris turquoisenya itu berkilat cerah. Sebuah senyuman terpatri di wajahnya. Langsung saja, pemuda kuning itu memeluk erat Mikarin yang selalu muncul di saat kesedihan melanda dirinya.

"Arigatou, Mika-chan."
"He-he-he... Mikarin senang kalau Naru-kun senang," balas gadis itu sembari tangan mungilnya mengelus helaian rambut pemuda kuning itu lembut.
"Mungkin aku mendapat karma karena membiarkan senpaiku kelaparan," tiba-tiba Naruto berujar, ia melepaskan pelukannya. Kontan saja membuat Mikarin mengerutkan keningnya bingung.
"Naru-kun, memangnya karma bisa membuat komputermu seperti itu, ya?" tanya Mikarin sembari dengan pose berpikirnya.

Ah, seketika otak pemuda kuning itu ingat. Ketika ia berhasil membuat gadis imajinasinya itu menjadi nyata, Mikarin muncul dengan sifat polosnya yang membuat Naruto kelimpungan.

"Setahuku, bukankah itu karena kebodohanmu? Ya, kan? Ya, kan?" imbuh Mikarin
Kontan saja, kalimat itu membuat Naruto seperti dihantam batu besar. Kau terlalu jujur Mika-chan, sahut batinnya merana. Kini pemuda kuning itu tersenyum hambar.
"Ah, apakah ucapan Mikarin membuatmu tak senang?"

Naruto hanya merespon dengan tawa hambar yang dibuat-buat. Mikarin nyengir lebar, merasa tak berdosa dengan ucapannnya barusan. Benar-benar cewek naif.

"Mungkin kau bisa mengundang senpaimu itu makan malam di apartemenmu, Naru-kun! Kudengar dari paman Televisi, ia frustrasi kehabisan uang!" sembur Mikarin, kini gadis itu berjalan menuju lemari berisi tankouban-tankouban manga. Ia mengambil salah satu manga dari lemari dan membukanya. Sebuah senyuman terlukis di wajah gadis itu.

Kening pemuda kuning itu mengerut bingung. Bukan! Bukan bingung karena senpainya itu kehabisan uang, hal itu sih sudah biasa. Tapi, karena paman Televisi! Sejak kapan senpainya itu punya kenalan? Dan memangnya ada di dunia ini orang tua dengan rela menamakan anaknya Televisi? Memikirkannya saja sudah membuat gerigi-gerigi otak pemuda kuning itu hampir rusak.

"Ee..to… paman Televisi?" ulang Naruto sembari menggaruk pipinya yang tak gatal. Mikarin yang masih sibuk dengan manganya hanya merespon dengan anggukan singkat.

Kontan saja, ruangan apartemen kecil itu diselimuti oleh gelak tawa Naruto, "Paman Televisi? Hahahaha… Sasuke senpai punya teman aneh! Hahaha…"
Mikarin menjauhkan manganya, menatap Naruto heran. Apa yang lucu dari paman Televisi? Pikirnya. Mengangkat bahu, gadis itu membiarkan Naruto terbuai dengan lelucon garingnya. Mata beda warnanya kembali menatap gambar hitam putih yang terpampang di hadapannya. Sedetik kemudian sebuah tawa halus terdengar dari mulut gadis imajinasi itu.

"Haha… paman Tele…haha…visi…hahaha…" pemuda kuning itu masih saja tergelak dengan lelucon garingnya. Sungguh Naruto, selera humormu cukup buruk.
…
…
"Mati aku… mati aku… mati aku… mati aku… mati aku…"

Di sepanjang jalan Sasuke tak henti-hentinya menggumamkan kalimat itu. Pemuda bermarga Uchiha ini sangat kacau. Setelah akal sehatnya berniat untuk menjadi manusia berguna, ternyata takdir buruk masih menghadangnya. Kenapa harus ada gadis itu di sana! Batinnya berteriak histeris. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Jika bertemu dengan gadis itu lagi. Ia tak tahu bagaimana menghadapinya nanti. Mungkin lebih baik ia tetap mengurung dirinya di apartemen hingga membusuk. Ya—mungkin itu cara yang lebih baik, pikirnya, kemudian ia menyeringai aneh. Tanpa sengaja dua pasang sejoli yang melintas melihat senyumnya itu. Mereka bergidik dan langsung berlari menjauh.

Sasuke yang melihat itu hanya menghela napas pasrah.

Pasti mereka menganggapku penguntit! Ah! Terlalu lama menjadi hikkikomori membuatku tak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum dengan normal. Pikirnya frustrasi.

Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju apartemen dan menutupi setengah wajahnya dengan syal hitam yang saat ini ia kenakan.

"Kenapa waktu terasa sangat lamban!" protesnya, karena dari tadi kecepatan kakinya melangkah sama seperti binatang berlendir yang jalannya lamban.
…
…
BAAM

Pemuda Uchiha itu menggebrak pintu apartemen sembari berteriak, "DUNIA YANG LEBIH MENYENANGKAN HANYA ADA DI DALAM APARTEMEN INI!"

Segera Sasuke melangkah masuk dan menutup pintu itu dengan keras. Ia tak peduli jika tetangga apartemennya terganggu, yang lebih penting ia harus menyelamatkan dirinya. Dunia luar itu sangat kejam.

Pemuda itu terduduk dan menyandar di pintu. Ia mendesah sembari mengacak rambut buntut ayamnya.

Oh, ayolah! Seperti itu saja kau sudah menyerah? Tiba-tiba Sasuke mendengar sebuah suara di dalam dirinya, ujian hidup yang sebenarnya masih terbentang jauh. Kalau kau sudah menyerah seperti itu, lebih baik kau mati saja sana!

Ah! Benar! Untuk apa ia terus-terusan hidup? Manusia lemah dan rapuh seperti dirinya memang tak pantas untuk bersaing di dunia ini. Lagipula jika ia mati, populasi manusia tak produktif akan sedikit berkurang. Pemikiran yang sangat sempurna.

Sasuke bangkit dari duduknya. Ia mengambil sebuah pestisida, pencair cat, dan memungut kecoa mati yang tergeletak di samping bajunya di lantai.

"Setelah aku mencampur bahan-bahan mematikan ini, lalu meminumnya secara perlahan, pasti rasa sakit menuju kematian itu tak terasa, he…he…he," kekehnya.

Sasuke mulai mencampur semua bahan percobaan bunuh dirinya ke dalam gelas sembari tersenyum mengerikan—layaknya ilmuan gila yang ingin menghancurkan dunia.

… Selesai.

Iris onyxnya memperhatikan gelas itu. Kecoa mati mengambang di atas cairan bening yang baunya cukup menyengat. Apa benar ia cukup waras ingin meminumnya? Tidak! Tidak! Sasuke sekarang memang dalam keadaan sangat sinting!

Dengan ekspresi datar ia mulai menjulurkan tangannya, mengambil gelas yang berada di atas meja. Sasuke menelan salivanya. Setengah bagian dirinya berteriak, 'kau masih bisa kembali, kau masih bisa memperbaiki hidupmu yang menyedihkan itu. Jadi jangan sia-siakan hidupmu!' setengah bagian dirinya yang lain memberontak, 'mati saja sana! Memangnya kau mau seumur hidup tak punya pekerjaan? Jadi perjaka busuk, menambah beban keluargamu saja! Dasar manusia menyedihkan!'

Ia menggelang cepat. Mana yang harus ia pilih? Akkh! Otaknya menjadi gila! Bunuh diri saja susahnya minta ampun! Sasuke menarik napas dalam, pemuda itu sudah memprediksi akan jadi seperti ini. Seolah meblokir semua hasutan yang mengganggunya, pemuda itu menganggukkan kepala, lalu menutup rapat kelopak matanya. Sasuke dengan tegas kembali pada keputusan awal, 'lebih baik mati saja!'

Ini akan menjadi perjalanan yang sangat singkat, bisa saja di kehidupan keduanya nanti, ia akan menjadi bos besar atau yang lebih buruknya ia tetap bereinkarnasi menjadi seorang hikkikomori busuk.

Tak apa! Setidaknya ia pernah berusaha mengubah takdirnya dengan cara mengakhiri hidupnya lalu bereinkarnasi.

Oh! Ayolah Sasuke! Memangnya kau hidup di zaman apa? Pikiranmu sekolot itu? Memangnya ada di dunia ini reinkarnasi? Bisa saja kau menjadi arwah gentayangan yang setiap malam mengetuk pintu rumah orang tuamu dan meminta dicarikan pekerjaan. Semuanya jadi tak masuk akal!

Sasuke mendesah, ia mulai mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Sensasi pestisida dan pencair cat menembus penciumannya.

Ini buruk sekali!

Tiga senti…

Dua setengah senti…

Ekspresi wajahnya mulai mengkerut. Ah! Apakah ia harus benar-benar mati?

Dua senti…

Bagaimana dengan orang tuaku nanti setelah mendengar kematian anaknya? Pikirnya kalut.

Satu setengah senti…

Apakah ia harus mati dengan cara tak elit seperti ini? Ayolah Sasuke, jika kau memang benar-benar berniat ingin mati, cukup teguk racunmu, seketika rohmu melayang menuju alam baka, kemudian selesai.

Satu senti…

Sasuke meringis, ia menutup hidungnya. Sasuke hendak meneguk racunnya dan bersamaan dengan itu pintu depan terbanting keras.

"SENPAI!... UWAAAAAH!"

Naruto bergegas menyingkirkan gelas di tangan Sasuke, "Apa yang kau lakukan? Apa otakmu sudah tak bekerja lagi? Masa kau mau makan itu—" pemuda kuning itu menunjuk sang kecoa mati yang menempel di dinding, pemuda Uzumaki itu menggigil karena ngeri.

Sasuke tertawa hambar, kemudian menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Ia mulai menangis keras.
Naruto mengerutkan keningnya, "Senpai! Apa kau sebegitu frustrasinya karena tak punya uang hingga ingin memakan itu? Seharusnya kau bilang padaku kalau kelaparan! Di apartemen masih ada sepuluh dus mie ramen instan."

Ah! Rupanya ada yang salah paham!

"Senpai!" panggil Naruto, Sasuke malah mengeraskan tangisannya.

Dasar baka! Baka! Batin Sasuke berteriak. Kemudian Sasuke mengangkat wajahnya, ia menoleh ke arah Naruto. Air matanya dengan deras mengalir, "Apa yang kau lakukan! Padahal sebentar lagi aku sampai di alam baka!"

Turquoisenya itu membesar, "APA?" sergahnya, kemudian bau pestisida dan pencair cat menembus indra penciuman pemuda kuning itu. Ekspresinya menjadi geram. Sungguh Naruto, responmu lamban sekali.

Naruto mengulurkan tangannya dan menyentuh bahu Sasuke, "Apa yang kau lakukan senpai? Jika kau mati, apa yang harus kujelaskan dengan polisi ketika meminta keterangan kematianmu? La-lalu jika aku dituduh menjadi tersangka, bagaimana hidupku dipenjara nanti? Kehidupanku sebagai penikmat 2D berakhir!" sergahnya sembari mengguncang-guncang tubuh Sasuke.

Sasuke dengan cepat menyingkirkan kedua tangan Naruto di bahunya, "Kenapa kau malah mengkhawatirkan dirimu sendiri? Kau lebih senang kalau aku mati jauh-jauh dari apartemen ini, begitukah?"
"Bu-bukan begitu!" sahutnya kemudian, "hanya saja—aku tak pintar kalau berurusan dengan polisi. Aku jadi gugup, tahu!" semburnya.
"Aku tidak peduli! Yang jelas, kau sudah menghancurkan ritual pembebasan roh di dalam tubuhku!"
Naruto tersenyum kecut, pemuda kuning itu berpikir mental senpainya ini benar-benar sudah tak bisa diselamatkan! Ia mendesah, "Lebih baik kau ke apartemenku saja senpai!"
Satu alis Sasuke terangkat, "Hah?"

Tanpa basa-basi Naruto menarik senpai menyedihkannya itu ke apartemen miliknya.
…
…
"Oh, jyadikwaubwetmu dwengan gwawis witu?"
Sasuke meringis jijik, "Telan dulu makananmu ketika kau hendak bicara! Menjijikan!" lalu Sasuke menyesap Oolong tea perlahan, ah~ sekarang dirinya lebih tenang.

Pemuda kuning itu menelan makanannya, seketika ia tersedak, segera meraih minuman di hadapannya, lalu meneguknya dengan cepat, "Gwuah! Ahahaha… gomen… gomen…"
"Kau menjijikan!" gumam Sasuke menatap Naruto datar.

Kau lebih menjijikan senpai, balasnya dalam hati. Naruto tak mau mencari masalah dengan senpainya sekarang. Bisa-bisa nanti ia jadi korban pembunuhan setelah apa yang ia lihat tadi, "Jadi, kau bertemu dengan gadis itu?" ulangnya lagi mengklarifikasi.
"Hn! Bukankah aku sudah menjelaskannya tadi? Gadis kemarin, yang melihatku hendak membuang boneka laknatmu itu!" sahutnya sembari memejamkan matanya sesaat.

Entah kenapa ada perasaan senang di dalam diri Naruto. Ternyata Sasuke senpai kena batunya!

"Kenapa kau terlihat senang?" sembur Sasuke yang sadar akan ekspresi pemuda kuning itu. Segera Naruto mengelak, "Ti-tidak! Aku hanya berpikir, mungkin saja gadis itu ditakdirkan menyembuhkan penyakit hikkikomorimu itu, senpai!"
"Kau mengigau ya?" sahut Sasuke dengan enteng, "Di dunia ini sudah menjadi aturan kalau mengigau itu hanya saat tidur saja. Jadi enyahkan pemikiran itu dari otak dangkalmu!"
Naruto terpancing emosi, rasanya ia hendak sekali merobek-robek mulut senpainya yang tak ada manis-manisnya itu. Dengan segera pemuda kuning itu ingat, hari ini ia tidak boleh marah. Hari ini hari spesial untuk menyenangkan hati senpainya itu. Naruto tertawa tertahan, "Benar juga katamu, sen-pai!"

Sasuke medesah, ia tak sadar jika ada aura membunuh menguar di tubuh Naruto. Onyxnya itu memandang Naruto yang menunduk, pemuda Uchiha itu jadi bingung. Seharusnya yang di sini menderita itu dirinya, kenapa pemuda kuning itu yang terlihat nampak menderita? Dasar Sasuke bodoh! Naruto terlihat menderita karena memendam amarahnya!

Lalu, onyxnya mengarahkan atensinya ke arah komputer layar flat milik pemuda kuning itu.

Gelap.

Hari ini ia tak mendengar bunyi berisik dari soundtrack anime yang diputar Naruto. Otaknya yang pintar itu menyimpulkan, jadi karena 'itu' ya?

"Hei! Ada apa dengan komputermu?"

Naruto mengangkat wajahnya perlahan, tak disangka ekspresinya langsung memucat—layaknya jasad tak bernyawa. Sepertinya Sasuke sudah salah membahas mengenai hal itu, dengan kikuk ia menyela, "Ah, lupakan saja!"

Setelah itu keheningan melanda, Naruto masih berkutat dengan kesedihannya, sedangkan Sasuke ia merebahkan tubuhnya di lantai tatami. Ia mendesah, otaknya berpikir, ternyata keluar dari dunia hikkikomori itu sangat sulit.

"Hei, Naruto?" panggil Sasuke, Naruto dengan wajah merana menatap senpainya, ia bergumam 'ada apa?'
"Seandainya keadaan Tokyo tidak seperti sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan tetap berimajinasi dengan karakter tak nyata di otakmu?"
Kening Naruto mengerut, ada apa tiba-tiba senpainya bertanya seperti itu? Tidak biasanya. Lalu ia mengerang, "Entahlah! Mungkin tidak," ia mengangkat bahu, lalu melanjutkan, "ya, mungkin aku akan membantu orang tuaku di desa dan melakukan suatu perubahan."
Sasuke mendengus mendengar jawaban Naruto, "Baguslah kalau begitu," sahutnya simpel, seketika membuat pemuda kuning itu bingung luar biasa, "Apa maksudmu, senpai? Kau hanya mengetesku ya?"
"Tidak! Aku hanya terlintas berpikiran seperti itu. Ternyata jawabanmu cukup keren juga," Sasuke tertawa kecil, Naruto mendesah. Pemuda kuning itu balik bertanya, "Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan, senpai?"
"Hmmm… mungkin aku akan tetap menjadi hikkikomori. Karena pada dasarnya, aku tak tahu bagaimana cara mengubah kehidupanku," sahutnya sembari tersenyum kecut.
"Senpai! Kau menyedihkan sekali!"
"Hn! Aku tahu itu!"

DRRRRTTTT DRRRRTTTT

Tiba-tiba ponsel Sasuke bergetar, pemuda Uchiha itu merogoh kantung celana jeansnya. Naruto yang berada di seberang meja nampak penasaran, "Langka sekali aku melihat kau menerima pesan, senpai!"
"Kau penguntit ya? Kenapa kau tahu aku jarang menerima pesan?"
Naruto meringis mendengar tuduhan senpainya itu, "Kau gila ya? Kau itu hikkikomori, bukankah kenalanmu saat SMA hanya aku dan si gadis menyebalkan itu? Dan aku yakin temanmu saat SMP dan SD tak akan mengingatmu."
"Kau sok tahu!" balasnya dingin.
Segera Sasuke membuka ponsel layar sentuhnya, kemudian membuka sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Seketika onyxnya itu terbelalak tak percaya.

From : 0777xxxx
Dear Uchiha Sasuke-dono
Kau telah terpilih menjadi kandidat terbaik sebagai projek penelitianku. Jika kau ingin 'Hikkikomori'mu disembuhkan, temui aku di Sanda Park, jam 9 malam.
PS : Kau bisa sekalian ambil CV yang tertinggal di perpustakaan

Haruno Sakura

Ini tak salah lagi! Pesan ini dari gadis itu!

Bagaimana ia tahu nomor ponselku? Pikir Sasuke kalut. Ah! Ya! Pemuda Uchiha itu ingat, ia menuliskan nomornya di belakang kertas CV miliknya.

Lalu bagaimana gadis ini tahu tentang penyakit hikkikomoriku? Apakah gadis ini peramal? Sasuke menggeleng cepat, tak mungkin! Tampang peramal biasanya agak mengerikan. Sepertinya pemikiran aneh Naruto menjadi kenyataan.

Lalu apa yang harus ia lakukan? Pilihan pemuda itu hanya ada dua ; datang ke tempat perjanjian atau acuhkan saja gadis itu.

Akkh... memikirkan hal itu membuat otaknya hampir meledak, sedangkan Naruto, ia menaikkan satu alisnya ketika melihat kelakuan senpainya itu tiba-tiba agak sinting.

"MEMBINGUNGKAAAAANNN!"

Sontak apartemen kecil itu diisi teriakan Sasuke yang benar-benar sudah sangat kacau.
.
.
.
.
To Be Continue...

Maaf Baru posting sambungan FF absurd ini. Kalian bisa berkunjung ke akun FFn saya, author penname saya Vanille Yacchan

FF - Naruto - SasuSaku - Oh! Mr. Hikkikomori [Chapter 3]

By : Lidatan 0

The Woman in Shadow

A Naruto Fanfiction

All Character of Naruto © Masashi Kishimoto-Senpai

Original Story © Vanille Yacchan

Warning : OOC, AU, TYPO(S), SASUSAKU, DLDR

Rated T

Summary :
Uchiha Sasuke, seorang pemuda yang hidup nomaden.Ketika ia mengunjungi desa sahabatnya, ia dihadapkan dengan sebuah misteri seorang wanita muda yang dituduh sebagai pembunuh suaminya. Beta-reader nyan-himeko.
.
.
.

[File 01; The Day of the Beginning]

...

...

Seorang pemuda memandang lekat kearah jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Kadang atensinya bergulir menuju peron yang kini dijejali manusia yang sama sekali tak dikenalinya, kadang turis pun juga ikut berseliweran di jalan ini. Si pemuda meremas-remas jarinya perlahan—menahan kegugupan. Ia tahu, sahabatnya itu bukanlah orang yang memakai jam karet dalam hidupnya. Apa mungkin jadwal kereta yang ditumpangi sahabatnya itu terhambat, atau yang lebih parahnya... ah tidak mungkin.

Ditengah rasa kegundahannya, seseorang menepuk pundaknya perlahan—menambah rasa kegelisahannya. Banyak yang bilang, sekarang orang-orang menghalalkan segala cara untuk menyantuni kehidupan mereka, merampok dan membunuh salah satunya. Memorinya berputar, ingatannya mengarah pada cerita dari cerita temannya. Seseorang mengalami hal yang sama sepertinya—ditepuk pundaknya—lalu si korban menoleh kearah si penepuk. Ketika si korban menatap penepuknya, korban kontan kehilangan kesadaran. Orang-orang disekitar bisa saja menganggap si korban sedang bersama temannya atau sanak saudaranya. Keesokan harinya, si korban ditemukan di daerah perbatasan desa Utara. Keadaannya menggenaskan, disekitar tengkuknya terdapat bekas sayatan benda tajam dan lagi semua harta bendanya hilang. Sungguh pembunuh yang keji. Polisi mengatakan pelaku kemungkinan melakukan hipnotis kepada korbannya, dan cara terbaik untuk menghindar hanya dengan tak bertatapan langsung dengan si pelaku.

Pemuda itu berpaling menghadap si penepuk. Dan tak lupa memejamkan matanya karena ia tak mau nyawanya terbuang ditangan perampok. Sungguh di zaman sekarang manusia hanya ingin mencari kekayaan secara instan.

“Kau kenapa Naruto?” Suara baritone menembus alat pendengarannya. Pemuda yang dipanggil—Naruto—perlahan menarik kelopak matanya. Hal yang pertama dilihatnya adalah iris mata sekelam malam yang menatapnya menyelidik.

“Ya ampun,  Sasuke! Kau lama sekali tahu! Kukira kereta yang membawamu kecelakaan, dan kau sekarat.” Naruto memeluk pemuda yang dipanggilnya—Sasuke—dengan eratnya.

“Apa?” Dengan sentakan keras Sasuke melepas pelukan sahabatnya yang terkenal sangat cerewet. “Kau senang sekali berpikiran negatif.” Sasuke menggelengkan kepalanya, ia heran kapan sahabatnya yang satu ini bisa berpikiran optimis dan berhenti menjadi toa.

“Janjinya kan sekitar pukul sembilan. Sekarang sudah pukul sepuluh tiga puluh. Terimakasih sudah membuatku khawatir, Sasuke.” Naruto menyodorkan jam tangan digitalnya kearah Sasuke. Ia hanya tersenyum dan merasa tak bersalah sama sekali.

“Kenapa senyum? Kau berhutang dua permintaan maaf denganku, tahu!” Naruto mengarahkan dua jarinya kearah wajah Sasuke.

Sebuah kerutan halus menghiasi kening Sasuke. “Dua?” Naruto mengangguk. “Seingatku kau hanya khawatir karena aku terlambat.” Tambahnya.

Alis Naruto tertarik keatas, ia menatap Sasuke heran. “Kau tidak pernah baca koran lokal ya? Atau mungkin kau tidak pernah berlangganan koran? Makanya jangan hidup nomaden dong.” Naruto terus saja mengoceh membuat urat saraf Sasuke mengencang.

“Ya, ya aku tidak pernah baca koran.” Sasuke mengangguk-anggukan kepalanya pertanda mengiyakan. 

“Kau tahu sendirikan aku terlalu sibuk, maaf saja kalau tidak bisa berlangganan koran.” Katanya seraya membenarkan jaket yang ia kenakan.

“Wah, sudah hampir pukul sebelas. Lebih baik kita istirahat sebentar. Itukan yang kau butuhkan?”

“Hn.”

...

...

“Sebenarnya apa yang membuatmu datang kemari?” Tanya Naruto yang kini berada disebuah kedai sederhana. Kedua sahabat itu memesan makanan yang sama. Roti selai kacang dengan daging asap asparagus. Tak lupa kopi hangat yang mengepul di dalam cangkir kaca bening.

Sasuke menyesap perlahan kopinya dan kemudian meletakkan cangkir kopi diatas piringan kecil. “Tak ada.” Ujarnya enteng.

Naruto dengan cepat mengunyah daging asapnya. Sasuke yang memperhatikan cara Naruto memakan makanannya hanya dapat menggelengkan kepalanya. “Ha? Tidak mungkin! Kau kesini pasti ingin mencari inspirasi. Aku tahu pekerjaanmu yang menggunung, pasti otak kirimu tak dapat berfungsi lagi.” Oceh Naruto.

“Sebenarnya aku hanya ingin berlibur.” Jeda sebentar, Sasuke mengunyah rotinya perlahan. “Kalau sekalian aku ingin mencari inspirasi ya...itu boleh juga.” Katanya seraya tersenyum tipis.

“Haaah, terserah. Tapi kau jangan berjalan di daerah ini sendirian.” Naruto menyesap kopinya.

Alis Sasuke terangkat, heran. “Kenapa, memangnya?” Tanyanya. Naruto meletakkan cangkirnya dipiringan kecil, mata birunya menatap mata hitam Sasuke secara intens. “Kau bodoh, ya? Tentu saja nanti kau tersesat.” Naruto menyeringai karena telah berhasil mengelabui sahabatnya.

Sasuke hendak membalas, tapi terhenti ketika seorang gadis yang kira-kira berumur dua puluh tahunan—menurut penglihatannya—memasuki kedai sederhana itu. Para pelanggan banyak berbisik-bisik ketika melihat si gadis. Dari penglihatan Sasuke, gadis ini terlalu mencolok. Rambutnya berwarna merah muda, digelung dengan indah dan berhiaskan mutiara putih yang mengitari gelungan. Ia memakai gaun terusan berwarna putih semata kaki. Tak lupa dileher jenjangnya terdapat kalung yang sejenis dengan mutiara yang mengitari gelungan rambutnya. Menurut Sasuke gadis itu tak pantas berada di kedai ini. Karena dari penglihatannya, gadis itu tipikal oujo-sama. Tak sengaja si gadis memalingkan wajahnya, ia sadar bahwa setiap pria bahkan wanita yang berada di kedai menatapnya penuh damba. Bahkan seorang Uchiha Sasuke yang notabene tak pernah percaya cinta pada pandangan pertama, tercekat akan pesona gadis itu. Rupa si gadis tak secantik layaknya dewi-dewi mitologi Yunani. Tapi jika dilihat dengan teliti maka kau akan menemukan pesona tersendiri dari gadis ini.

Senyumannya...
Mata emerald itu...
Bahkan warna surai rambutnya yang tak biasa...

Sekarang ia maklum, kenapa setiap orang berbisik-bisik.

“Haaah... orang elit itu lagi.” Naruto berujar, seraya menghela napasnya perlahan. Sasuke yang masih memandangi si gadis, spontan menarik pandangannya. Ia langsung menoleh kearah Naruto.

“Siapa yang kau maksud ‘orang elit itu lagi’?” Tanya Sasuke serius.

Naruto mencondongkan tubuhnya, dan mengarahkan satu telunjuk jarinya kearah bibirnya. “Ssst... kau terlalu kencang. Ya, tentu saja orang yang kau tatap tadi.” Naruto seraya menunjuk si gadis dengan dagunya.

“Memang siapa dia? Dan kenapa juga aku harus berbicara berbisik?” Tanya Sasuke dengan kedua alisnya yang mengerut.

“Sudah kubilang dia orang elit di desa ini. Kau orang baru disini jadi harus perlu tahu tentang hal ini. Di desa orang-orang menengah sangat tabu membicarakan mereka. Itu akan membuatmu celaka. Dan orang itu termasuk di dalamnya.” Ujar Naruto dengan tampang serius. “Lebih baik kau jangan dekat-dekat dengan orang elit.” Tambahnya.

“Kalian memang aneh.” Ia mengalihkan pandangannya lagi kearah si gadis yang kini sedang berbincang dengan seorang wanita yang lebih tua. Wanita itu berwajah bulat, dan agak gemuk.

Sebuah tepukan hangat mendarat dipundak Sasuke. Sasuke menoleh kearah Naruto yang menepuknya. “Kau sudah tertawan oleh pesonanya, kawan.” Kata Naruto seraya menggelengkan kepalanya perlahan.

Sasuke hanya menyeringai. “Mungkin yang kau katakan ada benarnya.”
Naruto membelalakan matanya, kaget. Ia tak percaya. Seorang Uchiha Sasuke ternyata bisa takluk juga akan pesona orang itu. Si Uzumaki melepaskan tangannya dari pundak Sasuke. Ia meneguk kopinya hingga tandas, dan meletakkan cangkirnya ketempat semula. Mata biru Naruto menatap lurus kearah mata hitam Sasuke. Kali ini ia serius.

“Lebih baik kau hindari dia Sasuke.” Saran Naruto kemudian. Sasuke, hanya menampakkan raut wajah kebingungan. “Kau orang baru, jadi tak tahu apa-apa rahasia keji yang disimpan oleh desa ini.”
Ucapan Naruto sukses membuat Sasuke bingung luar biasa. “Memangnya apa ada hubungannya dengan gadis itu?” Tanya Sasuke masih menampakkan raut kebingungan. Naruto hanya mengangguk.
“Ia seorang Janda. Suaminya beberapa bulan yang lalu meninggal. Polisi mengatakan ada yang meracuni pria yang dinikahi wanita itu, setelah itu ditusuk dengan pisau dapur. Benar-benar mengerikan. Tuduhan tertuju pada istrinya. Dia membunuh suaminya sendiri. Ketika ditemukan mayat suaminya, ia juga tergeletak menyandar di dinding. Ketika polisi mewawancarainya, ia tak ingat perihal apapun yang dilakukannya. Sidik jari dipisau dapur itu cocok sekali dengan sidik jarinya. Karena ia tak ingat apapun, makanya ia tak ditahan oleh polisi. Mungkin dianggap tak waras.” Naruto menjelaskan dengan serius. Tatapan matanya menyiratkan akan kengerian.

Sasuke sedikit tak percaya dengan cerita yang ia dengar dari Naruto. Gadis itu—maksudnya wanita yang kelihatannya sangat baik seorang pembunuh? Bahkan ia terlalu muda jika dikatakan tak waras. Bukankah pada umumnya wanita berumur dua puluhan masih senang memikirkan dirinya sendiri, jarang memiliki pemikiran yang membuat otak kelelahan menampungnya. Bahkan ia orang yang berada. Tak akan pusing dengan keuangan.

“Mana mungkin? Aku tak percaya Naruto. Dia sepertinya wanita yang baik, ceria, dan mudah tersenyum. Mungkin ada yang menjebaknya.” Elaknya. Sebelum menjawab perkataan Sasuke, Naruto mendengus dan menggelengkan kepalanya.

“Kau sudah dibutakan oleh penampilannya. Wanita baik pun bisa saja menjadi jahat dan membunuh hanya karena sebuah dendam. Dan dengan mudahnya menghilangkan nyawa manusia.” Kata Naruto.
Naruto menggerakkan tangannya keatas, seraya memanggil ‘pelayan’. Seorang gadis dengan perawakan mungil, rambutnya berwarna pirang panjang, dan sebuah poni menutupi keningnya, menghampiri Naruto. Naruto memesan makanan yang tadi ia pesan. Gadis itu dengan cekatan menulis pesanan Naruto. Ia menawari Sasuke hendak memesan lagi atau tidak? Sasuke menggeleng. Ia sudah kenyang dengan roti selai kacang, daging asap asparagus, dan secangkir kopi. Karena tak ada lagi pesanan, gadis itu meninggalkan mereka menuju dapur.

Naruto membuka zipper jaketnya. Ia mengibas-ngibaskan tangannya, karena kepanasan. “Sebaiknya aku tadi memesan air dingin saja.” Katanya.

Sasuke hanya diam. Ia memikirkan sesuatu. Dari luar desa ini kelihatannya baik-baik saja. Tapi pada kenyataannya begitu misterius. Apalagi wanita itu. Niatnya hendak berlibur dan tak memikirkan sesuatu yang membuat otaknya lelah, nampaknya tak akan terealisasi.

“Hei! Kau benar-benar akan menjauhi wanita itu kan, Sasuke?” Tanya Naruto.

Sasuke mengangkat bahunya perlahan. “Tidak juga.” Katanya. 

“Hei dia itu berbahaya. Aku khawatir kau kenapa-napa. Harus bagaimana lagi agar kau percaya kata-kataku.” Naruto mengacak-acak rambut berbentuk durennya frustasi. “Banyak orang bilang dia wanita  pembunuh bermuka dua di desa ini.” Tambahnya.

Sasuke ragu apa ia dapat mempercayai ucapan Naruto. 

“Maaf menunggu lama.” Seorang gadis pelayan yang tadi melayani Naruto kini menghampirinya. Ia meletakkan sepiring roti selai kacang, daging asap asparagus, dan secangkir kopi hangat. Asapnya mengepul, memberikan sensasi menenangkan bagi Naruto yang menghirup aromanya. Setelah Naruto mengucapkan ‘terima kasih’ gadis pelayan itu meninggalkan mereka menuju dapur.

“Apa kau masih lapar?” Tawar Naruto. Ia mengangsurkan sepiring roti selai kacang dan daging asap asparagus kearah Sasuke. Sasuke hanya menggeleng. “Ya sudah. Aku makan saja semuanya.”

“Naruto.” Panggil Sasuke.

“Hm?” Naruto menoleh kearahnya. Mulutnya masih penuh dengan daging asap dan roti selai kacang.

“Apa kau tidak heran?” Kerutan halus menghiasi kening Naruto. “Bukankah dia dituduh sebagai pembunuh. Kenapa semua orang disini masih menerimanya seperti layaknya bukan pembunuh?”

Naruto mengunyah makanannya perlahan. “Tentu saja ia seorang elit. Dianggap tak waras pula. Polisi dan dokter bekerja sama dengan masyarakat sekitar agar tak membicarakan hal ini. Mungkin agar dia tidak tertekan.” Kata Naruto. Sasuke mengangguk. “Bahkan ia dianggap oleh masyarakat sekitar, dermawan, dan sangat baik. Lihat saja, dia sering sekali ke kedai ini. Seharusnya mana mungkin seorang elit datang kemari?” Jeda sebentar, Naruto menyesap kopinya yang telah mendingin. Lalu meletakkannya diatas piringan kecil. “Haah...tetap saja aku tak percaya dengannya. Bisa saja dia berpura-pura tak waras, kebaikan hatinya mungkin sebagai senjata untuk menutupi kejahatannya itu.” Tambahnya.

“Kau terlalu berlebihan Naruto.”

“Terserah.” Naruto mendengus, memilih untuk menghabiskan makanannya. Sasuke mulai merenung. Keadaan di desa ini begitu membingungkan. Setahu Sasuke, polisi itu tidak pernah pandang bulu. Bagaimanapun keadaan si pelaku ia tetap akan menangkapnya. Walaupun si pelaku dianggap tak waras, setidaknya si pelaku akan dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa.

“Terima kasih, tuan.”

Sebuah suara yang begitu anggun mengalun lembut ditelinga Sasuke. Ia menoleh kearah sumber suara. Ternyata suara wanita itu.

Wanita itu tersenyum. “Besok, saya akan datang kesini lagi. Mungkin akan memesan risoto roasted beef.” Katanya.

Pemilik kedai itu tersenyum senang. “Oh! Silahkan nyonya. Saya tidak berkeberatan anda datang kemari, lagi.” Katanya seraya menyerahkan sebuah keranjang besar kearah wanita pink tersebut dan tangan mungil miliknya menyambut, tak lupa dengan sebuah senyuman khas wanita berada.

Ia pergi meninggalkan kedai, dan tak lupa mengumbar senyuman kearah setiap orang yang memerhatikannya, atau bahkan yang menegurnya. Benar-benar wanita yang sangat berattitude tinggi. Bahkan cara berjalannya begitu anggun. Sepertinya ia dididik sangat keras dalam bertingkah laku. Tak heran jika dia begitu sopan. Sasuke masih memerhatikan wanita itu. Ditengah jalan ia dapat melihat wanita itu membantu seorang anak kecil memungut permennya yang terjatuh. Dalam setiap perjalanannya, baru kali ini ia menemukan wanita kaya yang baik hati, tetapi dianggap sebagai pembunuh. Sasuke hanya bisa tersenyum tipis memandang punggung wanita itu yang semakin menjauh dari jangkauan matanya.

...

...

Akasuna Sakura sedang duduk menatap makan malamnya. Tangan kanannya memegang secangkir teh hangat yang mengepul. Makan malam hari ini memang terbilang sederhana. Steak beef yang dihangatkan dan beberapa roti-roti manis yang merupakan kombinasi teman untuk minum teh. Seorang wanita berumur dua puluh lima tahunan dengan perawakan agak tinggi dan berambut hitam, menghampiri majikannya.

Sakura agak terkejut akan kehadirannya yang begitu tiba-tiba. “Ah! Shizune! Kau benar-benar mengagetkanku.” Katanya.

Wanita pelayan itu tersenyum kikuk. “Maafkan saya, nyonya. Saya hanya mengingatkan, bahwa sebentar lagi waktunya nyonya minum obat.” Shizune membungkuk memberi hormat, dan meninggalkan Sakura sendirian diruang makan yang terbilang luas itu.

Ia telah menyelesaikan makan malamnya. Nampaknya hari ini ia memiliki selera makan yang memuaskan. Biasanya Sakura tak akan pernah bisa menghabiskan makanan yang telah tersedia dimeja makan. Mungkin Shizune mengganti chef didapur. Ia bertanya-tanya bagaimana rupa chef  barunya? Apakah seorang pria? Atau wanita? Shizune memang benar-benar hebat dalam memilih orang. Dia tahu benar apa yang ia sukai.

Sakura berdiri dari kursinya dan sedikit memperbaiki gaun tidur satinnya. Ia menatap jam besar yang menempel di dinding dekat dengan ruang tengah. Sudah pukul delapan. Memang ini waktunya minum obat, pikirnya. Ia agak kecewa. Sebenarnya Sakura ingin sekali melihat wajah chef barunya. Alasannya hanya untuk menyambutnya. Ia menaiki tangga besar yang menghubungkan kamarnya. Dua langkah sudah ia menaiki anak tangga tubuhnya terasa melayang. Apakah ini efek dari beberapa hari ini ia tak meminum obat? Mungkin benar. Sakura tak tahan lagi. Ia terduduk di anak tangga yang menurutnya begitu dingin. Bahkan ia tak sanggup memanggil Shizune—kepala pelayan—dirumahnya. Tangan putihnya menekan-nekan kepalanya yang agak sakit. Hingga akhirnya pandangannya menghitam.

...

...

Uzumaki Naruto membuka pintu rumahnya yang terbilang sederhana. Dibelakangnya Sasuke mengekorinya. Mereka berdua keasyikan berjalan menyusuri desa, dan tentu saja Naruto sebagai guide mengantarkan Sasuke dengan senang hati, kemana saja.

“Sudah pukul delapan. Kalau kau mau mandi, silahkan saja. Kau boleh duluan.” Kata Naruto, ia berjalan menuju kamarnya. Sebelumnya ia menyalakan lampu depan, lampu ruang tengah, lampu kamarnya, dan terakhir lampu dapur.

“Tidak, nanti saja.” Tolak Sasuke halus. Ia menghenyakkan pantatnya pada sofa berwarna hitam diruang tengah. “Naruto apa benar kau tinggal disini?” Tanyanya, seraya mengamati tiap-tiap inci ruang tengah yang ada dihadapannya.

“Kenapa? Kau terkejut? Apa ini terlalu kecil untukmu? Dasar anak orang kaya!” Teriak Naruto dari dalam kamarnya.

“Bukan maksudku begitu. Dulu kau orangnya sangat berantakan—“

Dengan cepat Naruto mendahului Sasuke yang akan melanjutkan kata-katanya. “Sasuke... aku sudah lama berpikir bahwa tidak baik juga hidup bermalas-malasan. Membiarkan rumahmu kotor lalu berantakan. Dipikir-pikir mengerikan juga aku waktu dulu.” Ia keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Bajunya yang tadi ia kenakan telah berganti dengan kaos berwarna putih dan celana kain selutut.

“Kukira kau tidak berubah sama sekali. Ternyata ada juga perubahan dalam dirimu.” Sasuke menyeringai melirik Naruto yang kini duduk disisinya dengan ekor matanya.

“Kau meremehkanku, ya Sas—“

“Naruto?” Sasuke memotong pembicaraan Naruto.

“Eh? Ada apa?” Balasnya.

“Apa kau tahu siapa nama wanita tadi?”

Naruto menepuk dahinya keras. “Kukira kau sudah melupakannya ketika kita berjalan mengelilingi desa.” Katanya.

“Mana mungkin aku bisa lupa?” Ada sebersit kegugupan dalam perkataan Sasuke, dan Naruto menyadari akan hal itu.

“Ternyata Uchiha Sasuke kalau sedang jatuh cinta itu begini?” Entah itu permainan cahaya lampu atau apa, Naruto dapat melihat jelas Uchiha Sasuke tengah merona. Ini hal yang begitu langka. Beruntung seorang Uzumaki Naruto bisa melihatnya.

Sasuke mencoba menutupi rasa kegugupannya. “Diamlah! Aku tidak sedang jatuh cinta!” Katanya membela.

“Sudahlah! Jangan mengelak! Kau juga salah, kenapa bisa-bisanya kau jatuh cinta dengan wanita yang dianggap tak waras, sih? Memang  sih ia cantik dan wanita berada. Walaupun begitu, tetap saja ia mempunyai kekurangan.”

“Oi! Kenapa menyalahkanku? Memangnya rasa cinta itu dipaksakan? Rasa cinta itu datang dengan sendirinya.”

“AHA!” Ucapan Naruto sukses membuat Sasuke tersentak. “Apa?” Tanya Sasuke dengan menatap Naruto tajam.

“Kau sudah mengakuinya Sasuke. Kau memang benar-benar jatuh cinta.”

“Sudahlah lupakan saja. Kau jangan berpura-pura mengalihkan pembicaraan Naruto. Kau pasti tahu ‘kan nama wanita itu?”

“Walaupun sudah kukatakan kau harus menjauhinya pasti tetap saja kau akan mendekatinya. Aku sudah tahu perangaimu Sasuke.” Naruto mengambil remote control diatas meja kaca yang bersebrangan dengannya. Ia menekan tombol power, lalu muncullah sebuah gambar bergerak dan bersuara nyaring disebuah benda elektronik yang dinamakan televisi. “Ah... ternyata acaranya sudah habis.” Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia menoleh kearah Sasuke yang nampaknya dari tadi sudah menunggunya mengatakan nama wanita yang kini membuatnya tertarik. “Baik...baik... namanya Sakura. Akasuna Sakura.”

Sasuke nampak agak terkejut ketika Naruto mengatakan nama marga wanita itu. “Akasuna...Sakura.” Ulangnya.

“Ada apa?” Tanya Naruto seraya mengganti-ganti channel televisi tanpa memerhatikan raut wajah Sasuke yang kini dilanda keterkejutan.

“Tidak ada.” Katanya. Sasuke berpikir sebentar, ia mengangguk singkat setelah menimbang sebuah keputusan.

“Besok pagi antarkan aku kerumah Akasuna Sakura.”

“APA? Kau bercanda?” Naruto terbelalak dan tanpa sengaja menghempaskan remote control dilantai.

Mata hitam sekelam malamnya menatap datar televisi yang kini menampilkan seorang pria memakai tux yang membawa nampan dan diatasnya tersaji sebuah makanan restoran kelas atas.

“Tidak Naruto. Aku serius.” Katanya datar.

...

...

To Be Continue...

[Bachootan Author]

Hehehehehe~ baru kali ini diriku memposting fanfiction animanga Naruto dengan fandom SasuSaku [Btw~ saya SS Lovers looh Kyaaaaaaaaaaaaaa~] Errr~ btw, fict ini juga pernah saya publish di akun FFn saya loooh, bagi yang merasa pernah baca, berarti ya... itulah akun saya, yang punya akun FFn silahkan bertandang ke SINI [LINK] hope you like it!!

FF - Naruto - SasuSaku - The Woman in Shadow [Chapter I]

By : Lidatan
Selasa, 10 Juli 2012
0

- Copyright © 2013 Asam Manis Kehidupan - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -