Recent Blog post
Tampilkan postingan dengan label Naruto. Tampilkan semua postingan
Oh! Mr. Hikkikomori
Vanille Yacchan
All Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
...
[Chapter Four
: Encountered, Liar, and a Job]
...
Warning : OOC SASUKE.
Sasuke
mengacak-ngacak rambut ayamnya frustasi. Tangannya bergerak merogoh kantung
jeansnya. Membuka ponsel layar sentuh, dan sekali lagi membaca pesan yang
dikirim oleh si gadis berambut merah muda.
From :
0777xxxx
Dear Uchiha
Sasuke-dono
Kau telah
terpilih menjadi kandidat terbaik sebagai proyek penelitianku. Jika kau ingin
‘Hikkikomori’mu disembuhkan, temui aku di Sanda Park, jam 9 malam.
PS : Kau
bisa sekalian ambil CV yang tertinggal di perpustakaan J
Haruno Sakura
Hell!! Hantu apa yang telah merasuki dirinya? Sekarang ia
benar-benar memenuhi permintaan si gadis
merah muda—Haruno Sakura. Setelah memberitahukan pesan mencurigakan itu pada
Naruto. Pemuda pirang itu tanpa panjang lebar langsung menendangnya pergi.
Dasar kouhai tak berperasaan,
batinnya jengkel.
Sebelum
menutup pintu apartemen, pemuda kuning sialan itu mengatakan, ‘tak baik membuat
gadis manis menunggu.’ Sasuke tak punya pilihan lain, ia bergegas mengambil
jaketnya dan pergi. Sasuke bahkan terlalu bodoh sampai-sampai tidak mengecek
masih pukul berapa waktu itu.
Sasuke
mendengus. Onyxnya mengerling jam di
ponselnya.
Pukul 9 tepat, great!! Di
mana gadis pink itu sekarang?
Selama
satu jam ia sudah menunggu. Berterima kasihlah dengan kebodohannya.
Sasuke
mengembalikan ponsel di kantung jeansnya. Ia duduk di bangku taman sedikit
gelisah.
Pemuda pantat ayam itu menumpu wajahnya.
Hening.
Kemudian
sebuah pemikiran aneh menelisik otaknya.
Apa dia benar-benar akan datang menemuiku? Atau ini
hanya pesan iseng untuk mengerjaiku, mungkin?
Keringat
dingin bermunculan di jidat Sasuke. Kalau dipikir-pikir ini pertemuan ketiga
kalinya dengan si gadis. Ia hanya mengetahui beberapa informasi. Pertama, gadis
belia berambut merah muda itu bernama Haruno Sakura. Kedua, Haruno Sakura
bekerja di sebuah perpustakaan kota. Selebihnya Haruno Sakura adalah gadis
asing yang tak sengaja mengetahui aib memalukan Sasuke.
Bagaimana bisa!?!
Lalu…
Apa maksud Haruno Sakura mengenai proyek penelitian?
Apa semacam proyek liburan musim panas anak SMA? Kemudian aku yang dijadikan
sebagai kelinci percobaan, begitu? Heh… benar-benar gadis sialan! Pikir
pemuda raven itu jengkel.
Atau… jangan-jangan gadis itu mata-mata dari sebuah
organisasi rahasia yang ingin menjebakku tetap menjadi hikkikomori selamanya, teriak
batin Sasuke ngeri.
“Tidaktidatidaktidaktidaktidak.”
Pemuda
berambut buntut ayam itu bergumam sembari mengacak rambutnya. Kalau begitu ia
seharusnya tidak membiarkan nalurinya yang menyedihkan itu menuntun semua
sel-sel otot geraknya menuju taman Sanda untuk memenuhi permintaan gadis merah
muda itu. Ia harus secepatnya pergi dari sini!
“Apanya
yang tidak?”
Secepat
kilat Sasuke memalingkan wajahnya. Onyxnya
membulat.
Eeeek!! Ia benar-benar dataaaang!! Chikusoooo!!
Terlambat
sudah.
Di sana.
Gadis
berambut merah muda—Haruno Sakura—dengan wajah bingung menatap Uchiha Sasuke. Emeraldnya menyipit tajam, “Kenapa kau
melarikan diri dari interview? Padahal
tidak banyak pelamar di sana,” langkah kakinya yang kecil itu
menuntunnya ke samping pemuda Uchiha yang kini tak bisa berkata apa-apa. Haruno
Sakura menghenyakkan pantatnya di bangku taman, “Tapi tak masalah.”
Sasuke
yang tak biasa didekati oleh orang asing sedikit tersentak.
“Karena
aku tahu cara untuk keluar dari kehidupan hikkikomori menyedihkanmu itu,” ucapnya
percaya diri, sebuah senyuman manis terbit di bibir mungilnya.
Sasuke
benar-benar tercengang mendengar ucapan Haruno Sakura.
Apa-apaan gadis ini? Dia pikir mudah untuk
menyembuhkan penyakit hikkikomoriku? Apalagi gadis ini dilihat-lihat dari
postur tubuhnya masih bocah. Pikirnya
sinis.
Sasuke
mendengus. Lalu perhatiannya tertuju ke sebuah papan peringatan yang tertancap
di antara semak-semak. Spontan jarinya menunjuk ke arah papan peringatan itu.
“Hati-hati
orang mesum bebas berkeliaran!! Gadis belia sering diserang di area ini. Apa
kau yakin aman memanggil orang mencurigakan sepertiku?”
Emerald itu berkedip. Kemudian dengan wajah tanpa dosa Haruno
Sakura membuka mulutnya, “Sasuke-kun kau seorang penjahat?”
BRAAK!!
Spontan
pemuda Uchiha itu bangkit dari duduknya, “Tidak! Apa kau bodoh?!?” ia
benar-benar tidak terima dicap sebagai penjahat. Hell!! Walaupun Sasuke menderita hikkikomori, dalam akal
sehatnya ia tidak akan mungkin melakukan tindakan asusila. “Dan… jangan
seenaknya memanggilku ‘Sasuke-kun’!?!?”
Kemudian
sebuah tawa mengalun di bibir gadis merah muda itu. Sasuke kembali duduk di
bangku taman. Menahan kejengkelannya terhadap Sakura.
“Tenang
saja, rumahku dekat dari taman, kok.”
Tiba-tiba
sebuah pertanyaan yang sedari tadi menjadi perdebatan di dalam otaknya
terlintas di pikiran pemuda Uchiha itu, “Apa maksudnya proyek penelitian ini?
Aku yakin kau hanya main-main, kan?”
Gadis
merah muda itu mendesah, “Aku benar-benar serius. Karena aku berhutang sebuah
permintaan dari seseorang.”
Kening
Sasuke mengerut dalam, “Haaah!?!?”
Emerald Sakura memandang lurus, ekpresi cerianya berubah
menjadi sendu, “Karena aku ini tak lain
hanya peganggu bagi orang itu. Makanya… aku pikir, aku ingin sesekali
menolongnya.”
Onyx Sasuke tak lepas dari Sakura. Ia mendengarkan dengan cermat.
Walaupun sedikit bingung ke mana arah pembicaraan Sakura.
“Jadi,
jika kau ingin mengetahui jalan keluar dari kehidupan hikkikomori, bergabunglah
dalam proyek penelitianku,” emeraldnya
memandang Sasuke penuh harap.
Pemuda
Uchiha itu menggelengkan kepalanya lalu mendengus, “Heh… asal kau tahu saja,
aku bukan hikkikomori…”
“Bohong!”
Sela Sakura cepat. “Ketika ibuku menawarkan selebaran ajakan sosialisasi, kau
terang-terangan membeberkan rahasia memalukanmu itu!”
Kontan
saja Sasuke bagaikan tertancap anak panah tak terlihat setelah mendengar
kalimat tak terduga dari bibir Sakura.
Jadi, wanita sialan itu ternyata ibunya gadis aneh
ini? Teriak batinnya histeris.
Lalu, kenapa
pada malam kejadian laknat itu Sakura ada di komplek apartemennya?
Seakan
mengerti ekspresi bingung Sasuke. Sakura mencoba menjelaskan, “Ibu terlalu lama
mengobrol dengan calon kliennya. Aku bosan, jadi memilih pulang saja,” lalu ia
terkikik. “tahu-tahu aku disuguhkan dengan kejadian memalukan. Beruntung sekali
aku memilih pulang waktu itu.”
Akkhhh!!
Sasuke
mengerti apa maksudnya. Ternyata kami-sama
membuatnya membayar apa yang telah ia lakukan. Kembali bertemu dengan gadis
aneh berambut merah muda, bahkan gadis ini dengan percaya diri menawarkan
proyek secara gratis untuk menyembuhkan penyakit hikkikomorinya. Great!! Fabulous!! Amazing!!
Bolehkah sekarang ia menggali lubang kuburannya sendiri?
Sasuke
mendadak bangkit dari duduknya—lagi.
Ia harus menjelaskan sesuatu. Sesuatu yang dapat mengenyahkan pikiran dari otak
gadis itu mengenai dirinya yang menderita hikkikomori.
“A-aku…
sebenarnya aku hidup memang seperti hikkikomori. Tapi…” Sasuke memutar gerigi
otaknya yang pintar, mencoba mencari sebuah alasan yang logis. “Kau tahu… aku
berbeda dari rata-rata hikkikomori lainnya.”
Satu alis
Sakura terangkat, “Berbeda bagaimana?”
Sialan!! Bocah merah muda ini benar-benar tidak bisa
dibohongi!!
“Uhhh…
kau tahu… semacam kantor kecil yang berada di rumah. Yaa!! Aku dipaksa bekerja
di rumah oleh perusahaan…”
Tidak masalah!! Katakan apa saja agar gadis ini
benar-benar percaya padamu!!
Sakura
kelihatannya berpikir sejenak. Lalu emeraldnya
memandang onyx Sasuke, “Memangnya
jenis pekerjaan apa yang kau kerjakan di rumah?”
Sasuke
tertawa gugup, “Ak-aku terkejut kau menanyakan hal itu,” onyxnya berputar-putar, sekali lagi mencoba memutar otaknya. Ia
berharap Haruno Sakura tidak menyadari ekspresi gugupnya. “Aku seorang
kreator,” lanjut Sasuke.
Hening.
Sakura
terdiam, sepertinya mencoba mencerna ucapan yang baru saja dikatakan Sasuke.
Ekspresi datar Sakura terus terang saja membuat Sasuke tambah gugup. Tiba-tiba
gadis merah muda itu tersenyum mengejek seakan tidak percaya, “Heeeeee… jadi,
apa yang kau buat?”
Sial!
Keringat
dingin mulai membanjiri tubuh Sasuke. Ia harus mencari alasan lagi.
Benar!! Ucapkan apa saja yang terlintas dipikiranku.
“K-kau
tahu… aku bekerja di bidang revolusioner. Y-ya!! Aku bekerja membuat software komputer. Seperti Bill Gates
atau Linus Trovald. Orang berkulit putih yang menguasai dunia teknologi,
ha-ha-ha,” Sasuke tertawa hambar sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
Bagus! Sekarang kita lihat bagaimana reaksi gadis ini.
Krik…
krik…
Emeraldnya menatap Sasuke bosan. Seakan-akan Sasuke baru saja
mengisahkan cerita yang tidak masuk akal.
“Heeeee~~~~”
Sasuke
membeku.
Apa-apaan gadis ini!?!
Semua
ucapan yang dikatakan Sasuke sepertinya tidak membuat Sakura percaya. Pemuda
Uchiha itu berpikir ia baru saja membuat kehidupannya yang tenang mendadak
dihujani meteor.
Benar-benar kacau!
…
…
“Jadi,
kau mencoba mengesankan seorang gadis manis dan setelah mengatakan kebohongan
itu kau melarikan diri?”
TAAK
Naruto
meletakkan dua gelas kopi di meja. Salah satunya ia berikan pada Sasuke yang
kini diselimuti aura gloomy.
Sepertinya Sasuke menyesali apa yang telah ia katakan. Seandainya ia tidak
memenuhi permintaan Sakura. Semua kebohongan itu pasti tidak akan pernah terjadi.
Sial.
Naruto
mendesah. Apa susahnya sih mengatakan
kalau Sasuke benar-benar menderita hikkikomori? Lagipula gadis yang diceritakan
senpainya itu menawarkan jasa yang menguntungkan bagi pemuda berambut buntut ayam
ini.
Terkutuklah Uchiha dan harga diri mereka yang
menyebalkan itu! Pikir Naruto jengkel.
“Senpai, kau benar-benar… tidak habis
pikir,” Naruto mengeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Untuk memuluskan
kebohonganmu itu aku akan membantumu, begitu?” lanjutnya sambil sesekali menyesap
kopi panas buatannya.
“NARUTOOOOO!!
TOLONG!! KAU SATU-SATUNYA ORANG YANG BISA MEMBANTUKU!!” Sasuke membungkukkan
tubuhnya. Menghancurkan harga dirinya yang tinggi. Memohon pada kouhai berambut pirang yang sekarang ia
anggap sebagai saudaranya sendiri.
“Se-senpai kau tidak butuh merendahkan
kepalamu jika menginginkan bantuanku,” Naruto tersentak sembari menenangkan
Sasuke yang kelihatannya sudah mencapai batasnya.
Guuoooohh… ini semua kulakukan demi diriku sendiri
Naruto. Aku yang memulai semuanya. Arrghhh… Kenapa aku harus mengatakan
kebohongan besar seperti itu?
“Hmm… aku
mengerti,” suara Naruto membuyarkan penyesalan inner Sasuke. Pemuda Uchiha itu menegakkan tubuhnya. Ia tidak tahu
bagaimana membalas kebaikan kouhainya
nanti. Membelikan sesuatu untuk Naruto? Hmm, itu tidak mungkin. Kita tahu
Sasuke sekarang dilanda ambang kemiskinan.
“Karena
kau mengatakan sebagai seorang kreator. Jadi, mari kita pikirkan jenis
kemampuan apa yang dibutuhkan seorang kreator.”
Sasuke
melongo, “Kemampuan?”
Naruto
melirik Sasuke heran seakan senpainya itu benar-benar bodoh.
Rupanya hikkikomori sudah membuat otak pintarnya itu
membeku, pikir Naruto kasihan.
“Sebagai
kreator kau harus bisa menggambar, menggubah musik, dan menguasai bahasa
pemrograman,” Naruto menjelaskan.
Sasuke
mendesah pelan. “Semua kemampuan itu… tidak ada yang kukuasai. Kemampuan yang
kukuasai hanya menjadi hikkikomori.”
Naruto
meringis, “Sudah kuduga.” Kemudian ia tersenyum canggung. Tiba-tiba saraf di
otak Naruto mendeteksi sebuah ide brilian, “Ah, mungkin kau bisa menulis
karangan, senpai. Di dekat sini ada
kelas menulis sastra. Kau bisa mendaftar kelas itu.”
“Uheeeeee~~~~
tidaktidaktidaktidaktidak,” Sasuke menolak sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“tidak ada gunanya!! Terakhir kali aku menulis ketika SMP. Betapa menyusahkan.”
CTAK
Perempatan
sudut muncul di jidat Naruto. Ia sudah berusaha mencoba membantu. Tapi, apa
yang ia dapat? Kelakuan Senpainya yang
benar-benar membuatnya kesal.
Sialan kau Uchiha Sasuke!! Teriak inner Naruto kesal.
“Baiklah…”
Naruto menghela napas pelan, tiba-tiba suasana berubah mencekam, “Apa kau ingin
menjadi seorang kreator?” nada suaranya yang cempreng itu berubah serius. Mata
birunya mendelik tajam ke arah Sasuke, giginya bergemeletuk menahan amarah,
“Apa kau sungguh-sungguh mau melakukannya, huh?”
Sasuke bersusah
payah menelan salivanya. Baru kali ini Sasuke merasa terancam dan yang lebih
mengejutkan Naruto benar-benar berhasil membuat Sasuke ketakutan. Ha-ha dunia
mungkin sebentar lagi akan berakhir. Dengan gugup pemuda raven itu membuka
mulutnya, “Y-ya, tak masalah. Aku bisa menulis, Naruto!! Aku bisa membuat plot
yang bagus!”
Inner Naruto menyeringai menang.
Gotcha!! Akhirnya!!
“Sungguh?”
Aura mencekam itu luruh seketika. Pemuda kuning itu nyengir, “Bagus! Kalau
begitu kita akan mengambil jalan sebagai kreator game!”
Hening.
Kemudian
terdengar suara teriakan bak banshee
dari mulut seorang Uchiha, “UOOOOOO!! SIALAN KAU LUAR BIASA NARUTO!!”
“Sudah…
sudah… senpai…” Pemuda kuning itu
berbisik mengingatkan Sasuke agar tenang. Kelakuan Sasuke luar biasa tidak
terduga. Kemana perginya sifatnya yang biasanya terkontrol itu?
Setelah
sedikit tenang, Sasuke kembali membuka mulutnya, “Jadi, game apa yang akan kita
buat?”
“Ahh…
sebelum itu,” mata
biru Naruto menyipit tajam, “senpai, kau harus
berjanji padaku.” Sasuke merespon dengan anggukan singkat.
“Jika
kita tetap terus menjalankan proyek ini, mungkin kita akan banyak menumpahkan
darah. Tapi aku tidak akan menginzinkan senpai
berhenti setengah jalan,” air muka pemuda kuning itu mengeras, Naruto
Uzumaki benar-benar serius.
“Yeah!
Kau bisa menyerahkannya padaku. Aku akan baik-baik saja! Jika itu demi menjadi
seorang kreator, aku akan melakukan apa saja. Aku berjanji, Naruto!!”
Naruto
mengangguk-angguk sembari bergumam ‘bagus… bagus…’
“Jadi,
jenis game apa yang akan kita buat?” sekali lagi Sasuke menanyakan.
Uzumaki
Naruto tersenyum misterius, kelopak matanya menutup sesaat, seolah-olah
memberikan efek dramatis. Kemudian turqouisenya
itu menatap lurus onyx Sasuke, dengan
ekspresi santai Naruto berujar, “Erotik!”
“Eh?”
Apa yang
barusan ia dengar? Telinganya tidak
salah dengar, kan?
Melihat
senpainya tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mendengar ide cemerlang Naruto,
pemuda Uzumaki itu kembali menjelaskan, “Game erotik untuk pasar pemain di
bawah umur sekarang sangat menjanjikan,” Naruto memajukan tubuhnya, ia
tersenyum bak om-om mesum yang sedang melihat mangsanya. “Kita akan menjajaki
posisi teratas panggung dunia erotika! Setelah itu kita akan mendapat penghargaan
dari kerja keras kita! Benar-benar menakjubkan, bukan?”
Menakjubkan apanya, hah?
Sasuke
tersenyum hambar. Ekspektasi yang baru saja ia gantungkan pada pemuda kuning
Uzumaki itu melebur berkeping-keping.
Kouhai brengseknya itu akan meyeretnya ke dalam dunia
kebejatan.
Sekarang
apa yang harus ia lakukan?
Tiba-tiba
saraf otaknya mengingat Haruno Sakura yang menawarkan untuk menyembuhkan
penyakit hikkikomorinya.
Jalan
terang satu-satunya yang ia miliki.
Tidaktidaktidaktidak.
Sasuke
akan melanjutkan proyek membuat game bersama Naruto walaupun pekerjaannya
dianggap kriminal.
Yah, ini
semua demi harga dirinya untuk menghindari Haruno Sakura dan proyek penelitiannya
yang menganggu itu.
.
.
.
.
To Be
Continue...
FF - Naruto - SasuSaku - Oh! Mr. Hikkikomori [Chapter 4]
Oh! Mr. Hikkikomori
Vanille Yacchan
All Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
...
[Chapter Three : Regret Tears, Suicide, and
Message]
...
Warning : OOC SASUKE.
.
.
Jika salah satu
saudaramu bertanya, apa sih yang paling menyebalkan di dunia ini?
Mungkin di antara beberapa orang akan menjawab hal yang paling menyebalkan
adalah kegiatan menunggu. Yeah, menunggu merupakan rutinitas
yang kerap kali membuat kita gelisah, emosi, berpikiran pesimis, apalagi orang
yang kita tunggu tidak datang tepat waktu rasanya ingin sekali menampar
wajahnya dan mengatakan 'berhentilah membuatku menunggu'.
Tetapi, kategori
menunggu bukan sesuatu hal yang paling dibenci oleh pemuda kuning yang kini
melotot ngeri ke arah komputer layar flatnya.
Uzumaki Naruto dan
ketololannya adalah sebuah bukti nyata bahwa pemuda kuning itu sangatsangatsangat
membenci dirinya yang begitu tergesa-gesa. Baru saja pemuda Uzumaki itu berniat
memformat USB flashdisk miliknya, tetapi karena dirinya yang bisa
dibilang terlalu mempercayakan insting daripada otaknya, ia hanya asal
menceklis kotak dialog yang tiba-tiba muncul di layar komputer dan mengklik button
OK. Alhasil, pemuda kuning itu tiba-tiba menyadari bahwa ia begitu tolol!
Kenapa?
Karena Naruto telah
berhasil—atau tak sengaja—memformat hardisk komputernya.
Segera, pemuda
Uzumaki itu mencoba menekan shortcut yang tersedia di keyboard
guna menghentikan proses pembersihan data. Tetapi apa yang ia dapat? Komputer
layar flatnya sama sekali tak merespon. Ia menggebrak keyboard,
rasa frustrasi menjalari otaknya.
Akh! Semua
data-dataku telah lenyap! teriak batinnya histeris.
Mungkin, jika kalian
dihadapkan dengan situasi seperti itu, kalian akan menangis tersedu-sedu dan
berteriak sekencang-kencangnya atau lebih buruknya kalian akan memecahkan salah
satu barang, baru akan merasa puas.
No-no! Hal
yang seperti itu pasti tidak akan mungkin terjadi. Karena Uzumaki Naruto adalah
lelaki kuat. Pemuda itu hanya mengutuk ketidakjeliannya yang benar-benar buruk.
Naruto menghela
napas lemah, otaknya mulai berpikir apakah kejadian ini merupakan karma yang
telah ia lakukan terhadap senpainya? Balas dendam, ya, balas
dendam karena senpainya telah melecehkan Mikarin tersayang. Pemuda kuning itu
memutar tubuhnya dengan kursi putar, ia menatap nanar ke arah figur gadis maid
robo—Mikarin—yang ia letakkan di lemari sudut ruangan.
"Apa yang harus
ku perbuat, Mikarin?" bisiknya lemah.
Oh, ayolah Naruto!
Kau seharusnya jangan mengajak sebuah boneka robo bicara. Tentu saja, karena ia
hanya seonggok karet yang dibentuk menyerupai seorang gadis maid robo.
Pastinya ia tak akan mau repot-repot merespon pertanyaan bodohmu.
Tetapi karena Naruto
sudah menganggap Mikarin benda hidup, setiap ia berkeluh kesah satu-satunya
orang—benda—yang paling tepat mendengarkan curahan hati sang Uzumaki muda ini
adalah gadis maid robo miliknya.
Pemuda kuning itu
menghela napas lagi, ia hendak bangkit dari duduknya, tapi tiba-tiba saja ada
sebuah tangan yang merangkul pundak tegasnya itu. Alhasil, pemuda kuning itu
terhentak di atas kursinya yang empuk.
"Moshi-moshi,
Naru-kyuun~~!" seru sebuah suara centil menembus indra pendengaran Naruto.
Pemuda itu segera menoleh dan mendapati seorang gadis dengan perawakan yang
sama seperti boneka maid robo miliknya keluar dari layar flat komputer
yang kini menggelap.
Ya, itu kenyataan.
Apa perlu diulang? Seorang gadis dengan perawakan yang sama seperti
boneka maid robo miliknya keluar dari layar flat komputer yang
kini menggelap.
Uzumaki Naruto tidak
hanya penderita akut delusif tetapi ia juga penderita akut nijikon. Pemuda
kuning itu terlalu sering mengandai-andai jika Mikarin memang nyata, dan tak
dapat di duga sel-sel saraf di otaknya itu mampu merefleksikan figur gadis maid
robo yang dicintainya itu benar-benar menjadi nyata—tentu saja
hanya ia yang dapat melihat Mikarin.
"Nee,
Naru-kyuun, kau ada masalah?" gadis imajinasi Naruto itu bertanya,
sepertinya Mikarin menyadari Naruto terlihat tak seperti biasanya.
Naruto menundukkan wajah,
aura gloomy terpancar di seluruh tubuhnya, "Semua game yang
memuat dirimu, beribu-ribu manga online yang ku download, ero game yang belum
kumainkan, link bookmark yang kusimpan, musik anime, data-data dan
semua password akun milikku lenyap karena kebodohanku!" jeritnya
histeris.
Mikarin mendekap
erat bibirnya sesaat, bola mata besarnya yang berbeda warna—jade dan aqua
blue—itu terbelalak ngeri, "Mikarin tak tahu isi semua data-data di
komputer itu sebegitu penting untukmu, Naru-kun," sahut Mikarin parau.
Kini gadis itu menitikkan air matanya, hati gadis itu serasa tercabik-cabik
ketika menatap Naruto bersedih.
Mikarin mengulurkan
kedua tangannya, menyentuh erat kedua bahu lebar Naruto, "Jangan khawatir
Naru-kun. Kau tidak akan sendirian lagi, bukankah Mikarin akan ada untukmu
ketika kau sedang susah?"
Pemuda Uzumaki itu
megangkat wajahnya, menatap Mikarin yang masih memasang wajah sedih. Ia merasa
sedikit bersalah membuat gadis imajinasinya itu menangis demi kebodohannya yang
di ambang batas, iris turquoisenya itu berkilat cerah. Sebuah senyuman
terpatri di wajahnya. Langsung saja, pemuda kuning itu memeluk erat Mikarin
yang selalu muncul di saat kesedihan melanda dirinya.
"Arigatou,
Mika-chan."
"He-he-he...
Mikarin senang kalau Naru-kun senang," balas gadis itu sembari tangan
mungilnya mengelus helaian rambut pemuda kuning itu lembut.
"Mungkin aku
mendapat karma karena membiarkan senpaiku kelaparan," tiba-tiba Naruto
berujar, ia melepaskan pelukannya. Kontan saja membuat Mikarin mengerutkan
keningnya bingung.
"Naru-kun,
memangnya karma bisa membuat komputermu seperti itu, ya?" tanya Mikarin
sembari dengan pose berpikirnya.
Ah, seketika otak
pemuda kuning itu ingat. Ketika ia berhasil membuat gadis imajinasinya itu
menjadi nyata, Mikarin muncul dengan sifat polosnya yang membuat Naruto
kelimpungan.
"Setahuku,
bukankah itu karena kebodohanmu? Ya, kan? Ya, kan?" imbuh Mikarin
Kontan saja, kalimat
itu membuat Naruto seperti dihantam batu besar. Kau terlalu jujur
Mika-chan, sahut batinnya merana. Kini pemuda kuning itu tersenyum hambar.
"Ah, apakah
ucapan Mikarin membuatmu tak senang?"
Naruto hanya
merespon dengan tawa hambar yang dibuat-buat. Mikarin nyengir lebar, merasa tak
berdosa dengan ucapannnya barusan. Benar-benar cewek naif.
"Mungkin kau
bisa mengundang senpaimu itu makan malam di apartemenmu, Naru-kun! Kudengar
dari paman Televisi, ia frustrasi kehabisan uang!" sembur Mikarin, kini
gadis itu berjalan menuju lemari berisi tankouban-tankouban manga. Ia mengambil
salah satu manga dari lemari dan membukanya. Sebuah senyuman terlukis di wajah
gadis itu.
Kening pemuda kuning
itu mengerut bingung. Bukan! Bukan bingung karena senpainya itu kehabisan uang,
hal itu sih sudah biasa. Tapi, karena paman Televisi! Sejak
kapan senpainya itu punya kenalan? Dan memangnya ada di dunia ini orang tua
dengan rela menamakan anaknya Televisi? Memikirkannya saja sudah membuat
gerigi-gerigi otak pemuda kuning itu hampir rusak.
"Ee..to… paman
Televisi?" ulang Naruto sembari menggaruk pipinya yang tak gatal. Mikarin
yang masih sibuk dengan manganya hanya merespon dengan anggukan singkat.
Kontan saja, ruangan
apartemen kecil itu diselimuti oleh gelak tawa Naruto, "Paman Televisi?
Hahahaha… Sasuke senpai punya teman aneh! Hahaha…"
Mikarin menjauhkan
manganya, menatap Naruto heran. Apa yang lucu dari paman Televisi? Pikirnya.
Mengangkat bahu, gadis itu membiarkan Naruto terbuai dengan lelucon garingnya.
Mata beda warnanya kembali menatap gambar hitam putih yang terpampang di
hadapannya. Sedetik kemudian sebuah tawa halus terdengar dari mulut gadis
imajinasi itu.
"Haha… paman
Tele…haha…visi…hahaha…" pemuda kuning itu masih saja tergelak dengan
lelucon garingnya. Sungguh Naruto, selera humormu cukup buruk.
…
…
"Mati aku… mati
aku… mati aku… mati aku… mati aku…"
Di sepanjang jalan
Sasuke tak henti-hentinya menggumamkan kalimat itu. Pemuda bermarga Uchiha ini
sangat kacau. Setelah akal sehatnya berniat untuk menjadi manusia berguna,
ternyata takdir buruk masih menghadangnya. Kenapa harus ada gadis itu di
sana! Batinnya berteriak histeris. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Jika bertemu dengan
gadis itu lagi. Ia tak tahu bagaimana menghadapinya nanti. Mungkin lebih baik
ia tetap mengurung dirinya di apartemen hingga membusuk. Ya—mungkin itu cara
yang lebih baik, pikirnya, kemudian ia menyeringai aneh. Tanpa sengaja dua
pasang sejoli yang melintas melihat senyumnya itu. Mereka bergidik dan langsung
berlari menjauh.
Sasuke yang melihat itu
hanya menghela napas pasrah.
Pasti mereka
menganggapku penguntit! Ah! Terlalu lama menjadi hikkikomori membuatku tak tahu
lagi bagaimana caranya tersenyum dengan normal. Pikirnya frustrasi.
Ia bergegas
melangkahkan kakinya menuju apartemen dan menutupi setengah wajahnya dengan
syal hitam yang saat ini ia kenakan.
"Kenapa waktu
terasa sangat lamban!" protesnya, karena dari tadi kecepatan kakinya
melangkah sama seperti binatang berlendir yang jalannya lamban.
…
…
BAAM
Pemuda Uchiha itu
menggebrak pintu apartemen sembari berteriak, "DUNIA YANG LEBIH
MENYENANGKAN HANYA ADA DI DALAM APARTEMEN INI!"
Segera Sasuke
melangkah masuk dan menutup pintu itu dengan keras. Ia tak peduli jika tetangga
apartemennya terganggu, yang lebih penting ia harus menyelamatkan dirinya.
Dunia luar itu sangat kejam.
Pemuda itu terduduk
dan menyandar di pintu. Ia mendesah sembari mengacak rambut buntut ayamnya.
Oh, ayolah!
Seperti itu saja kau sudah menyerah? Tiba-tiba Sasuke mendengar sebuah
suara di dalam dirinya, ujian hidup yang sebenarnya masih terbentang jauh.
Kalau kau sudah menyerah seperti itu, lebih baik kau mati saja sana!
Ah! Benar! Untuk apa
ia terus-terusan hidup? Manusia lemah dan rapuh seperti dirinya memang tak
pantas untuk bersaing di dunia ini. Lagipula jika ia mati, populasi manusia tak
produktif akan sedikit berkurang. Pemikiran yang sangat sempurna.
Sasuke bangkit dari
duduknya. Ia mengambil sebuah pestisida, pencair cat, dan memungut kecoa mati
yang tergeletak di samping bajunya di lantai.
"Setelah aku
mencampur bahan-bahan mematikan ini, lalu meminumnya secara perlahan, pasti
rasa sakit menuju kematian itu tak terasa, he…he…he," kekehnya.
Sasuke mulai
mencampur semua bahan percobaan bunuh dirinya ke dalam gelas sembari tersenyum
mengerikan—layaknya ilmuan gila yang ingin menghancurkan dunia.
… Selesai.
Iris onyxnya
memperhatikan gelas itu. Kecoa mati mengambang di atas cairan bening yang
baunya cukup menyengat. Apa benar ia cukup waras ingin meminumnya? Tidak!
Tidak! Sasuke sekarang memang dalam keadaan sangat sinting!
Dengan ekspresi
datar ia mulai menjulurkan tangannya, mengambil gelas yang berada di atas meja.
Sasuke menelan salivanya. Setengah bagian dirinya berteriak, 'kau masih bisa
kembali, kau masih bisa memperbaiki hidupmu yang menyedihkan itu. Jadi jangan
sia-siakan hidupmu!' setengah bagian dirinya yang lain memberontak, 'mati saja
sana! Memangnya kau mau seumur hidup tak punya pekerjaan? Jadi perjaka busuk,
menambah beban keluargamu saja! Dasar manusia menyedihkan!'
Ia menggelang cepat.
Mana yang harus ia pilih? Akkh! Otaknya menjadi gila! Bunuh diri saja susahnya
minta ampun! Sasuke menarik napas dalam, pemuda itu sudah memprediksi akan jadi
seperti ini. Seolah meblokir semua hasutan yang mengganggunya, pemuda itu
menganggukkan kepala, lalu menutup rapat kelopak matanya. Sasuke dengan tegas
kembali pada keputusan awal, 'lebih baik mati saja!'
Ini akan menjadi
perjalanan yang sangat singkat, bisa saja di kehidupan keduanya nanti, ia akan
menjadi bos besar atau yang lebih buruknya ia tetap bereinkarnasi menjadi
seorang hikkikomori busuk.
Tak apa! Setidaknya
ia pernah berusaha mengubah takdirnya dengan cara mengakhiri hidupnya lalu bereinkarnasi.
Oh! Ayolah Sasuke!
Memangnya kau hidup di zaman apa? Pikiranmu sekolot itu? Memangnya ada di
dunia ini reinkarnasi? Bisa saja kau menjadi arwah gentayangan yang setiap
malam mengetuk pintu rumah orang tuamu dan meminta dicarikan pekerjaan.
Semuanya jadi tak masuk akal!
Sasuke mendesah, ia
mulai mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Sensasi pestisida dan pencair cat
menembus penciumannya.
Ini buruk
sekali!
Tiga senti…
Dua setengah senti…
Ekspresi wajahnya
mulai mengkerut. Ah! Apakah ia harus benar-benar mati?
Dua senti…
Bagaimana dengan
orang tuaku nanti setelah mendengar kematian anaknya? Pikirnya kalut.
Satu setengah senti…
Apakah ia harus mati
dengan cara tak elit seperti ini? Ayolah Sasuke, jika kau memang benar-benar
berniat ingin mati, cukup teguk racunmu, seketika rohmu melayang menuju alam
baka, kemudian selesai.
Satu senti…
Sasuke meringis, ia
menutup hidungnya. Sasuke hendak meneguk racunnya dan bersamaan dengan itu
pintu depan terbanting keras.
"SENPAI!...
UWAAAAAH!"
Naruto bergegas
menyingkirkan gelas di tangan Sasuke, "Apa yang kau lakukan? Apa otakmu
sudah tak bekerja lagi? Masa kau mau makan itu—" pemuda kuning itu
menunjuk sang kecoa mati yang menempel di dinding, pemuda Uzumaki itu menggigil
karena ngeri.
Sasuke tertawa
hambar, kemudian menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Ia mulai menangis keras.
Naruto mengerutkan keningnya,
"Senpai! Apa kau sebegitu frustrasinya karena tak punya uang hingga ingin
memakan itu? Seharusnya kau bilang padaku kalau kelaparan! Di apartemen masih
ada sepuluh dus mie ramen instan."
Ah! Rupanya ada yang
salah paham!
"Senpai!"
panggil Naruto, Sasuke malah mengeraskan tangisannya.
Dasar baka!
Baka! Batin Sasuke berteriak. Kemudian Sasuke mengangkat wajahnya, ia
menoleh ke arah Naruto. Air matanya dengan deras mengalir, "Apa yang kau
lakukan! Padahal sebentar lagi aku sampai di alam baka!"
Turquoisenya itu membesar, "APA?" sergahnya,
kemudian bau pestisida dan pencair cat menembus indra penciuman pemuda kuning
itu. Ekspresinya menjadi geram. Sungguh Naruto, responmu lamban sekali.
Naruto mengulurkan
tangannya dan menyentuh bahu Sasuke, "Apa yang kau lakukan senpai? Jika
kau mati, apa yang harus kujelaskan dengan polisi ketika meminta keterangan
kematianmu? La-lalu jika aku dituduh menjadi tersangka, bagaimana hidupku
dipenjara nanti? Kehidupanku sebagai penikmat 2D berakhir!" sergahnya sembari
mengguncang-guncang tubuh Sasuke.
Sasuke dengan cepat
menyingkirkan kedua tangan Naruto di bahunya, "Kenapa kau malah
mengkhawatirkan dirimu sendiri? Kau lebih senang kalau aku mati jauh-jauh dari
apartemen ini, begitukah?"
"Bu-bukan
begitu!" sahutnya kemudian, "hanya saja—aku tak pintar kalau
berurusan dengan polisi. Aku jadi gugup, tahu!" semburnya.
"Aku tidak
peduli! Yang jelas, kau sudah menghancurkan ritual pembebasan roh di dalam
tubuhku!"
Naruto tersenyum
kecut, pemuda kuning itu berpikir mental senpainya ini benar-benar sudah tak
bisa diselamatkan! Ia mendesah, "Lebih baik kau ke apartemenku saja
senpai!"
Satu alis Sasuke
terangkat, "Hah?"
Tanpa basa-basi
Naruto menarik senpai menyedihkannya itu ke apartemen miliknya.
…
…
"Oh,
jyadikwaubwetmu dwengan gwawis witu?"
Sasuke meringis
jijik, "Telan dulu makananmu ketika kau hendak bicara! Menjijikan!"
lalu Sasuke menyesap Oolong tea perlahan, ah~ sekarang dirinya lebih
tenang.
Pemuda kuning itu
menelan makanannya, seketika ia tersedak, segera meraih minuman di hadapannya,
lalu meneguknya dengan cepat, "Gwuah! Ahahaha… gomen… gomen…"
"Kau
menjijikan!" gumam Sasuke menatap Naruto datar.
Kau lebih
menjijikan senpai, balasnya dalam hati. Naruto tak mau mencari masalah
dengan senpainya sekarang. Bisa-bisa nanti ia jadi korban pembunuhan setelah
apa yang ia lihat tadi, "Jadi, kau bertemu dengan gadis itu?"
ulangnya lagi mengklarifikasi.
"Hn! Bukankah
aku sudah menjelaskannya tadi? Gadis kemarin, yang melihatku hendak membuang
boneka laknatmu itu!" sahutnya sembari memejamkan matanya sesaat.
Entah kenapa ada
perasaan senang di dalam diri Naruto. Ternyata Sasuke senpai kena batunya!
"Kenapa kau
terlihat senang?" sembur Sasuke yang sadar akan ekspresi pemuda kuning
itu. Segera Naruto mengelak, "Ti-tidak! Aku hanya berpikir, mungkin saja
gadis itu ditakdirkan menyembuhkan penyakit hikkikomorimu itu, senpai!"
"Kau mengigau
ya?" sahut Sasuke dengan enteng, "Di dunia ini sudah menjadi aturan
kalau mengigau itu hanya saat tidur saja. Jadi enyahkan pemikiran itu dari otak
dangkalmu!"
Naruto terpancing
emosi, rasanya ia hendak sekali merobek-robek mulut senpainya yang tak ada
manis-manisnya itu. Dengan segera pemuda kuning itu ingat, hari ini ia tidak
boleh marah. Hari ini hari spesial untuk menyenangkan hati senpainya itu.
Naruto tertawa tertahan, "Benar juga katamu, sen-pai!"
Sasuke medesah, ia
tak sadar jika ada aura membunuh menguar di tubuh Naruto. Onyxnya itu memandang Naruto yang menunduk, pemuda Uchiha
itu jadi bingung. Seharusnya yang di sini menderita itu dirinya, kenapa pemuda
kuning itu yang terlihat nampak menderita? Dasar Sasuke bodoh! Naruto terlihat
menderita karena memendam amarahnya!
Lalu, onyxnya
mengarahkan atensinya ke arah komputer layar flat milik pemuda kuning
itu.
Gelap.
Hari ini ia tak
mendengar bunyi berisik dari soundtrack anime yang diputar Naruto.
Otaknya yang pintar itu menyimpulkan, jadi karena 'itu' ya?
"Hei! Ada apa
dengan komputermu?"
Naruto mengangkat
wajahnya perlahan, tak disangka ekspresinya langsung memucat—layaknya jasad tak
bernyawa. Sepertinya Sasuke sudah salah membahas mengenai hal itu, dengan kikuk
ia menyela, "Ah, lupakan saja!"
Setelah itu
keheningan melanda, Naruto masih berkutat dengan kesedihannya, sedangkan Sasuke
ia merebahkan tubuhnya di lantai tatami. Ia mendesah, otaknya berpikir,
ternyata keluar dari dunia hikkikomori itu sangat sulit.
"Hei,
Naruto?" panggil Sasuke, Naruto dengan wajah merana menatap senpainya, ia
bergumam 'ada apa?'
"Seandainya
keadaan Tokyo tidak seperti sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan
tetap berimajinasi dengan karakter tak nyata di otakmu?"
Kening Naruto
mengerut, ada apa tiba-tiba senpainya bertanya seperti itu? Tidak biasanya.
Lalu ia mengerang, "Entahlah! Mungkin tidak," ia mengangkat bahu,
lalu melanjutkan, "ya, mungkin aku akan membantu orang tuaku di desa dan
melakukan suatu perubahan."
Sasuke mendengus
mendengar jawaban Naruto, "Baguslah kalau begitu," sahutnya simpel,
seketika membuat pemuda kuning itu bingung luar biasa, "Apa maksudmu,
senpai? Kau hanya mengetesku ya?"
"Tidak! Aku
hanya terlintas berpikiran seperti itu. Ternyata jawabanmu cukup keren
juga," Sasuke tertawa kecil, Naruto mendesah. Pemuda kuning itu balik
bertanya, "Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan,
senpai?"
"Hmmm… mungkin
aku akan tetap menjadi hikkikomori. Karena pada dasarnya, aku tak tahu
bagaimana cara mengubah kehidupanku," sahutnya sembari tersenyum kecut.
"Senpai! Kau
menyedihkan sekali!"
"Hn! Aku tahu
itu!"
DRRRRTTTT
DRRRRTTTT
Tiba-tiba ponsel
Sasuke bergetar, pemuda Uchiha itu merogoh kantung celana jeansnya. Naruto yang
berada di seberang meja nampak penasaran, "Langka sekali aku melihat kau
menerima pesan, senpai!"
"Kau penguntit
ya? Kenapa kau tahu aku jarang menerima pesan?"
Naruto meringis
mendengar tuduhan senpainya itu, "Kau gila ya? Kau itu hikkikomori,
bukankah kenalanmu saat SMA hanya aku dan si gadis menyebalkan itu? Dan aku
yakin temanmu saat SMP dan SD tak akan mengingatmu."
"Kau sok
tahu!" balasnya dingin.
Segera Sasuke
membuka ponsel layar sentuhnya, kemudian membuka sebuah pesan dari nomor tak
dikenal. Seketika onyxnya itu terbelalak tak percaya.
From :
0777xxxx
Dear Uchiha
Sasuke-dono
Kau telah
terpilih menjadi kandidat terbaik sebagai projek penelitianku. Jika kau ingin
'Hikkikomori'mu disembuhkan, temui aku di Sanda Park, jam 9 malam.
PS : Kau
bisa sekalian ambil CV yang tertinggal di perpustakaan
Haruno
Sakura
Ini tak salah lagi!
Pesan ini dari gadis itu!
Bagaimana ia
tahu nomor ponselku? Pikir Sasuke kalut. Ah! Ya! Pemuda Uchiha itu ingat,
ia menuliskan nomornya di belakang kertas CV miliknya.
Lalu bagaimana
gadis ini tahu tentang penyakit hikkikomoriku? Apakah gadis ini peramal?
Sasuke menggeleng cepat, tak mungkin! Tampang peramal biasanya agak mengerikan.
Sepertinya pemikiran aneh Naruto menjadi kenyataan.
Lalu apa yang harus
ia lakukan? Pilihan pemuda itu hanya ada dua ; datang ke tempat perjanjian atau
acuhkan saja gadis itu.
Akkh... memikirkan
hal itu membuat otaknya hampir meledak, sedangkan Naruto, ia menaikkan satu
alisnya ketika melihat kelakuan senpainya itu tiba-tiba agak sinting.
"MEMBINGUNGKAAAAANNN!"
Sontak apartemen
kecil itu diisi teriakan Sasuke yang benar-benar sudah sangat kacau.
.
.
.
.
To Be
Continue...
Maaf Baru posting sambungan FF absurd ini. Kalian bisa berkunjung ke akun FFn saya, author penname saya
Vanille Yacchan
FF - Naruto - SasuSaku - Oh! Mr. Hikkikomori [Chapter 3]
The Woman in Shadow
A Naruto Fanfiction
All Character of Naruto © Masashi
Kishimoto-Senpai
Original Story © Vanille Yacchan
Warning : OOC, AU, TYPO(S), SASUSAKU,
DLDR
Rated T
Summary :
Uchiha Sasuke, seorang pemuda yang hidup
nomaden.Ketika ia mengunjungi desa sahabatnya, ia dihadapkan dengan sebuah
misteri seorang wanita muda yang dituduh sebagai pembunuh suaminya. Beta-reader nyan-himeko.
.
.
.
[File
01; The Day of the Beginning]
...
...
Seorang
pemuda memandang lekat kearah jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
Kadang atensinya bergulir menuju peron yang kini dijejali manusia yang sama
sekali tak dikenalinya, kadang turis pun juga ikut berseliweran di jalan ini. Si pemuda meremas-remas
jarinya perlahan—menahan kegugupan. Ia tahu,
sahabatnya itu bukanlah orang yang memakai
jam karet dalam hidupnya. Apa mungkin jadwal kereta yang ditumpangi sahabatnya
itu terhambat, atau yang lebih parahnya... ah
tidak mungkin.
Ditengah
rasa kegundahannya, seseorang menepuk pundaknya perlahan—menambah rasa
kegelisahannya. Banyak yang bilang, sekarang orang-orang menghalalkan segala
cara untuk menyantuni kehidupan mereka, merampok dan membunuh salah satunya.
Memorinya berputar, ingatannya mengarah pada cerita dari cerita temannya.
Seseorang mengalami hal yang sama sepertinya—ditepuk
pundaknya—lalu si korban menoleh kearah si penepuk. Ketika si korban menatap
penepuknya, korban kontan kehilangan kesadaran. Orang-orang
disekitar bisa saja menganggap si korban sedang bersama temannya atau sanak
saudaranya. Keesokan harinya, si korban ditemukan
di daerah perbatasan desa Utara. Keadaannya
menggenaskan, disekitar tengkuknya terdapat bekas sayatan benda
tajam dan lagi semua harta
bendanya hilang. Sungguh pembunuh yang keji. Polisi mengatakan pelaku kemungkinan
melakukan hipnotis kepada korbannya, dan cara terbaik untuk menghindar hanya
dengan tak bertatapan langsung dengan si pelaku.
Pemuda
itu berpaling menghadap si penepuk. Dan tak lupa memejamkan
matanya karena ia tak mau nyawanya terbuang ditangan
perampok. Sungguh di zaman sekarang manusia hanya ingin mencari kekayaan secara
instan.
“Kau
kenapa Naruto?” Suara baritone menembus alat
pendengarannya. Pemuda yang dipanggil—Naruto—perlahan menarik kelopak
matanya. Hal yang pertama dilihatnya adalah iris mata sekelam malam yang
menatapnya menyelidik.
“Ya
ampun, Sasuke! Kau
lama sekali tahu! Kukira kereta yang membawamu kecelakaan, dan kau sekarat.”
Naruto memeluk pemuda yang dipanggilnya—Sasuke—dengan eratnya.
“Apa?”
Dengan sentakan keras Sasuke melepas pelukan sahabatnya yang terkenal sangat
cerewet. “Kau senang sekali berpikiran negatif.” Sasuke menggelengkan
kepalanya, ia heran kapan sahabatnya yang satu ini bisa berpikiran
optimis dan berhenti menjadi
toa.
“Janjinya kan sekitar
pukul sembilan. Sekarang sudah pukul sepuluh tiga puluh. Terimakasih sudah membuatku khawatir, Sasuke.” Naruto menyodorkan
jam tangan digitalnya kearah Sasuke. Ia hanya tersenyum
dan merasa tak bersalah sama sekali.
“Kenapa
senyum? Kau berhutang dua permintaan
maaf denganku, tahu!”
Naruto mengarahkan dua jarinya kearah wajah Sasuke.
Sebuah
kerutan halus menghiasi kening Sasuke. “Dua?” Naruto mengangguk. “Seingatku kau
hanya khawatir karena aku terlambat.” Tambahnya.
Alis
Naruto tertarik keatas, ia menatap Sasuke heran. “Kau tidak pernah baca koran lokal ya?
Atau mungkin kau tidak pernah berlangganan koran? Makanya jangan hidup nomaden dong.” Naruto terus saja mengoceh membuat
urat saraf Sasuke mengencang.
“Ya, ya aku
tidak pernah baca koran.” Sasuke mengangguk-anggukan kepalanya pertanda
mengiyakan.
“Kau tahu sendirikan aku terlalu sibuk, maaf saja kalau tidak bisa berlangganan koran.” Katanya seraya membenarkan
jaket yang ia kenakan.
“Wah, sudah
hampir pukul sebelas. Lebih baik kita istirahat sebentar. Itukan yang kau butuhkan?”
“Hn.”
...
...
“Sebenarnya
apa yang membuatmu datang kemari?” Tanya Naruto yang kini berada disebuah kedai
sederhana. Kedua sahabat itu memesan makanan yang sama. Roti selai kacang
dengan daging asap asparagus. Tak lupa kopi hangat yang mengepul di dalam
cangkir kaca bening.
Sasuke
menyesap perlahan kopinya dan kemudian meletakkan
cangkir kopi diatas piringan kecil. “Tak ada.” Ujarnya enteng.
Naruto
dengan cepat mengunyah daging asapnya. Sasuke yang memperhatikan
cara Naruto memakan makanannya hanya dapat menggelengkan kepalanya. “Ha? Tidak
mungkin! Kau kesini pasti ingin mencari inspirasi. Aku
tahu pekerjaanmu yang menggunung, pasti otak
kirimu tak dapat berfungsi lagi.” Oceh Naruto.
“Sebenarnya
aku hanya ingin berlibur.” Jeda sebentar, Sasuke mengunyah rotinya perlahan.
“Kalau sekalian aku ingin mencari inspirasi ya...itu boleh juga.” Katanya
seraya tersenyum tipis.
“Haaah,
terserah. Tapi kau jangan berjalan di daerah ini sendirian.” Naruto menyesap
kopinya.
Alis
Sasuke terangkat, heran. “Kenapa, memangnya?” Tanyanya. Naruto meletakkan
cangkirnya dipiringan kecil, mata birunya menatap mata hitam Sasuke secara
intens. “Kau bodoh, ya? Tentu saja nanti kau tersesat.” Naruto menyeringai
karena telah berhasil mengelabui sahabatnya.
Sasuke
hendak membalas, tapi terhenti ketika seorang gadis yang kira-kira
berumur dua puluh tahunan—menurut penglihatannya—memasuki kedai sederhana itu.
Para pelanggan banyak berbisik-bisik ketika melihat si gadis. Dari
penglihatan Sasuke, gadis ini terlalu
mencolok. Rambutnya berwarna merah muda, digelung dengan indah dan berhiaskan
mutiara putih yang mengitari gelungan. Ia memakai gaun terusan berwarna putih
semata kaki. Tak lupa dileher jenjangnya terdapat kalung yang sejenis
dengan mutiara yang mengitari gelungan rambutnya. Menurut Sasuke gadis itu tak
pantas berada di kedai ini. Karena dari penglihatannya,
gadis itu tipikal oujo-sama. Tak
sengaja si gadis memalingkan wajahnya, ia sadar bahwa setiap
pria bahkan wanita yang berada di kedai menatapnya penuh damba. Bahkan seorang
Uchiha Sasuke yang notabene tak pernah percaya cinta pada pandangan pertama,
tercekat akan pesona gadis itu. Rupa si gadis tak
secantik layaknya dewi-dewi mitologi Yunani. Tapi jika dilihat
dengan teliti maka kau akan menemukan pesona tersendiri dari gadis ini.
Senyumannya...
Mata emerald
itu...
Bahkan warna
surai rambutnya yang tak biasa...
Sekarang ia maklum, kenapa setiap orang
berbisik-bisik.
“Haaah...
orang elit itu lagi.” Naruto berujar, seraya menghela
napasnya perlahan. Sasuke yang masih memandangi si gadis, spontan
menarik pandangannya. Ia langsung menoleh kearah Naruto.
“Siapa
yang kau maksud ‘orang elit itu lagi’?”
Tanya Sasuke serius.
Naruto
mencondongkan tubuhnya, dan mengarahkan satu telunjuk jarinya kearah bibirnya.
“Ssst... kau terlalu kencang. Ya, tentu saja
orang yang kau tatap tadi.” Naruto seraya menunjuk si gadis dengan
dagunya.
“Memang
siapa dia? Dan kenapa juga aku harus berbicara berbisik?” Tanya Sasuke dengan
kedua alisnya yang mengerut.
“Sudah
kubilang dia orang elit di desa ini. Kau orang baru disini jadi harus perlu
tahu tentang hal ini. Di desa orang-orang menengah sangat tabu membicarakan
mereka. Itu akan membuatmu celaka. Dan orang itu termasuk di dalamnya.” Ujar Naruto dengan tampang serius. “Lebih baik kau jangan dekat-dekat dengan orang
elit.” Tambahnya.
“Kalian memang aneh.”
Ia mengalihkan pandangannya lagi kearah si gadis
yang kini sedang berbincang dengan seorang wanita yang lebih tua. Wanita itu
berwajah bulat, dan agak gemuk.
Sebuah
tepukan hangat mendarat dipundak Sasuke. Sasuke menoleh kearah Naruto yang
menepuknya. “Kau sudah tertawan oleh pesonanya, kawan.” Kata
Naruto seraya menggelengkan kepalanya perlahan.
Sasuke
hanya menyeringai. “Mungkin yang kau
katakan ada benarnya.”
Naruto
membelalakan matanya, kaget. Ia tak percaya. Seorang Uchiha Sasuke ternyata
bisa takluk juga akan pesona orang itu. Si Uzumaki melepaskan tangannya dari pundak Sasuke. Ia meneguk kopinya hingga tandas, dan
meletakkan cangkirnya ketempat semula. Mata biru Naruto menatap lurus kearah
mata hitam Sasuke. Kali ini ia serius.
“Lebih
baik kau hindari dia Sasuke.” Saran Naruto kemudian. Sasuke, hanya menampakkan raut wajah kebingungan.
“Kau orang baru, jadi tak tahu apa-apa rahasia keji yang disimpan oleh desa
ini.”
Ucapan
Naruto sukses membuat Sasuke bingung luar biasa. “Memangnya apa ada hubungannya
dengan gadis itu?” Tanya Sasuke masih menampakkan raut kebingungan. Naruto
hanya mengangguk.
“Ia
seorang Janda. Suaminya beberapa bulan yang lalu meninggal. Polisi mengatakan
ada yang meracuni pria yang dinikahi wanita itu, setelah itu ditusuk dengan
pisau dapur. Benar-benar mengerikan. Tuduhan tertuju pada istrinya. Dia
membunuh suaminya sendiri. Ketika ditemukan mayat suaminya, ia juga tergeletak
menyandar di dinding. Ketika polisi mewawancarainya, ia tak ingat perihal
apapun yang dilakukannya. Sidik jari dipisau dapur itu cocok sekali dengan
sidik jarinya. Karena ia tak ingat apapun, makanya ia tak ditahan oleh polisi.
Mungkin dianggap tak waras.” Naruto menjelaskan dengan serius. Tatapan matanya
menyiratkan akan kengerian.
Sasuke
sedikit tak percaya dengan cerita yang ia dengar dari Naruto. Gadis
itu—maksudnya wanita yang kelihatannya sangat baik seorang pembunuh? Bahkan ia
terlalu muda jika dikatakan tak waras. Bukankah pada umumnya wanita berumur dua
puluhan masih senang memikirkan dirinya sendiri, jarang memiliki pemikiran yang
membuat otak kelelahan menampungnya. Bahkan ia orang yang berada. Tak akan
pusing dengan keuangan.
“Mana
mungkin? Aku tak percaya Naruto. Dia sepertinya wanita yang baik, ceria, dan
mudah tersenyum. Mungkin ada yang menjebaknya.” Elaknya. Sebelum menjawab
perkataan Sasuke, Naruto mendengus dan menggelengkan kepalanya.
“Kau
sudah dibutakan oleh penampilannya. Wanita baik pun bisa saja menjadi jahat dan
membunuh hanya karena sebuah dendam. Dan dengan mudahnya menghilangkan nyawa
manusia.” Kata Naruto.
Naruto
menggerakkan tangannya keatas, seraya memanggil ‘pelayan’. Seorang gadis dengan
perawakan mungil, rambutnya berwarna pirang panjang, dan sebuah poni menutupi
keningnya, menghampiri Naruto. Naruto memesan makanan yang tadi ia pesan. Gadis
itu dengan cekatan menulis pesanan Naruto. Ia menawari Sasuke hendak memesan
lagi atau tidak? Sasuke menggeleng. Ia sudah kenyang dengan roti selai kacang,
daging asap asparagus, dan secangkir kopi. Karena tak ada lagi pesanan, gadis
itu meninggalkan mereka menuju dapur.
Naruto
membuka zipper jaketnya. Ia
mengibas-ngibaskan tangannya, karena kepanasan. “Sebaiknya aku tadi memesan air
dingin saja.” Katanya.
Sasuke
hanya diam. Ia memikirkan sesuatu. Dari luar desa ini kelihatannya baik-baik
saja. Tapi pada kenyataannya begitu misterius. Apalagi wanita itu. Niatnya
hendak berlibur dan tak memikirkan sesuatu yang membuat otaknya lelah,
nampaknya tak akan terealisasi.
“Hei!
Kau benar-benar akan menjauhi wanita itu kan, Sasuke?” Tanya Naruto.
Sasuke
mengangkat bahunya perlahan. “Tidak juga.” Katanya.
“Hei
dia itu berbahaya. Aku khawatir kau kenapa-napa. Harus bagaimana lagi agar kau
percaya kata-kataku.” Naruto mengacak-acak rambut berbentuk durennya frustasi.
“Banyak orang bilang dia wanita pembunuh
bermuka dua di desa ini.” Tambahnya.
Sasuke
ragu apa ia dapat mempercayai ucapan Naruto.
“Maaf
menunggu lama.” Seorang gadis pelayan yang tadi melayani Naruto kini
menghampirinya. Ia meletakkan sepiring roti selai kacang, daging asap
asparagus, dan secangkir kopi hangat. Asapnya mengepul, memberikan sensasi
menenangkan bagi Naruto yang menghirup aromanya. Setelah Naruto mengucapkan
‘terima kasih’ gadis pelayan itu meninggalkan mereka menuju dapur.
“Apa
kau masih lapar?” Tawar Naruto. Ia mengangsurkan sepiring roti selai kacang dan
daging asap asparagus kearah Sasuke. Sasuke hanya menggeleng. “Ya sudah. Aku
makan saja semuanya.”
“Naruto.”
Panggil Sasuke.
“Hm?”
Naruto menoleh kearahnya.
Mulutnya masih penuh dengan daging asap dan roti selai kacang.
“Apa
kau tidak heran?” Kerutan halus menghiasi kening Naruto. “Bukankah dia dituduh
sebagai pembunuh. Kenapa semua orang disini masih menerimanya seperti layaknya
bukan pembunuh?”
Naruto
mengunyah makanannya perlahan. “Tentu saja ia seorang elit. Dianggap tak waras
pula. Polisi dan dokter bekerja sama dengan masyarakat sekitar agar tak
membicarakan hal ini. Mungkin agar dia tidak tertekan.” Kata Naruto. Sasuke
mengangguk. “Bahkan ia dianggap oleh masyarakat sekitar, dermawan, dan sangat
baik. Lihat saja, dia sering sekali ke kedai ini. Seharusnya mana mungkin
seorang elit datang kemari?” Jeda sebentar, Naruto menyesap kopinya yang telah
mendingin. Lalu meletakkannya diatas piringan kecil. “Haah...tetap saja aku tak
percaya dengannya. Bisa saja dia berpura-pura tak waras, kebaikan hatinya
mungkin sebagai senjata untuk menutupi kejahatannya itu.” Tambahnya.
“Kau
terlalu berlebihan Naruto.”
“Terserah.”
Naruto mendengus, memilih untuk
menghabiskan makanannya. Sasuke mulai merenung. Keadaan di desa ini begitu membingungkan.
Setahu Sasuke, polisi itu tidak pernah pandang bulu. Bagaimanapun keadaan si
pelaku ia tetap akan menangkapnya. Walaupun si pelaku dianggap tak waras,
setidaknya si pelaku akan dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa.
“Terima
kasih, tuan.”
Sebuah
suara yang begitu anggun mengalun lembut ditelinga Sasuke. Ia menoleh kearah
sumber suara. Ternyata suara wanita itu.
Wanita
itu tersenyum. “Besok, saya akan datang kesini lagi. Mungkin akan memesan
risoto roasted beef.” Katanya.
Pemilik
kedai itu tersenyum senang. “Oh! Silahkan nyonya. Saya tidak berkeberatan anda
datang kemari, lagi.” Katanya seraya menyerahkan sebuah keranjang besar kearah wanita pink
tersebut dan tangan mungil miliknya menyambut, tak lupa
dengan sebuah senyuman khas wanita berada.
Ia
pergi meninggalkan kedai, dan tak lupa mengumbar senyuman kearah setiap orang
yang memerhatikannya, atau bahkan yang menegurnya. Benar-benar wanita yang
sangat berattitude tinggi. Bahkan
cara berjalannya begitu anggun. Sepertinya ia dididik sangat keras dalam
bertingkah laku. Tak heran jika dia begitu sopan. Sasuke masih memerhatikan
wanita itu. Ditengah jalan ia dapat melihat wanita itu membantu seorang anak
kecil memungut permennya yang terjatuh. Dalam setiap perjalanannya, baru kali
ini ia menemukan wanita kaya yang baik hati, tetapi dianggap sebagai pembunuh.
Sasuke hanya bisa tersenyum tipis memandang punggung wanita itu yang semakin
menjauh dari jangkauan matanya.
...
...
Akasuna
Sakura sedang duduk menatap makan malamnya. Tangan kanannya memegang secangkir
teh hangat yang mengepul. Makan malam hari ini memang terbilang sederhana. Steak beef yang dihangatkan dan beberapa
roti-roti manis yang merupakan kombinasi teman untuk minum teh. Seorang wanita
berumur dua puluh lima tahunan dengan perawakan agak tinggi dan berambut hitam,
menghampiri majikannya.
Sakura
agak terkejut akan kehadirannya yang begitu tiba-tiba. “Ah! Shizune! Kau
benar-benar mengagetkanku.” Katanya.
Wanita
pelayan itu tersenyum kikuk. “Maafkan saya, nyonya. Saya hanya mengingatkan,
bahwa sebentar lagi waktunya nyonya minum obat.” Shizune membungkuk memberi
hormat, dan meninggalkan Sakura sendirian diruang makan yang terbilang luas
itu.
Ia
telah menyelesaikan makan malamnya. Nampaknya hari ini ia memiliki selera makan
yang memuaskan. Biasanya Sakura
tak akan pernah bisa menghabiskan makanan yang telah tersedia dimeja makan.
Mungkin Shizune mengganti chef
didapur. Ia bertanya-tanya bagaimana rupa chef barunya? Apakah seorang pria? Atau wanita?
Shizune memang benar-benar hebat dalam memilih orang. Dia tahu benar apa yang
ia sukai.
Sakura
berdiri dari kursinya dan
sedikit memperbaiki gaun tidur satinnya. Ia menatap jam besar yang menempel di dinding dekat dengan ruang tengah.
Sudah pukul delapan. Memang ini waktunya minum obat, pikirnya. Ia agak kecewa.
Sebenarnya Sakura
ingin sekali melihat wajah chef
barunya. Alasannya hanya untuk menyambutnya. Ia menaiki tangga besar yang
menghubungkan kamarnya. Dua langkah sudah ia menaiki anak tangga tubuhnya
terasa melayang. Apakah ini efek dari beberapa hari ini ia tak meminum obat?
Mungkin benar. Sakura tak tahan lagi. Ia terduduk di anak tangga yang
menurutnya begitu dingin. Bahkan ia tak sanggup memanggil Shizune—kepala
pelayan—dirumahnya. Tangan putihnya menekan-nekan kepalanya yang agak sakit.
Hingga akhirnya pandangannya menghitam.
...
...
Uzumaki
Naruto membuka pintu rumahnya yang terbilang sederhana. Dibelakangnya Sasuke
mengekorinya. Mereka berdua keasyikan berjalan menyusuri desa, dan tentu saja
Naruto sebagai guide mengantarkan
Sasuke dengan senang hati, kemana saja.
“Sudah
pukul delapan. Kalau kau mau mandi, silahkan saja. Kau boleh duluan.” Kata
Naruto, ia berjalan menuju kamarnya. Sebelumnya ia menyalakan lampu depan,
lampu ruang tengah, lampu kamarnya, dan terakhir lampu dapur.
“Tidak,
nanti saja.” Tolak Sasuke halus. Ia menghenyakkan pantatnya pada sofa berwarna
hitam diruang tengah. “Naruto apa benar kau tinggal disini?” Tanyanya, seraya
mengamati tiap-tiap inci ruang tengah yang ada dihadapannya.
“Kenapa?
Kau terkejut? Apa ini terlalu kecil untukmu? Dasar anak orang kaya!” Teriak
Naruto dari dalam kamarnya.
“Bukan
maksudku begitu. Dulu kau orangnya sangat berantakan—“
Dengan
cepat Naruto mendahului Sasuke yang akan melanjutkan kata-katanya. “Sasuke...
aku sudah lama berpikir bahwa tidak baik juga hidup bermalas-malasan.
Membiarkan rumahmu kotor lalu berantakan. Dipikir-pikir mengerikan juga aku
waktu dulu.” Ia keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Bajunya yang tadi ia
kenakan telah berganti
dengan kaos berwarna putih dan celana kain selutut.
“Kukira
kau tidak berubah sama sekali. Ternyata ada juga perubahan dalam dirimu.”
Sasuke menyeringai melirik Naruto yang kini duduk disisinya dengan ekor matanya.
“Kau
meremehkanku, ya Sas—“
“Naruto?”
Sasuke memotong pembicaraan Naruto.
“Eh?
Ada apa?” Balasnya.
“Apa
kau tahu siapa nama wanita tadi?”
Naruto
menepuk dahinya keras. “Kukira kau sudah melupakannya ketika kita berjalan
mengelilingi desa.” Katanya.
“Mana
mungkin aku bisa lupa?” Ada sebersit kegugupan dalam perkataan Sasuke, dan
Naruto menyadari akan hal itu.
“Ternyata
Uchiha Sasuke kalau sedang jatuh cinta itu begini?”
Entah itu permainan cahaya lampu atau apa, Naruto dapat melihat jelas Uchiha
Sasuke tengah merona. Ini hal yang begitu langka. Beruntung seorang Uzumaki
Naruto bisa melihatnya.
Sasuke
mencoba menutupi rasa kegugupannya. “Diamlah! Aku tidak sedang jatuh cinta!”
Katanya membela.
“Sudahlah!
Jangan mengelak! Kau juga salah, kenapa bisa-bisanya kau jatuh cinta dengan
wanita yang dianggap tak waras, sih? Memang
sih ia cantik dan wanita berada. Walaupun begitu, tetap saja ia
mempunyai kekurangan.”
“Oi!
Kenapa menyalahkanku? Memangnya rasa cinta itu dipaksakan? Rasa cinta itu
datang dengan sendirinya.”
“AHA!”
Ucapan Naruto sukses membuat Sasuke tersentak. “Apa?” Tanya Sasuke dengan
menatap Naruto tajam.
“Kau
sudah mengakuinya Sasuke. Kau memang benar-benar jatuh cinta.”
“Sudahlah
lupakan saja. Kau jangan berpura-pura mengalihkan pembicaraan Naruto. Kau pasti
tahu ‘kan nama wanita itu?”
“Walaupun
sudah kukatakan kau harus menjauhinya pasti tetap saja kau akan mendekatinya.
Aku sudah tahu perangaimu Sasuke.” Naruto mengambil remote control diatas meja kaca yang bersebrangan dengannya. Ia
menekan tombol power, lalu muncullah
sebuah gambar bergerak dan bersuara nyaring disebuah benda elektronik yang
dinamakan televisi. “Ah... ternyata acaranya sudah habis.” Naruto menggaruk
belakang kepalanya yang tak gatal. Ia menoleh kearah Sasuke yang nampaknya dari
tadi sudah menunggunya mengatakan nama wanita yang kini membuatnya tertarik.
“Baik...baik... namanya Sakura. Akasuna Sakura.”
Sasuke
nampak agak terkejut ketika Naruto mengatakan nama marga wanita itu.
“Akasuna...Sakura.” Ulangnya.
“Ada
apa?” Tanya Naruto seraya mengganti-ganti channel
televisi tanpa memerhatikan raut wajah Sasuke yang kini dilanda keterkejutan.
“Tidak
ada.” Katanya. Sasuke berpikir sebentar, ia mengangguk singkat setelah
menimbang sebuah keputusan.
“Besok
pagi antarkan aku kerumah Akasuna Sakura.”
“APA?
Kau bercanda?” Naruto terbelalak dan tanpa sengaja menghempaskan remote control dilantai.
Mata
hitam sekelam malamnya menatap datar televisi yang kini menampilkan seorang
pria memakai tux yang membawa nampan
dan diatasnya tersaji sebuah makanan restoran kelas atas.
“Tidak
Naruto. Aku serius.” Katanya datar.
...
...
To Be Continue...
[Bachootan Author]
Hehehehehe~ baru kali ini diriku memposting fanfiction animanga Naruto dengan fandom SasuSaku [Btw~ saya SS Lovers looh Kyaaaaaaaaaaaaaa~] Errr~ btw, fict ini juga pernah saya publish di akun FFn saya loooh, bagi yang merasa pernah baca, berarti ya... itulah akun saya, yang punya akun FFn silahkan bertandang ke SINI [LINK] hope you like it!!