Recent Blog post
Tampilkan postingan dengan label Anime Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Oh! Mr. Hikkikomori
Vanille Yacchan
All Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
...
[Chapter Four
: Encountered, Liar, and a Job]
...
Warning : OOC SASUKE.
Sasuke
mengacak-ngacak rambut ayamnya frustasi. Tangannya bergerak merogoh kantung
jeansnya. Membuka ponsel layar sentuh, dan sekali lagi membaca pesan yang
dikirim oleh si gadis berambut merah muda.
From :
0777xxxx
Dear Uchiha
Sasuke-dono
Kau telah
terpilih menjadi kandidat terbaik sebagai proyek penelitianku. Jika kau ingin
‘Hikkikomori’mu disembuhkan, temui aku di Sanda Park, jam 9 malam.
PS : Kau
bisa sekalian ambil CV yang tertinggal di perpustakaan J
Haruno Sakura
Hell!! Hantu apa yang telah merasuki dirinya? Sekarang ia
benar-benar memenuhi permintaan si gadis
merah muda—Haruno Sakura. Setelah memberitahukan pesan mencurigakan itu pada
Naruto. Pemuda pirang itu tanpa panjang lebar langsung menendangnya pergi.
Dasar kouhai tak berperasaan,
batinnya jengkel.
Sebelum
menutup pintu apartemen, pemuda kuning sialan itu mengatakan, ‘tak baik membuat
gadis manis menunggu.’ Sasuke tak punya pilihan lain, ia bergegas mengambil
jaketnya dan pergi. Sasuke bahkan terlalu bodoh sampai-sampai tidak mengecek
masih pukul berapa waktu itu.
Sasuke
mendengus. Onyxnya mengerling jam di
ponselnya.
Pukul 9 tepat, great!! Di
mana gadis pink itu sekarang?
Selama
satu jam ia sudah menunggu. Berterima kasihlah dengan kebodohannya.
Sasuke
mengembalikan ponsel di kantung jeansnya. Ia duduk di bangku taman sedikit
gelisah.
Pemuda pantat ayam itu menumpu wajahnya.
Hening.
Kemudian
sebuah pemikiran aneh menelisik otaknya.
Apa dia benar-benar akan datang menemuiku? Atau ini
hanya pesan iseng untuk mengerjaiku, mungkin?
Keringat
dingin bermunculan di jidat Sasuke. Kalau dipikir-pikir ini pertemuan ketiga
kalinya dengan si gadis. Ia hanya mengetahui beberapa informasi. Pertama, gadis
belia berambut merah muda itu bernama Haruno Sakura. Kedua, Haruno Sakura
bekerja di sebuah perpustakaan kota. Selebihnya Haruno Sakura adalah gadis
asing yang tak sengaja mengetahui aib memalukan Sasuke.
Bagaimana bisa!?!
Lalu…
Apa maksud Haruno Sakura mengenai proyek penelitian?
Apa semacam proyek liburan musim panas anak SMA? Kemudian aku yang dijadikan
sebagai kelinci percobaan, begitu? Heh… benar-benar gadis sialan! Pikir
pemuda raven itu jengkel.
Atau… jangan-jangan gadis itu mata-mata dari sebuah
organisasi rahasia yang ingin menjebakku tetap menjadi hikkikomori selamanya, teriak
batin Sasuke ngeri.
“Tidaktidatidaktidaktidaktidak.”
Pemuda
berambut buntut ayam itu bergumam sembari mengacak rambutnya. Kalau begitu ia
seharusnya tidak membiarkan nalurinya yang menyedihkan itu menuntun semua
sel-sel otot geraknya menuju taman Sanda untuk memenuhi permintaan gadis merah
muda itu. Ia harus secepatnya pergi dari sini!
“Apanya
yang tidak?”
Secepat
kilat Sasuke memalingkan wajahnya. Onyxnya
membulat.
Eeeek!! Ia benar-benar dataaaang!! Chikusoooo!!
Terlambat
sudah.
Di sana.
Gadis
berambut merah muda—Haruno Sakura—dengan wajah bingung menatap Uchiha Sasuke. Emeraldnya menyipit tajam, “Kenapa kau
melarikan diri dari interview? Padahal
tidak banyak pelamar di sana,” langkah kakinya yang kecil itu
menuntunnya ke samping pemuda Uchiha yang kini tak bisa berkata apa-apa. Haruno
Sakura menghenyakkan pantatnya di bangku taman, “Tapi tak masalah.”
Sasuke
yang tak biasa didekati oleh orang asing sedikit tersentak.
“Karena
aku tahu cara untuk keluar dari kehidupan hikkikomori menyedihkanmu itu,” ucapnya
percaya diri, sebuah senyuman manis terbit di bibir mungilnya.
Sasuke
benar-benar tercengang mendengar ucapan Haruno Sakura.
Apa-apaan gadis ini? Dia pikir mudah untuk
menyembuhkan penyakit hikkikomoriku? Apalagi gadis ini dilihat-lihat dari
postur tubuhnya masih bocah. Pikirnya
sinis.
Sasuke
mendengus. Lalu perhatiannya tertuju ke sebuah papan peringatan yang tertancap
di antara semak-semak. Spontan jarinya menunjuk ke arah papan peringatan itu.
“Hati-hati
orang mesum bebas berkeliaran!! Gadis belia sering diserang di area ini. Apa
kau yakin aman memanggil orang mencurigakan sepertiku?”
Emerald itu berkedip. Kemudian dengan wajah tanpa dosa Haruno
Sakura membuka mulutnya, “Sasuke-kun kau seorang penjahat?”
BRAAK!!
Spontan
pemuda Uchiha itu bangkit dari duduknya, “Tidak! Apa kau bodoh?!?” ia
benar-benar tidak terima dicap sebagai penjahat. Hell!! Walaupun Sasuke menderita hikkikomori, dalam akal
sehatnya ia tidak akan mungkin melakukan tindakan asusila. “Dan… jangan
seenaknya memanggilku ‘Sasuke-kun’!?!?”
Kemudian
sebuah tawa mengalun di bibir gadis merah muda itu. Sasuke kembali duduk di
bangku taman. Menahan kejengkelannya terhadap Sakura.
“Tenang
saja, rumahku dekat dari taman, kok.”
Tiba-tiba
sebuah pertanyaan yang sedari tadi menjadi perdebatan di dalam otaknya
terlintas di pikiran pemuda Uchiha itu, “Apa maksudnya proyek penelitian ini?
Aku yakin kau hanya main-main, kan?”
Gadis
merah muda itu mendesah, “Aku benar-benar serius. Karena aku berhutang sebuah
permintaan dari seseorang.”
Kening
Sasuke mengerut dalam, “Haaah!?!?”
Emerald Sakura memandang lurus, ekpresi cerianya berubah
menjadi sendu, “Karena aku ini tak lain
hanya peganggu bagi orang itu. Makanya… aku pikir, aku ingin sesekali
menolongnya.”
Onyx Sasuke tak lepas dari Sakura. Ia mendengarkan dengan cermat.
Walaupun sedikit bingung ke mana arah pembicaraan Sakura.
“Jadi,
jika kau ingin mengetahui jalan keluar dari kehidupan hikkikomori, bergabunglah
dalam proyek penelitianku,” emeraldnya
memandang Sasuke penuh harap.
Pemuda
Uchiha itu menggelengkan kepalanya lalu mendengus, “Heh… asal kau tahu saja,
aku bukan hikkikomori…”
“Bohong!”
Sela Sakura cepat. “Ketika ibuku menawarkan selebaran ajakan sosialisasi, kau
terang-terangan membeberkan rahasia memalukanmu itu!”
Kontan
saja Sasuke bagaikan tertancap anak panah tak terlihat setelah mendengar
kalimat tak terduga dari bibir Sakura.
Jadi, wanita sialan itu ternyata ibunya gadis aneh
ini? Teriak batinnya histeris.
Lalu, kenapa
pada malam kejadian laknat itu Sakura ada di komplek apartemennya?
Seakan
mengerti ekspresi bingung Sasuke. Sakura mencoba menjelaskan, “Ibu terlalu lama
mengobrol dengan calon kliennya. Aku bosan, jadi memilih pulang saja,” lalu ia
terkikik. “tahu-tahu aku disuguhkan dengan kejadian memalukan. Beruntung sekali
aku memilih pulang waktu itu.”
Akkhhh!!
Sasuke
mengerti apa maksudnya. Ternyata kami-sama
membuatnya membayar apa yang telah ia lakukan. Kembali bertemu dengan gadis
aneh berambut merah muda, bahkan gadis ini dengan percaya diri menawarkan
proyek secara gratis untuk menyembuhkan penyakit hikkikomorinya. Great!! Fabulous!! Amazing!!
Bolehkah sekarang ia menggali lubang kuburannya sendiri?
Sasuke
mendadak bangkit dari duduknya—lagi.
Ia harus menjelaskan sesuatu. Sesuatu yang dapat mengenyahkan pikiran dari otak
gadis itu mengenai dirinya yang menderita hikkikomori.
“A-aku…
sebenarnya aku hidup memang seperti hikkikomori. Tapi…” Sasuke memutar gerigi
otaknya yang pintar, mencoba mencari sebuah alasan yang logis. “Kau tahu… aku
berbeda dari rata-rata hikkikomori lainnya.”
Satu alis
Sakura terangkat, “Berbeda bagaimana?”
Sialan!! Bocah merah muda ini benar-benar tidak bisa
dibohongi!!
“Uhhh…
kau tahu… semacam kantor kecil yang berada di rumah. Yaa!! Aku dipaksa bekerja
di rumah oleh perusahaan…”
Tidak masalah!! Katakan apa saja agar gadis ini
benar-benar percaya padamu!!
Sakura
kelihatannya berpikir sejenak. Lalu emeraldnya
memandang onyx Sasuke, “Memangnya
jenis pekerjaan apa yang kau kerjakan di rumah?”
Sasuke
tertawa gugup, “Ak-aku terkejut kau menanyakan hal itu,” onyxnya berputar-putar, sekali lagi mencoba memutar otaknya. Ia
berharap Haruno Sakura tidak menyadari ekspresi gugupnya. “Aku seorang
kreator,” lanjut Sasuke.
Hening.
Sakura
terdiam, sepertinya mencoba mencerna ucapan yang baru saja dikatakan Sasuke.
Ekspresi datar Sakura terus terang saja membuat Sasuke tambah gugup. Tiba-tiba
gadis merah muda itu tersenyum mengejek seakan tidak percaya, “Heeeeee… jadi,
apa yang kau buat?”
Sial!
Keringat
dingin mulai membanjiri tubuh Sasuke. Ia harus mencari alasan lagi.
Benar!! Ucapkan apa saja yang terlintas dipikiranku.
“K-kau
tahu… aku bekerja di bidang revolusioner. Y-ya!! Aku bekerja membuat software komputer. Seperti Bill Gates
atau Linus Trovald. Orang berkulit putih yang menguasai dunia teknologi,
ha-ha-ha,” Sasuke tertawa hambar sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
Bagus! Sekarang kita lihat bagaimana reaksi gadis ini.
Krik…
krik…
Emeraldnya menatap Sasuke bosan. Seakan-akan Sasuke baru saja
mengisahkan cerita yang tidak masuk akal.
“Heeeee~~~~”
Sasuke
membeku.
Apa-apaan gadis ini!?!
Semua
ucapan yang dikatakan Sasuke sepertinya tidak membuat Sakura percaya. Pemuda
Uchiha itu berpikir ia baru saja membuat kehidupannya yang tenang mendadak
dihujani meteor.
Benar-benar kacau!
…
…
“Jadi,
kau mencoba mengesankan seorang gadis manis dan setelah mengatakan kebohongan
itu kau melarikan diri?”
TAAK
Naruto
meletakkan dua gelas kopi di meja. Salah satunya ia berikan pada Sasuke yang
kini diselimuti aura gloomy.
Sepertinya Sasuke menyesali apa yang telah ia katakan. Seandainya ia tidak
memenuhi permintaan Sakura. Semua kebohongan itu pasti tidak akan pernah terjadi.
Sial.
Naruto
mendesah. Apa susahnya sih mengatakan
kalau Sasuke benar-benar menderita hikkikomori? Lagipula gadis yang diceritakan
senpainya itu menawarkan jasa yang menguntungkan bagi pemuda berambut buntut ayam
ini.
Terkutuklah Uchiha dan harga diri mereka yang
menyebalkan itu! Pikir Naruto jengkel.
“Senpai, kau benar-benar… tidak habis
pikir,” Naruto mengeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Untuk memuluskan
kebohonganmu itu aku akan membantumu, begitu?” lanjutnya sambil sesekali menyesap
kopi panas buatannya.
“NARUTOOOOO!!
TOLONG!! KAU SATU-SATUNYA ORANG YANG BISA MEMBANTUKU!!” Sasuke membungkukkan
tubuhnya. Menghancurkan harga dirinya yang tinggi. Memohon pada kouhai berambut pirang yang sekarang ia
anggap sebagai saudaranya sendiri.
“Se-senpai kau tidak butuh merendahkan
kepalamu jika menginginkan bantuanku,” Naruto tersentak sembari menenangkan
Sasuke yang kelihatannya sudah mencapai batasnya.
Guuoooohh… ini semua kulakukan demi diriku sendiri
Naruto. Aku yang memulai semuanya. Arrghhh… Kenapa aku harus mengatakan
kebohongan besar seperti itu?
“Hmm… aku
mengerti,” suara Naruto membuyarkan penyesalan inner Sasuke. Pemuda Uchiha itu menegakkan tubuhnya. Ia tidak tahu
bagaimana membalas kebaikan kouhainya
nanti. Membelikan sesuatu untuk Naruto? Hmm, itu tidak mungkin. Kita tahu
Sasuke sekarang dilanda ambang kemiskinan.
“Karena
kau mengatakan sebagai seorang kreator. Jadi, mari kita pikirkan jenis
kemampuan apa yang dibutuhkan seorang kreator.”
Sasuke
melongo, “Kemampuan?”
Naruto
melirik Sasuke heran seakan senpainya itu benar-benar bodoh.
Rupanya hikkikomori sudah membuat otak pintarnya itu
membeku, pikir Naruto kasihan.
“Sebagai
kreator kau harus bisa menggambar, menggubah musik, dan menguasai bahasa
pemrograman,” Naruto menjelaskan.
Sasuke
mendesah pelan. “Semua kemampuan itu… tidak ada yang kukuasai. Kemampuan yang
kukuasai hanya menjadi hikkikomori.”
Naruto
meringis, “Sudah kuduga.” Kemudian ia tersenyum canggung. Tiba-tiba saraf di
otak Naruto mendeteksi sebuah ide brilian, “Ah, mungkin kau bisa menulis
karangan, senpai. Di dekat sini ada
kelas menulis sastra. Kau bisa mendaftar kelas itu.”
“Uheeeeee~~~~
tidaktidaktidaktidaktidak,” Sasuke menolak sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“tidak ada gunanya!! Terakhir kali aku menulis ketika SMP. Betapa menyusahkan.”
CTAK
Perempatan
sudut muncul di jidat Naruto. Ia sudah berusaha mencoba membantu. Tapi, apa
yang ia dapat? Kelakuan Senpainya yang
benar-benar membuatnya kesal.
Sialan kau Uchiha Sasuke!! Teriak inner Naruto kesal.
“Baiklah…”
Naruto menghela napas pelan, tiba-tiba suasana berubah mencekam, “Apa kau ingin
menjadi seorang kreator?” nada suaranya yang cempreng itu berubah serius. Mata
birunya mendelik tajam ke arah Sasuke, giginya bergemeletuk menahan amarah,
“Apa kau sungguh-sungguh mau melakukannya, huh?”
Sasuke bersusah
payah menelan salivanya. Baru kali ini Sasuke merasa terancam dan yang lebih
mengejutkan Naruto benar-benar berhasil membuat Sasuke ketakutan. Ha-ha dunia
mungkin sebentar lagi akan berakhir. Dengan gugup pemuda raven itu membuka
mulutnya, “Y-ya, tak masalah. Aku bisa menulis, Naruto!! Aku bisa membuat plot
yang bagus!”
Inner Naruto menyeringai menang.
Gotcha!! Akhirnya!!
“Sungguh?”
Aura mencekam itu luruh seketika. Pemuda kuning itu nyengir, “Bagus! Kalau
begitu kita akan mengambil jalan sebagai kreator game!”
Hening.
Kemudian
terdengar suara teriakan bak banshee
dari mulut seorang Uchiha, “UOOOOOO!! SIALAN KAU LUAR BIASA NARUTO!!”
“Sudah…
sudah… senpai…” Pemuda kuning itu
berbisik mengingatkan Sasuke agar tenang. Kelakuan Sasuke luar biasa tidak
terduga. Kemana perginya sifatnya yang biasanya terkontrol itu?
Setelah
sedikit tenang, Sasuke kembali membuka mulutnya, “Jadi, game apa yang akan kita
buat?”
“Ahh…
sebelum itu,” mata
biru Naruto menyipit tajam, “senpai, kau harus
berjanji padaku.” Sasuke merespon dengan anggukan singkat.
“Jika
kita tetap terus menjalankan proyek ini, mungkin kita akan banyak menumpahkan
darah. Tapi aku tidak akan menginzinkan senpai
berhenti setengah jalan,” air muka pemuda kuning itu mengeras, Naruto
Uzumaki benar-benar serius.
“Yeah!
Kau bisa menyerahkannya padaku. Aku akan baik-baik saja! Jika itu demi menjadi
seorang kreator, aku akan melakukan apa saja. Aku berjanji, Naruto!!”
Naruto
mengangguk-angguk sembari bergumam ‘bagus… bagus…’
“Jadi,
jenis game apa yang akan kita buat?” sekali lagi Sasuke menanyakan.
Uzumaki
Naruto tersenyum misterius, kelopak matanya menutup sesaat, seolah-olah
memberikan efek dramatis. Kemudian turqouisenya
itu menatap lurus onyx Sasuke, dengan
ekspresi santai Naruto berujar, “Erotik!”
“Eh?”
Apa yang
barusan ia dengar? Telinganya tidak
salah dengar, kan?
Melihat
senpainya tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mendengar ide cemerlang Naruto,
pemuda Uzumaki itu kembali menjelaskan, “Game erotik untuk pasar pemain di
bawah umur sekarang sangat menjanjikan,” Naruto memajukan tubuhnya, ia
tersenyum bak om-om mesum yang sedang melihat mangsanya. “Kita akan menjajaki
posisi teratas panggung dunia erotika! Setelah itu kita akan mendapat penghargaan
dari kerja keras kita! Benar-benar menakjubkan, bukan?”
Menakjubkan apanya, hah?
Sasuke
tersenyum hambar. Ekspektasi yang baru saja ia gantungkan pada pemuda kuning
Uzumaki itu melebur berkeping-keping.
Kouhai brengseknya itu akan meyeretnya ke dalam dunia
kebejatan.
Sekarang
apa yang harus ia lakukan?
Tiba-tiba
saraf otaknya mengingat Haruno Sakura yang menawarkan untuk menyembuhkan
penyakit hikkikomorinya.
Jalan
terang satu-satunya yang ia miliki.
Tidaktidaktidaktidak.
Sasuke
akan melanjutkan proyek membuat game bersama Naruto walaupun pekerjaannya
dianggap kriminal.
Yah, ini
semua demi harga dirinya untuk menghindari Haruno Sakura dan proyek penelitiannya
yang menganggu itu.
.
.
.
.
To Be
Continue...
FF - Naruto - SasuSaku - Oh! Mr. Hikkikomori [Chapter 4]
Oh! Mr. Hikkikomori
Vanille Yacchan
All Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
...
[Chapter Three : Regret Tears, Suicide, and
Message]
...
Warning : OOC SASUKE.
.
.
Jika salah satu
saudaramu bertanya, apa sih yang paling menyebalkan di dunia ini?
Mungkin di antara beberapa orang akan menjawab hal yang paling menyebalkan
adalah kegiatan menunggu. Yeah, menunggu merupakan rutinitas
yang kerap kali membuat kita gelisah, emosi, berpikiran pesimis, apalagi orang
yang kita tunggu tidak datang tepat waktu rasanya ingin sekali menampar
wajahnya dan mengatakan 'berhentilah membuatku menunggu'.
Tetapi, kategori
menunggu bukan sesuatu hal yang paling dibenci oleh pemuda kuning yang kini
melotot ngeri ke arah komputer layar flatnya.
Uzumaki Naruto dan
ketololannya adalah sebuah bukti nyata bahwa pemuda kuning itu sangatsangatsangat
membenci dirinya yang begitu tergesa-gesa. Baru saja pemuda Uzumaki itu berniat
memformat USB flashdisk miliknya, tetapi karena dirinya yang bisa
dibilang terlalu mempercayakan insting daripada otaknya, ia hanya asal
menceklis kotak dialog yang tiba-tiba muncul di layar komputer dan mengklik button
OK. Alhasil, pemuda kuning itu tiba-tiba menyadari bahwa ia begitu tolol!
Kenapa?
Karena Naruto telah
berhasil—atau tak sengaja—memformat hardisk komputernya.
Segera, pemuda
Uzumaki itu mencoba menekan shortcut yang tersedia di keyboard
guna menghentikan proses pembersihan data. Tetapi apa yang ia dapat? Komputer
layar flatnya sama sekali tak merespon. Ia menggebrak keyboard,
rasa frustrasi menjalari otaknya.
Akh! Semua
data-dataku telah lenyap! teriak batinnya histeris.
Mungkin, jika kalian
dihadapkan dengan situasi seperti itu, kalian akan menangis tersedu-sedu dan
berteriak sekencang-kencangnya atau lebih buruknya kalian akan memecahkan salah
satu barang, baru akan merasa puas.
No-no! Hal
yang seperti itu pasti tidak akan mungkin terjadi. Karena Uzumaki Naruto adalah
lelaki kuat. Pemuda itu hanya mengutuk ketidakjeliannya yang benar-benar buruk.
Naruto menghela
napas lemah, otaknya mulai berpikir apakah kejadian ini merupakan karma yang
telah ia lakukan terhadap senpainya? Balas dendam, ya, balas
dendam karena senpainya telah melecehkan Mikarin tersayang. Pemuda kuning itu
memutar tubuhnya dengan kursi putar, ia menatap nanar ke arah figur gadis maid
robo—Mikarin—yang ia letakkan di lemari sudut ruangan.
"Apa yang harus
ku perbuat, Mikarin?" bisiknya lemah.
Oh, ayolah Naruto!
Kau seharusnya jangan mengajak sebuah boneka robo bicara. Tentu saja, karena ia
hanya seonggok karet yang dibentuk menyerupai seorang gadis maid robo.
Pastinya ia tak akan mau repot-repot merespon pertanyaan bodohmu.
Tetapi karena Naruto
sudah menganggap Mikarin benda hidup, setiap ia berkeluh kesah satu-satunya
orang—benda—yang paling tepat mendengarkan curahan hati sang Uzumaki muda ini
adalah gadis maid robo miliknya.
Pemuda kuning itu
menghela napas lagi, ia hendak bangkit dari duduknya, tapi tiba-tiba saja ada
sebuah tangan yang merangkul pundak tegasnya itu. Alhasil, pemuda kuning itu
terhentak di atas kursinya yang empuk.
"Moshi-moshi,
Naru-kyuun~~!" seru sebuah suara centil menembus indra pendengaran Naruto.
Pemuda itu segera menoleh dan mendapati seorang gadis dengan perawakan yang
sama seperti boneka maid robo miliknya keluar dari layar flat komputer
yang kini menggelap.
Ya, itu kenyataan.
Apa perlu diulang? Seorang gadis dengan perawakan yang sama seperti
boneka maid robo miliknya keluar dari layar flat komputer yang
kini menggelap.
Uzumaki Naruto tidak
hanya penderita akut delusif tetapi ia juga penderita akut nijikon. Pemuda
kuning itu terlalu sering mengandai-andai jika Mikarin memang nyata, dan tak
dapat di duga sel-sel saraf di otaknya itu mampu merefleksikan figur gadis maid
robo yang dicintainya itu benar-benar menjadi nyata—tentu saja
hanya ia yang dapat melihat Mikarin.
"Nee,
Naru-kyuun, kau ada masalah?" gadis imajinasi Naruto itu bertanya,
sepertinya Mikarin menyadari Naruto terlihat tak seperti biasanya.
Naruto menundukkan wajah,
aura gloomy terpancar di seluruh tubuhnya, "Semua game yang
memuat dirimu, beribu-ribu manga online yang ku download, ero game yang belum
kumainkan, link bookmark yang kusimpan, musik anime, data-data dan
semua password akun milikku lenyap karena kebodohanku!" jeritnya
histeris.
Mikarin mendekap
erat bibirnya sesaat, bola mata besarnya yang berbeda warna—jade dan aqua
blue—itu terbelalak ngeri, "Mikarin tak tahu isi semua data-data di
komputer itu sebegitu penting untukmu, Naru-kun," sahut Mikarin parau.
Kini gadis itu menitikkan air matanya, hati gadis itu serasa tercabik-cabik
ketika menatap Naruto bersedih.
Mikarin mengulurkan
kedua tangannya, menyentuh erat kedua bahu lebar Naruto, "Jangan khawatir
Naru-kun. Kau tidak akan sendirian lagi, bukankah Mikarin akan ada untukmu
ketika kau sedang susah?"
Pemuda Uzumaki itu
megangkat wajahnya, menatap Mikarin yang masih memasang wajah sedih. Ia merasa
sedikit bersalah membuat gadis imajinasinya itu menangis demi kebodohannya yang
di ambang batas, iris turquoisenya itu berkilat cerah. Sebuah senyuman
terpatri di wajahnya. Langsung saja, pemuda kuning itu memeluk erat Mikarin
yang selalu muncul di saat kesedihan melanda dirinya.
"Arigatou,
Mika-chan."
"He-he-he...
Mikarin senang kalau Naru-kun senang," balas gadis itu sembari tangan
mungilnya mengelus helaian rambut pemuda kuning itu lembut.
"Mungkin aku
mendapat karma karena membiarkan senpaiku kelaparan," tiba-tiba Naruto
berujar, ia melepaskan pelukannya. Kontan saja membuat Mikarin mengerutkan
keningnya bingung.
"Naru-kun,
memangnya karma bisa membuat komputermu seperti itu, ya?" tanya Mikarin
sembari dengan pose berpikirnya.
Ah, seketika otak
pemuda kuning itu ingat. Ketika ia berhasil membuat gadis imajinasinya itu
menjadi nyata, Mikarin muncul dengan sifat polosnya yang membuat Naruto
kelimpungan.
"Setahuku,
bukankah itu karena kebodohanmu? Ya, kan? Ya, kan?" imbuh Mikarin
Kontan saja, kalimat
itu membuat Naruto seperti dihantam batu besar. Kau terlalu jujur
Mika-chan, sahut batinnya merana. Kini pemuda kuning itu tersenyum hambar.
"Ah, apakah
ucapan Mikarin membuatmu tak senang?"
Naruto hanya
merespon dengan tawa hambar yang dibuat-buat. Mikarin nyengir lebar, merasa tak
berdosa dengan ucapannnya barusan. Benar-benar cewek naif.
"Mungkin kau
bisa mengundang senpaimu itu makan malam di apartemenmu, Naru-kun! Kudengar
dari paman Televisi, ia frustrasi kehabisan uang!" sembur Mikarin, kini
gadis itu berjalan menuju lemari berisi tankouban-tankouban manga. Ia mengambil
salah satu manga dari lemari dan membukanya. Sebuah senyuman terlukis di wajah
gadis itu.
Kening pemuda kuning
itu mengerut bingung. Bukan! Bukan bingung karena senpainya itu kehabisan uang,
hal itu sih sudah biasa. Tapi, karena paman Televisi! Sejak
kapan senpainya itu punya kenalan? Dan memangnya ada di dunia ini orang tua
dengan rela menamakan anaknya Televisi? Memikirkannya saja sudah membuat
gerigi-gerigi otak pemuda kuning itu hampir rusak.
"Ee..to… paman
Televisi?" ulang Naruto sembari menggaruk pipinya yang tak gatal. Mikarin
yang masih sibuk dengan manganya hanya merespon dengan anggukan singkat.
Kontan saja, ruangan
apartemen kecil itu diselimuti oleh gelak tawa Naruto, "Paman Televisi?
Hahahaha… Sasuke senpai punya teman aneh! Hahaha…"
Mikarin menjauhkan
manganya, menatap Naruto heran. Apa yang lucu dari paman Televisi? Pikirnya.
Mengangkat bahu, gadis itu membiarkan Naruto terbuai dengan lelucon garingnya.
Mata beda warnanya kembali menatap gambar hitam putih yang terpampang di
hadapannya. Sedetik kemudian sebuah tawa halus terdengar dari mulut gadis
imajinasi itu.
"Haha… paman
Tele…haha…visi…hahaha…" pemuda kuning itu masih saja tergelak dengan
lelucon garingnya. Sungguh Naruto, selera humormu cukup buruk.
…
…
"Mati aku… mati
aku… mati aku… mati aku… mati aku…"
Di sepanjang jalan
Sasuke tak henti-hentinya menggumamkan kalimat itu. Pemuda bermarga Uchiha ini
sangat kacau. Setelah akal sehatnya berniat untuk menjadi manusia berguna,
ternyata takdir buruk masih menghadangnya. Kenapa harus ada gadis itu di
sana! Batinnya berteriak histeris. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Jika bertemu dengan
gadis itu lagi. Ia tak tahu bagaimana menghadapinya nanti. Mungkin lebih baik
ia tetap mengurung dirinya di apartemen hingga membusuk. Ya—mungkin itu cara
yang lebih baik, pikirnya, kemudian ia menyeringai aneh. Tanpa sengaja dua
pasang sejoli yang melintas melihat senyumnya itu. Mereka bergidik dan langsung
berlari menjauh.
Sasuke yang melihat itu
hanya menghela napas pasrah.
Pasti mereka
menganggapku penguntit! Ah! Terlalu lama menjadi hikkikomori membuatku tak tahu
lagi bagaimana caranya tersenyum dengan normal. Pikirnya frustrasi.
Ia bergegas
melangkahkan kakinya menuju apartemen dan menutupi setengah wajahnya dengan
syal hitam yang saat ini ia kenakan.
"Kenapa waktu
terasa sangat lamban!" protesnya, karena dari tadi kecepatan kakinya
melangkah sama seperti binatang berlendir yang jalannya lamban.
…
…
BAAM
Pemuda Uchiha itu
menggebrak pintu apartemen sembari berteriak, "DUNIA YANG LEBIH
MENYENANGKAN HANYA ADA DI DALAM APARTEMEN INI!"
Segera Sasuke
melangkah masuk dan menutup pintu itu dengan keras. Ia tak peduli jika tetangga
apartemennya terganggu, yang lebih penting ia harus menyelamatkan dirinya.
Dunia luar itu sangat kejam.
Pemuda itu terduduk
dan menyandar di pintu. Ia mendesah sembari mengacak rambut buntut ayamnya.
Oh, ayolah!
Seperti itu saja kau sudah menyerah? Tiba-tiba Sasuke mendengar sebuah
suara di dalam dirinya, ujian hidup yang sebenarnya masih terbentang jauh.
Kalau kau sudah menyerah seperti itu, lebih baik kau mati saja sana!
Ah! Benar! Untuk apa
ia terus-terusan hidup? Manusia lemah dan rapuh seperti dirinya memang tak
pantas untuk bersaing di dunia ini. Lagipula jika ia mati, populasi manusia tak
produktif akan sedikit berkurang. Pemikiran yang sangat sempurna.
Sasuke bangkit dari
duduknya. Ia mengambil sebuah pestisida, pencair cat, dan memungut kecoa mati
yang tergeletak di samping bajunya di lantai.
"Setelah aku
mencampur bahan-bahan mematikan ini, lalu meminumnya secara perlahan, pasti
rasa sakit menuju kematian itu tak terasa, he…he…he," kekehnya.
Sasuke mulai
mencampur semua bahan percobaan bunuh dirinya ke dalam gelas sembari tersenyum
mengerikan—layaknya ilmuan gila yang ingin menghancurkan dunia.
… Selesai.
Iris onyxnya
memperhatikan gelas itu. Kecoa mati mengambang di atas cairan bening yang
baunya cukup menyengat. Apa benar ia cukup waras ingin meminumnya? Tidak!
Tidak! Sasuke sekarang memang dalam keadaan sangat sinting!
Dengan ekspresi
datar ia mulai menjulurkan tangannya, mengambil gelas yang berada di atas meja.
Sasuke menelan salivanya. Setengah bagian dirinya berteriak, 'kau masih bisa
kembali, kau masih bisa memperbaiki hidupmu yang menyedihkan itu. Jadi jangan
sia-siakan hidupmu!' setengah bagian dirinya yang lain memberontak, 'mati saja
sana! Memangnya kau mau seumur hidup tak punya pekerjaan? Jadi perjaka busuk,
menambah beban keluargamu saja! Dasar manusia menyedihkan!'
Ia menggelang cepat.
Mana yang harus ia pilih? Akkh! Otaknya menjadi gila! Bunuh diri saja susahnya
minta ampun! Sasuke menarik napas dalam, pemuda itu sudah memprediksi akan jadi
seperti ini. Seolah meblokir semua hasutan yang mengganggunya, pemuda itu
menganggukkan kepala, lalu menutup rapat kelopak matanya. Sasuke dengan tegas
kembali pada keputusan awal, 'lebih baik mati saja!'
Ini akan menjadi
perjalanan yang sangat singkat, bisa saja di kehidupan keduanya nanti, ia akan
menjadi bos besar atau yang lebih buruknya ia tetap bereinkarnasi menjadi
seorang hikkikomori busuk.
Tak apa! Setidaknya
ia pernah berusaha mengubah takdirnya dengan cara mengakhiri hidupnya lalu bereinkarnasi.
Oh! Ayolah Sasuke!
Memangnya kau hidup di zaman apa? Pikiranmu sekolot itu? Memangnya ada di
dunia ini reinkarnasi? Bisa saja kau menjadi arwah gentayangan yang setiap
malam mengetuk pintu rumah orang tuamu dan meminta dicarikan pekerjaan.
Semuanya jadi tak masuk akal!
Sasuke mendesah, ia
mulai mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Sensasi pestisida dan pencair cat
menembus penciumannya.
Ini buruk
sekali!
Tiga senti…
Dua setengah senti…
Ekspresi wajahnya
mulai mengkerut. Ah! Apakah ia harus benar-benar mati?
Dua senti…
Bagaimana dengan
orang tuaku nanti setelah mendengar kematian anaknya? Pikirnya kalut.
Satu setengah senti…
Apakah ia harus mati
dengan cara tak elit seperti ini? Ayolah Sasuke, jika kau memang benar-benar
berniat ingin mati, cukup teguk racunmu, seketika rohmu melayang menuju alam
baka, kemudian selesai.
Satu senti…
Sasuke meringis, ia
menutup hidungnya. Sasuke hendak meneguk racunnya dan bersamaan dengan itu
pintu depan terbanting keras.
"SENPAI!...
UWAAAAAH!"
Naruto bergegas
menyingkirkan gelas di tangan Sasuke, "Apa yang kau lakukan? Apa otakmu
sudah tak bekerja lagi? Masa kau mau makan itu—" pemuda kuning itu
menunjuk sang kecoa mati yang menempel di dinding, pemuda Uzumaki itu menggigil
karena ngeri.
Sasuke tertawa
hambar, kemudian menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Ia mulai menangis keras.
Naruto mengerutkan keningnya,
"Senpai! Apa kau sebegitu frustrasinya karena tak punya uang hingga ingin
memakan itu? Seharusnya kau bilang padaku kalau kelaparan! Di apartemen masih
ada sepuluh dus mie ramen instan."
Ah! Rupanya ada yang
salah paham!
"Senpai!"
panggil Naruto, Sasuke malah mengeraskan tangisannya.
Dasar baka!
Baka! Batin Sasuke berteriak. Kemudian Sasuke mengangkat wajahnya, ia
menoleh ke arah Naruto. Air matanya dengan deras mengalir, "Apa yang kau
lakukan! Padahal sebentar lagi aku sampai di alam baka!"
Turquoisenya itu membesar, "APA?" sergahnya,
kemudian bau pestisida dan pencair cat menembus indra penciuman pemuda kuning
itu. Ekspresinya menjadi geram. Sungguh Naruto, responmu lamban sekali.
Naruto mengulurkan
tangannya dan menyentuh bahu Sasuke, "Apa yang kau lakukan senpai? Jika
kau mati, apa yang harus kujelaskan dengan polisi ketika meminta keterangan
kematianmu? La-lalu jika aku dituduh menjadi tersangka, bagaimana hidupku
dipenjara nanti? Kehidupanku sebagai penikmat 2D berakhir!" sergahnya sembari
mengguncang-guncang tubuh Sasuke.
Sasuke dengan cepat
menyingkirkan kedua tangan Naruto di bahunya, "Kenapa kau malah
mengkhawatirkan dirimu sendiri? Kau lebih senang kalau aku mati jauh-jauh dari
apartemen ini, begitukah?"
"Bu-bukan
begitu!" sahutnya kemudian, "hanya saja—aku tak pintar kalau
berurusan dengan polisi. Aku jadi gugup, tahu!" semburnya.
"Aku tidak
peduli! Yang jelas, kau sudah menghancurkan ritual pembebasan roh di dalam
tubuhku!"
Naruto tersenyum
kecut, pemuda kuning itu berpikir mental senpainya ini benar-benar sudah tak
bisa diselamatkan! Ia mendesah, "Lebih baik kau ke apartemenku saja
senpai!"
Satu alis Sasuke
terangkat, "Hah?"
Tanpa basa-basi
Naruto menarik senpai menyedihkannya itu ke apartemen miliknya.
…
…
"Oh,
jyadikwaubwetmu dwengan gwawis witu?"
Sasuke meringis
jijik, "Telan dulu makananmu ketika kau hendak bicara! Menjijikan!"
lalu Sasuke menyesap Oolong tea perlahan, ah~ sekarang dirinya lebih
tenang.
Pemuda kuning itu
menelan makanannya, seketika ia tersedak, segera meraih minuman di hadapannya,
lalu meneguknya dengan cepat, "Gwuah! Ahahaha… gomen… gomen…"
"Kau
menjijikan!" gumam Sasuke menatap Naruto datar.
Kau lebih
menjijikan senpai, balasnya dalam hati. Naruto tak mau mencari masalah
dengan senpainya sekarang. Bisa-bisa nanti ia jadi korban pembunuhan setelah
apa yang ia lihat tadi, "Jadi, kau bertemu dengan gadis itu?"
ulangnya lagi mengklarifikasi.
"Hn! Bukankah
aku sudah menjelaskannya tadi? Gadis kemarin, yang melihatku hendak membuang
boneka laknatmu itu!" sahutnya sembari memejamkan matanya sesaat.
Entah kenapa ada
perasaan senang di dalam diri Naruto. Ternyata Sasuke senpai kena batunya!
"Kenapa kau
terlihat senang?" sembur Sasuke yang sadar akan ekspresi pemuda kuning
itu. Segera Naruto mengelak, "Ti-tidak! Aku hanya berpikir, mungkin saja
gadis itu ditakdirkan menyembuhkan penyakit hikkikomorimu itu, senpai!"
"Kau mengigau
ya?" sahut Sasuke dengan enteng, "Di dunia ini sudah menjadi aturan
kalau mengigau itu hanya saat tidur saja. Jadi enyahkan pemikiran itu dari otak
dangkalmu!"
Naruto terpancing
emosi, rasanya ia hendak sekali merobek-robek mulut senpainya yang tak ada
manis-manisnya itu. Dengan segera pemuda kuning itu ingat, hari ini ia tidak
boleh marah. Hari ini hari spesial untuk menyenangkan hati senpainya itu.
Naruto tertawa tertahan, "Benar juga katamu, sen-pai!"
Sasuke medesah, ia
tak sadar jika ada aura membunuh menguar di tubuh Naruto. Onyxnya itu memandang Naruto yang menunduk, pemuda Uchiha
itu jadi bingung. Seharusnya yang di sini menderita itu dirinya, kenapa pemuda
kuning itu yang terlihat nampak menderita? Dasar Sasuke bodoh! Naruto terlihat
menderita karena memendam amarahnya!
Lalu, onyxnya
mengarahkan atensinya ke arah komputer layar flat milik pemuda kuning
itu.
Gelap.
Hari ini ia tak
mendengar bunyi berisik dari soundtrack anime yang diputar Naruto.
Otaknya yang pintar itu menyimpulkan, jadi karena 'itu' ya?
"Hei! Ada apa
dengan komputermu?"
Naruto mengangkat
wajahnya perlahan, tak disangka ekspresinya langsung memucat—layaknya jasad tak
bernyawa. Sepertinya Sasuke sudah salah membahas mengenai hal itu, dengan kikuk
ia menyela, "Ah, lupakan saja!"
Setelah itu
keheningan melanda, Naruto masih berkutat dengan kesedihannya, sedangkan Sasuke
ia merebahkan tubuhnya di lantai tatami. Ia mendesah, otaknya berpikir,
ternyata keluar dari dunia hikkikomori itu sangat sulit.
"Hei,
Naruto?" panggil Sasuke, Naruto dengan wajah merana menatap senpainya, ia
bergumam 'ada apa?'
"Seandainya
keadaan Tokyo tidak seperti sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan
tetap berimajinasi dengan karakter tak nyata di otakmu?"
Kening Naruto
mengerut, ada apa tiba-tiba senpainya bertanya seperti itu? Tidak biasanya.
Lalu ia mengerang, "Entahlah! Mungkin tidak," ia mengangkat bahu,
lalu melanjutkan, "ya, mungkin aku akan membantu orang tuaku di desa dan
melakukan suatu perubahan."
Sasuke mendengus
mendengar jawaban Naruto, "Baguslah kalau begitu," sahutnya simpel,
seketika membuat pemuda kuning itu bingung luar biasa, "Apa maksudmu,
senpai? Kau hanya mengetesku ya?"
"Tidak! Aku
hanya terlintas berpikiran seperti itu. Ternyata jawabanmu cukup keren
juga," Sasuke tertawa kecil, Naruto mendesah. Pemuda kuning itu balik
bertanya, "Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan,
senpai?"
"Hmmm… mungkin
aku akan tetap menjadi hikkikomori. Karena pada dasarnya, aku tak tahu
bagaimana cara mengubah kehidupanku," sahutnya sembari tersenyum kecut.
"Senpai! Kau
menyedihkan sekali!"
"Hn! Aku tahu
itu!"
DRRRRTTTT
DRRRRTTTT
Tiba-tiba ponsel
Sasuke bergetar, pemuda Uchiha itu merogoh kantung celana jeansnya. Naruto yang
berada di seberang meja nampak penasaran, "Langka sekali aku melihat kau
menerima pesan, senpai!"
"Kau penguntit
ya? Kenapa kau tahu aku jarang menerima pesan?"
Naruto meringis
mendengar tuduhan senpainya itu, "Kau gila ya? Kau itu hikkikomori,
bukankah kenalanmu saat SMA hanya aku dan si gadis menyebalkan itu? Dan aku
yakin temanmu saat SMP dan SD tak akan mengingatmu."
"Kau sok
tahu!" balasnya dingin.
Segera Sasuke
membuka ponsel layar sentuhnya, kemudian membuka sebuah pesan dari nomor tak
dikenal. Seketika onyxnya itu terbelalak tak percaya.
From :
0777xxxx
Dear Uchiha
Sasuke-dono
Kau telah
terpilih menjadi kandidat terbaik sebagai projek penelitianku. Jika kau ingin
'Hikkikomori'mu disembuhkan, temui aku di Sanda Park, jam 9 malam.
PS : Kau
bisa sekalian ambil CV yang tertinggal di perpustakaan
Haruno
Sakura
Ini tak salah lagi!
Pesan ini dari gadis itu!
Bagaimana ia
tahu nomor ponselku? Pikir Sasuke kalut. Ah! Ya! Pemuda Uchiha itu ingat,
ia menuliskan nomornya di belakang kertas CV miliknya.
Lalu bagaimana
gadis ini tahu tentang penyakit hikkikomoriku? Apakah gadis ini peramal?
Sasuke menggeleng cepat, tak mungkin! Tampang peramal biasanya agak mengerikan.
Sepertinya pemikiran aneh Naruto menjadi kenyataan.
Lalu apa yang harus
ia lakukan? Pilihan pemuda itu hanya ada dua ; datang ke tempat perjanjian atau
acuhkan saja gadis itu.
Akkh... memikirkan
hal itu membuat otaknya hampir meledak, sedangkan Naruto, ia menaikkan satu
alisnya ketika melihat kelakuan senpainya itu tiba-tiba agak sinting.
"MEMBINGUNGKAAAAANNN!"
Sontak apartemen
kecil itu diisi teriakan Sasuke yang benar-benar sudah sangat kacau.
.
.
.
.
To Be
Continue...
Maaf Baru posting sambungan FF absurd ini. Kalian bisa berkunjung ke akun FFn saya, author penname saya
Vanille Yacchan
FF - Naruto - SasuSaku - Oh! Mr. Hikkikomori [Chapter 3]
Oh!
Mr. Hikkikomori
A
Naruto Fanfiction
All
Character Naruto © Masashi Kishimoto
NHK
Ni Youkoso © Tatsuhiko Takimoto
Story
© Vanille Yacchan
Warning
: OOC, AU, TYPO(S), DLDR, SASUSAKU, LOLICON
Rated
T
Summary :
Ketika kita mendengar kata Hikkikomori, apa yang terlintas dalam pikiran kita?
Otaku? Anime? Manga? Game? Cupu?/Uchiha Sasuke, pemuda yang memilih untuk
mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial, tetangga apartemen maniak, dan gadis
pink yang misterius/Welcome to the Hikkikomori World!
...
BRAAK
“Aku
berhenti nii-san!” Teriak bocah berumur sepuluh tahun itu menggebrak meja di
hadapannya, “Aku tahu kau membodohi ku ‘kan?” Tambahnya seraya menghempaskan
kartu-kartu yang berada di kedua tangannya di atas meja.
Pemuda
yang lebih tua darinya hanya merespon dengan sebuah seringaian. Tak ayal
membuat bocah berumur sepuluh tahun itu kesal.
”Arrghh...
menyebalkan!!” Pekiknya seraya memalingkan wajahnya.
“Orang-orang
yang berlayar menempuh samudera, atom yang memblokir datangnya cahaya,
molekul-molekul jamur yang membasahi makanan—“
Bocah
berumur sepuluh tahun itu seketika memalingkan wajahnya, menatap sosok pemuda lebih
tua darinya yang kini menumpu wajahnya dengan satu tangannya di sebuah bingkai
jendela. Kerutan halus menghiasi kening bocah itu.
“Apa
yang kau bicarakan sih?” Potong bocah itu.
Namun
sang pemuda hanya mengabaikannya, ia tetap meneruskan kalimat yang terpotong
oleh bocah yang kini menatapnya bingung, “—dan lebih dari yang kita ketahui.”
Jeda sebentar, kedua bola mata hitam
pemuda itu memandang lurus untaian kanvas biru cerah yang terbentang di
hadapannya.
“Apa
kau tahu Sasuke?” Lanjut pemuda itu seraya memalingkan wajahnya, menatap lurus
di kedua bola mata hitam bocah di hadapannya yang sama persis seperti miliknya.
Tak lama pemuda itu kembali memalingkan wajahnya, memejamkan matanya guna meresapi
hembusan angin yang meniup surai hitamnya.
“Ada
sebuah konspirasi yang mencoba mempengaruhi masyarakat di zaman ini, dan kita
tak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Jika kau pintar
mengabaikannya—“
Pemuda
itu menghela nafas pelan, dengan perlahan ia mengangkat kedua kelopak matanya.
“—maka
kau tidak akan terjebak di dalamnya.”
.
.
[Chapter
Two : Crazy Delusional, Fight!! Fight!! The Enemy, and Her]
.
.
Sasuke
mengerjap-ngerjapkan matanya. Atensinya mengarah pada jam dinding yang
tergantung di pojok ruangan kamar tidurnya, ‘ah~
sudah pukul 10 AM.’ Pikirnya. Setelah insiden memalukan itu, ia tanpa ragu
kembali ke apartemennya. Mencoba mengistirahatkan kedua matanya serta batinnya
yang benar-benar tercerai berai. Ya~ walaupun sekitar jam empat pagi pemuda itu
dapat benar-benar terlelap.
‘Brengsek
kau Naruto.’ Rutuk innernya kesal.
Ia beranjak dari
ranjangnya, menguap sembari merentangkan kedua tangannya. Langkah kakinya
membawanya ke ruangan dapur, tetapi ketika memorinya teringat dengan kondisinya
sekarang, ‘pemuda miskin yang tak memiliki uang lebih.’ Dengan sukses langkah
kakinya tertahan, tubuhnya melemas.
‘Apa
yang harus ku lakukan!!’ Jerit innernya berurai air mata.
Menelpon ibunya dan
mengatakan, ‘kaa-san aku kehabisan uang,
bisa tolong kirimkan?’ Hell!! Pikiran itu tak akan pernah mungkin ia
lakukan, walaupun keluarganya cukup mapan membiayaianya, tapi ia bertekad tak
ingin menyusahkan kedua orang tuanya.
Sasuke memutar
tubuhnya, berbalik melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tak lama Sasuke
menghenyakkan pantatnya di sebuah kursi empuk. Mata sayunya menatap layar flat monitor komputer yang menyala dua
puluh empat jam non stop di hadapannya. Tangannya bergerak menggapai mouse dengan lemas. Kursor mousenya mengklik taskbar aplikasi browser
yang tersedia di dalam komputernya.
Seketika layar flat komputernya menampilkan wujud
aplikasi browser tersebut, kedua
tangannya bergerak mengetik sebuah URL website dalam ruang tool bar address bar. Tanpa
menunggu lama, koneksi internet itu terhubung pada dunia cyberspace. Onyxnya
menyisiri tiap bait kalimat yang tertera di layar monitornya.
“Elavil ; inhibitor
monoamine, Selective serotonin reuptake inhibitors, Prozac,” gumamnya seraya onyxnya masih setia menatap layar flat monitor di hadapannya. “Err... dimana
Benzodiazepin... Benzodiazepin... Benzodiazepin...” Kursor mousenya dengan tak sabaran menscroll
area scroll bar pada browsernya.
Mata sayunya seketika
mendelik. Rasa amarahnya memuncak. Ia menggebrak keyboard di hadapannya agak keras, ‘dasar website tidak berguna.’
Teriak innernya. Pemuda raven itu
dengan gesit mengklik tombol close pada
browsernya. Ia menyandarkan tubuhnya
pada punggung kursi. Menghela nafas dalam sembari tangan kanannya memijat
keningnya dengan perlahan. Ia perlu obat penenang anti depresi itu, ya~
walaupun faktanya kondisi keuangannya menipis. Dan satu-satunya jalan terbaik
untuk mendapatkannya hanyalah meminjam uang, ‘tapi siapa?’ Tanya innernya.
Seketika jaringan saraf di otaknya mendeteksi sebuah ide, tanpa sengaja bibir
tipisnya menyeringai.
Tak lama sebuah bunyi
bel menginterupsi rancangan ide jahatnya. Sasuke mendecakkan lidahnya, ‘siang-siang begini siapa yang memencet bel
sih?’ Pikirnya. Ia beranjak dari kursi empuknya, melangkahkan kakinya
menuju pintu depan apartemen. Tangannya bergerak membuka knop pintu secara
waspada. Hal pertama yang dapat onyxnya
lihat adalah seorang wanita paruh baya bersurai brunette yang kini tersenyum lebar menatap Sasuke.
“Ap-apa yang kau
inginkan?” Gagap Sasuke to the point, merasa canggung dengan tatapan wanita brunette di hadapannya.
Dengan sekejap wanita brunette itu merogoh sesuatu di dalam
tas jinjing magentanya. Ia mengangsurkan sebuah selebaran di hadapan pemuda
raven yang kini mengangkat satu alisnya.
“Kami membagi gratis
selebaran ini, maukah kau melihatnya?” Pinta wanita brunette itu, parasnya yang telah di makan usia itu masih setia mengumbar
senyuman. Onyx Sasuke dengan cekatan
menyisiri tulisan cover selebaran
yang berada di kedua tangan kurus wanita brunette
di hadapannya. Seketika matanya mendelik, ‘a-ajakan sosialisasi!!’ Pekik innernya
tak percaya.
Well—kita
semua tahu jika pemuda bermarga Uchiha ini seorang penyandang hikkikomori, dan
faktanya seorang hikkikomori itu tak begitu pintar jika di hadapkan dengan interaksi
antar makhluk hidup. Apalagi jika pemuda pantat ayam itu di hadapkan dengan
sebuah perkumpulan yang notabene hampir seluruh karakteristik manusia terkumpul
di dalam sana. Oh! GOD! Mungkin ia
akan memilih menjatuhkan dirinya di atas gedung bertingkat.
Sebuah pertanyaan
timbul di benak pemuda raven itu, mengapa dari semua makhluk berakal di muka
bumi, ia harus di hadapkan dengan orang seperti ini?
‘Sial!’
Teriak
innernya. Pemuda raven itu belum siap
dengan peralihan penyakit anti-sosialnya menjadi seorang pemuda yang peduli
dengan kondisi lingkungan luar. Tapi tanpa di duga-duga sang pencipta mengirimkannya
makhluk asing pertama yang mencoba berinteraksi dengannya. Oh! Crap, pemuda pantat ayam itu mengutuk
ketidak adilan yang telah terjadi padanya sekarang.
“Tolong lihatlah sekali
saja!” Suara lembut wanita brunette di
hadapan Sasuke sukses membuyarkan pikirannya. Sasuke berdeham guna membasahi
kerongkongannya yang sedikit kering, ‘aku
harus mengatakan padanya bahwa aku tak tertarik dan voila wanita ini akan
segera menjauh dari hadapanku.’ Ucap innernya
memutuskan sebuah konklusi yang tercetak di dalam otaknya.
“Maaf, aku tidak ter—“
Tanpa di duga wanita brunette itu membuka selebaran yang di
pegang di kedua tangannya. Telunjuk kurusnya menunjuk sebuah kalimat yang
membuat pemuda di hadapannya melotot sempurna.
Penyakit
mengerikan hikkikomori akan menghancurkan masa muda kita, resiko apa yang anda ambil?
Segeralah bergabung dengan kami... Onyx Sasuke menyisiri tiap bait kalimat
yang di tunjuk wanita brunette di
hadapannya. Ia membeku, ‘apa-apaan wanita
ini?’ Jerit innernya histeris.
“Ya! Bulan ini secara
spesial kami mengangkat tema ini, apa kau tertarik?” Tanya wanita itu seraya
tersenyum ramah. Terus terang saja keramahan yang diberikan wanita itu membuat
Sasuke merasa... well—marah?
‘YA!
TENTU SAJA AKU TERTARIK!!’ Teriak innernya dengan nada sarkatis, ‘tenang...
tenanglah! Jangan berbuat yang menimbulkan kecurigaan, jika kau tak mau
membuatnya berteriak.’ Imbuh innernya
menasihati.
“Te-te-tentu saja!”
Serunya canggung sembari tangan kanannya menggaruk belakang kepalanya tak
gatal, di lanjutkan dengan suara tawa garing yang keluar dari bibirnya. Figur wanita
setengah baya itu hanya merespon
pemuda di hadapannya dengan sebuah senyuman.
“Hikkikomori? Aku tak
percaya mengapa negara ini banyak sekali penderita hikkikomori!!” Sergah Sasuke
dengan setengah nada mencemooh. Sedangkan wanita di hadapannya hanya mengangguk
afirmatif, “dan kau mungkin tak akan percaya jika pemuda di hadapanmu juga
seorang HIKKIKOMORI!!” Imbuhnya dengan nada sedikit keras di akhir suku kata
yang ia ucapkan. Wanita brunette itu
melotot, bibir merahnya yang dipulas dengan lipstik itu menganga.
“HIKKIKOMORI? YANG
BENAR SAJA!! APA KAU BERCANDA!? TAK MUNGKIN AKU MERASA TERASINGKAN DI MUKA BUMI
SEPERTI INI!” Teriak pemuda Uchiha itu meluap-luap, ‘oh! God! Bunuh aku sekarang juga! Apa yang ku katakan barusan?
Bukankah aku sudah setuju tak akan bertindak aneh!!’ Innernya memekik.
Karena emosi menguasai tubuhnya, pemuda itu tak lagi memedulikan seruan innernya.
“TIDAK HANYA ITU SAJA,
BAHKAN AKU TAK PERNAH BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG LAIN SELAMA SATU TAHUN. AKU DI
DROP OUT DARI PERKULIAHAN TANPA
PEKERJAAN, DAN DISINILAH AKU SEKARANG, MENJADI PENYANDANG HIKKIKOMORI!!” Jelas
Sasuke seraya tertawa sarkatis, “HAL YANG PALING TERBURUK DARI SEGALANYA AKU
MEMILIKI SEBUAH MASA DEPAN YANG SIA-SIA, SETIAP KEJADIAN YANG MENIMPAKU SELALU
SAJA TAK MASUK AKAL, KAU TAHU?”
Dengan sekejap Sasuke
mencondongkan tubuhnya ke arah wanita brunette
itu. Tak ayal gerakan singkat itu membuat wanita brunette di hadapannya terperanjat, matanya sedikit melotot. Onyx Sasuke menatap emerald wanita brunette itu
dengan tatapan intimidasi, “EEEH!! NYONYA, APA KAU BODOH? BEGITU TAK SOPANNYA
KAU MENANYAKAN ‘RESIKO APA YANG ANDA
AMBIL’ PADA HIKKIKOMORI! JIKA AKU BISA BERHARAP SEMBUH DARI HIKKIKOMORI AKU
TIDAK AKAN MERASA SEFRUSTASI INI SEKARANG!!” Beber pemuda Uchiha itu geram.
Sasuke menegakkan
punggungnya, onyxnya dapat melihat
wanita di hadapannya menghela nafas lega. Pemuda raven itu mencibir, “KALIAN
SEMUA PIKIR, KALIAN TAHU TENTANG DIRIKU!? AKU BAHKAN SENDIRI TAK TAHU MENGENAI
DIRIKU... JADI TAK MUNGKIN KALIAN BISA MENGERTI!” Bentak Sasuke, wanita brunette itu kembali terperanjat. Tentu
saja di karenakan oleh kata-kata pedas
yang dilontarkan dari bibir pemuda di hadapannya.
“Err... se-sepertinya
aku terburu-buru. Aku harus pergi, maaf jika telah mengganggumu.” Ucap wanita brunette itu takut-takut. Tubuhnya
berbalik meninggalkan sosok Sasuke yang masih berdiri tegak di ambang pintu
apartemennya.
Tangan kanan pemuda
raven itu menggebrak keras pintu kayu berbalut cat berwarna putih di sampingnya,
mengindahkan rasa nyeri yang berdenyut di tangan kanannya, “SIAL!!” Jeritnya.
.
.
.
.
Uzumaki
Naruto, pemuda kuning yang notabene penderita akut
delusif. Pemuda yang selalu mengaku jika dunia ilusi itu lebih menyenangkan
jika di bandingkan dengan realita di muka bumi. Pemuda yang akan memilih gadis dua
dimensi dibandingkan dengan gadis tiga dimensi yang menurutnya begitu
merepotkan. Ah~ bahkan kau tak akan pernah habis mendeskripsikan bagaimana
pemuda itu begitu memuja segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia delusif
yang dimilikinya.
Iris birunya menyortir
beberapa kepingan koleksi DVD anime mecha miliknya tempo dulu yang ia beli di
Akibahara, “Gundam, Evangelion, Gurren Lagann...” Gumamnya sembari beberapa DVD
itu ia hempaskan dengan kasar di lantai apartemennya.
Seketika matanya
melotot, bibirnya menganga ketika iris birunya menangkap sebuah objek yang
telah lama ia cari-cari. Tangannya bergerak mengangkat sang objek yang
membuatnya seperti orang bodoh. Kedua iris birunya menatap sang objek dengan
tatapan layaknya seorang pemuda yang rindu dengan kekasihnya,
“A-a-a-astro
ASTRO BOY!! Ini dia!! Akhirnya aku menemukanmu!!” Jerit pemuda kuning itu
bangkit dari acara jongkoknya, berjingkrak-jingkrak merayakan euforianya
sembari tangannya memeluk erat DVD tak berdosa itu. Bisa kau bayangkan betapa
bahagianya pemuda kuning itu?
Tanpa menunggu lama, Naruto
melenggos pergi menuju komputer layar flat
yang tak jauh dari tempat kumpulan koleksi DVD yang pemuda itu timbun. Ia menghempaskan pantatnya di
sebuah kursi empuk. Tak henti-hentinya Naruto mengerahkan senyuman di paras
imutnya. Terus terang saja, ia begitu rindu dengan tontonan masa kecilnya. Bahkan
sekarang pemuda itu dapat merasakan nostalgia di bulan Agustus pada masa
penayangan anime jadul itu.
Tangannya terjulur
meraih mouse, dengan tak sabaran ia
mempause media player yang notabene
dari tadi ia mainkan dengan volume medium. Ketika jari telunjuknya hendak
menyentuh tombol CD ROM, sebuah bunyi ‘BUUK’ beserta umpatan kesal menembus
indera pendengaran pemuda itu.
Kerutan halus menghiasi
kening Naruto. Ada apa dengan tetangga sebelah apartemennya? Jaringan saraf di
otaknya mencoba menerka-nerka sebuah konklusi yang membuat senpai semasa SMPnya
itu tiba-tiba mengamuk, ‘ah~ mungkin ia
kesal karena kalah main game.’ Terka
innernya sembari menganggukkan
kepalanya, ‘atau ia kesal karena
kehabisan makanan, mungkin juga!’ Imbuh innernya.
Tak lama sebuah bunyi
pintu apartemen ditutup dengan kasar beserta teriakan bak banshee menginterupsi pergerakan tangan pemuda kuning yang mencoba
memasukkan kepingan DVD di area CD ROM miliknya. Naruto mendengus, memorinya
teringat akan kejadian mengerikan semalam. Untuk apa ia memedulikan orang yang
telah mencoba merebut Mikarin miliknya?
Mengindahkan segala
konklusi yang telah tercetak di otaknya, pemuda itu kembali pada rutinitas
awalnya. Bibirnya merekah ketika iris birunya menatap layar flat komputer di hadapannya yang kini
menampilkan figur robot karya mangaka Osamu Tezuka yang notabene di cap sebagai
‘the father of manga.’
‘Balas
dendam itu memang menyenangkan hahaha~’ ucap innernya sembari tertawa senang.
.
.
.
.
BRAAK
Pemuda Uchiha itu
menutup pintu apartemennya secara kasar. Tangannya bergerak mengacak rambut
pantat ayamnya sembari berteriak histeris.
“AAARGGGHH!!”
Ia menghentak-hentakkan
kakinya pada lantai apartemen. Tak lama Sasuke menghenyakkan pantatnya pada
lantai solid, kepala ayamnya ia rebahkan di atas sebuah meja berkaki rendah di
hadapannya. Sasuke menghela nafas dalam. Apa yang telah ia lakukan barusan
bukanlah di luar akalnya. Seumur hidup ia tak pernah berteriak keras di hadapan
seorang wanita yang notabene masih seumuran dengan ibunya sendiri.
Hell!!
Tak cukupkah Tuhan memberinya kesialan yang menimpanya semalam? Dan sekarang ia
terduduk menyesal dengan sikapnya yang kasar.
Andai waktu bisa diputar balikkan, ia tak
akan pernah memilih membuka pintu apartemennya.
Sasuke menegakkan
kepalanya, onyx sayunya tertuju pada
lemari kayu bepernis di hadapannya. Pemuda itu bangkit dari duduknya, melangkahkan
kakinya menuju ke hadapan lemari kayu bepernis tersebut.
Pemuda Uchiha itu
menelan salivanya, agak ragu membuka knop pintu lemari berelief yang sama
sekali tak pernah ia perhatikan. Tapi Sasuke menggeleng kuat kepalanya, ia
butuh barang itu sekarang juga!! Dengan gesit kedua tangannya membuka knop
pintu lemari, menggapai benda yang ia anggap sebagai pelarian rasa frustasinya.
Tanpa menutup lemari yang sudah lama menjadi perabot penghias di ruang tengah apartemennya,
pemuda itu kembali menghenyakkan pantatnya di lantai solid, mengindahkan rasa
tak nyaman yang hinggap di punggungnya.
Indera penciumannya
menghirup sisa obat berbentuk bubuk—obat penenang anti depresi yang ia anggap
ampuh menetralisir rasa gugup maupun rasa frustasi yang ia miliki sekarang.
“AAAAAH~” pemuda raven
itu menghela nafas lega sembari ia merebahkan tubuhnya di lantai apartemen.
Kelopak matanya perlahan menutup, merasakan sensasi menenangkan pasca menghirup
benda yang biasanya menciptakan delusi absurd
bagi penggunanya. Iris onyxnya
terangkat, pandangannya mulai mengabur. Pemuda raven itu merasakan dunia
seolah-olah berputar, dan menciptakan dimensi delusif yang tak terlepas dari
pengaruh obat penenang anti depresi yang ia hirup.
“Oh yah~ ini dia!!”
Gumam Sasuke, “halllo semuanya!! Tuan Televisi, tuan Lemari, tuan Kulkas, tuan
Dispenser dan tuan Stereo system. Apa
kabar~~” sapanya, meracau tak jelas.
“Hai, Sasuke!! Apa
kehidupanmu sebagai hikkikomori sudah berakhir?” Tanya salah satu benda
menyerupai kulkas.
Sasuke bangkit dari tidurnya,
atensinya mengarah pada benda yang berfungsi sebagai pendingin makanan maupun
minuman yang kini memiliki sepasang indera penglihatan dan bahkan bisa
berbicara!!
“Tidak!!” Respon Sasuke
sembari menggelengkan kepalanya lemah. Sebuah pertanyaan timbul di benaknya,
‘Oh! God! Aku kembali tersesat di dunia ini
lagi!?!’
“Ayolah~ kebiasaan
mengurung dirimu di dalam apartemen ini bukan hal yang bagus. Cobalah sesekali
kau merasakan dunia luar!!” Kini benda menyerupai lemari angkat bicara, sembari
bibir besarnya tersenyum lebar.
“Mana mungkin!! Jika
aku keluar dari apartemen ini, anak-anak lain akan memanggilku dan menatap
remeh kepadaku!!” Teriak Sasuke seraya mengacak rambut pantat ayamnya.
Tak jauh dari letak
lemari sebuah benda elektronik bernama Stereo
system mencibir, “Haah~ kau tetap saja selalu bodoh!!”
“Tunggu dulu tuan Stereo system. Ia begitu karena diserang
oleh musuh!!” Interupsi sebuah Dispenser.
“Oleh musuh? Apa
maksudnya?” Kedua alis Stereo system itu
bertautan.
Dispenser mengangguk
afirmatif, “Ya! Game yang sering ia mainkan, doujinshi-doujinshi yang sering ia
beli, bahkan anime-anime yang biasanya ia tonton secara online! Merekalah musuhnya!! Ini konspirasi!! Konspirasi!!” Jerit Dispenser
meluap-luap, sedangkan Sasuke yang tak jauh dari tempat mereka hanya melongo
menatap dua benda itu saling berkomunikasi.
“AAAKHH!! Tak salah
lagi, ini ulah jahat organisasi rahasia!! Merekalah yang membuat benda-benda
yang kau sebutkan tadi, tuan Dispenser!!” Jerit benda elektronik bernama
Televisi, “mereka membuat hal itu agar dapat menanamkan bibit otaku dalam
populasi jiwa manusia. Akibatnya, keahlian dalam berinteraksi antar manusia
menurun, dan bahkan banyak hikkikomori menjamur di dunia ini!!” Imbuh Televisi
seraya menggelengkan kepalanya.
Keempat benda hidup
dalam dunia delusif milik pemuda raven itu mengangguk setuju terhadap gagasan
tuan Televisi, “Kau harus melawannya Sasuke!!” Teriak kelima benda hidup itu
menyemangati pemuda raven yang kini bangkit dari duduknya. Onyxnya berkilat cerah.
‘Benar!
Aku harus mencari pekerjaan untuk melawan konspirasi ini!!’
.
.
.
.
Iris onyxnya mengawasi bangunan modern bercat
putih yang dipadukan dengan warna gading. Pemuda raven itu menghela nafas
dalam. Sebagai seseorang yang agak
terganggu seperti dirinya, faktanya ia tak akan mau mengikuti ajakan khayalan
gila yang baru saja ia alami. Tapi lihatlah sisi baiknya, Sasuke mulai mencoba
keluar dari kehidupan hikkikomorinya, bahkan pemuda raven itu berterima kasih
pada khayalan gila yang menyadarkannya agar tak takut terhadap realita di dunia
ini.
Atensinya bergantian
menatap bangunan modern dihadapannya dan kembali menatap CV yang ia pegangi.
Sasuke kembali menghela nafas. Sebenarnya, ia masih tak siap. Tapi inilah jalan
satu-satunya untuk melawan konspirasi organisasi terselubung yang notabene
sudah membuatnya menjadi korban.
Tangannya bergerak
menyentuh gagang pintu yang terbuat dari besi aluminium. Dengan kekuatan penuh
Sasuke menarik pintu kaca, menyisipi diantara dua pintu kaca tebal yang terbuka
lebar. Ketika pemuda Uchiha itu menapakkan kakinya di dalam ruangan, ia
disambut udara dingin air conditioner yang
temperaturnya di atur agak tinggi, dengan perlahan Sasuke mendongak dan di buat
takjub oleh relief-relief keagamaan yang
terukir di langit-langit bangunan.
‘Ini
perpustakaan atau bangunan tempat berdoa?’ Tanya inner Sasuke sembari menggelengkan
kepalanya tak percaya. Atensinya menyapu ruangan, meneliti tiap-tiap desain
bangunan yang ia anggap bak katedral Inggris. Keningnya mengkerut, walaupun
desain interiornya agak berbeda dari perpustakaan lainnya,
tapi tetap saja menurut pemuda Uchiha itu, ‘ini
terlalu berlebihan!’
Tanpa sengaja onyxnya menangkap sosok gadis belia memakai
kupluk berwarna peach— menutupi setengah rambutnya yang berwarna pink, ‘pink? Di zaman sekarang, ternyata gadis
belia senang mengecat rambutnya.’ Innernya menggeleng, menyayangkan keadaan
zaman modern yang tak lebih membuat manusia menjadi semakin absurd.
Si-gadis-kupluk itu duduk
tak jauh dari tempat si pemuda Uchiha itu berdiri, Sasuke yakin jika si gadis merupakan petugas tetap perpustakaan.
Dengan jiwa percaya diri, pemuda Uchiha itu melangkahkan kakinya menuju area counter pelayanan.
Dalam jarak satu meter,
langkah kaki pemuda raven itu tertahan. Sasuke menghirup rakus udara di
sekitarnya, tak ayal sang pemuda yang bisa di katakan memiliki paras cukup
tampan itu kini menjadi pusat perhatian di kalangan gadis-gadis yang
berseliweran—tak jauh dari tempat pemuda itu berdiri.
Faktanya, ia
cukup—bahkan bisa dibilang sangat benci jika di hadapkan dengan kondisi yang ia
alami sekarang. Maka dengan sifat apatisnya, Sasuke melanjutkan langkah kakinya
menuju area counter pelayanan yang ia
anggap begitu jauh.
Tangan Sasuke terjulur
gemetar, ia agak ragu menyentuh bahu si gadis—yang dari tadi onyxnya perhatikan agak sibuk dengan bahan
bacaannya. Dengan menutup erat kedua kelopak matanya, perlahan Sasuke menepuk
bahu si gadis. Gadis-kupluk itu tersentak di karenakan sentuhan tiba-tiba yang menimbulkan
efek kejut, dengan respon penasaran, si gadis memalingkan wajahnya. Iris emeraldnya mendapati seorang pemuda yang
perlahan mengangkat kedua kelopak matanya.
Onyx
dan
emerald itu saling bertatapan. Sang onyx meneliti tiap-tiap inci rupa sang
gadis. Otaknya mencoba mencerna, mengingat bagaimana iris emeraldnya, hidungnya yang mancung, warna rambut si gadis yang tak
biasa, bibir pinknya yang merekah. Seketika memori kejadian di malam mengerikan
itu hinggap di otak pemuda itu, bak serentetan potongan-potongan film yang terpisah
; emerald yang mendelik, surai
pendeknya yang berwarna abnormal di hembus angin malam, bibir pinknya yang
menganga.
Jaringan saraf di otak
pemuda itu mencoba mencocokan karakteristik gadis di hadapannya dengan gadis di
dalam memorinya. Sebuah konklusi yang di buat oleh otak pemuda itu membuatnya
seperti dihantam batu besar, gadis yang berada di hadapannya adalah gadis yang
sama di malam itu. Onyxnya mendelik, ‘d-d-d-dia gadis yang itu!!’
Sang emerald hanya menatapnya tajam. Tak ada sedikit
pun sebuah ekspresi yang terpatri di wajah mudanya, hanya ada raut datar.
Pemuda Uchiha itu sedikit takut, ‘tak
salah lagi dari tatapannya, ia pasti ingat kejadian malam itu!! Gadis ini pasti
akan mengataiku pemuda aneh bahkan pemuda cabul kekurangan hormon!!’
Spontan, Sasuke
menundukkan kepalanya. Bahkan ia masih bisa merasakan emerald tajam itu mengebor setiap inci bagian tubuhnya, ‘apa yang akan ku lakukan?’ Jerit innernya terdesak. Pilihan Sasuke hanya
ada dua; tinggalkan tempat ini lalu mengunci dirinya di apartemen tercinta
miliknya, atau tetap di sini dan dengan senang hati mendengar cacian yang akan terlontar
dari bibir gadis di hadapannya. Pemuda dengan tipe seperti Sasuke tentu saja
akan memilih option pertama. Hell, memangnya ia sudi dicela dengan
keadaan salah paham? Harga dirinya yang tinggi itu tak akan mampu menanggung rasa
malunya.
Pemuda itu bersiap membalikkan
tubuhnya, tapi sebuah tawa ringan berhasil menginterupsi pergerakan langkah
kaki Sasuke. Apa indera pendengarannya sudah mulai rusak? Mana mungkin gadis di
hadapannya tertawa? Sasuke jelas tahu, jenis tawa itu bukan jenis tawa
meremehkan atau tawa mengejek. Meyakinkan indera pendengarannya, pemuda raven
itu menegakkan kepalanya. Atensinya terfokus pada gadis pink yang kini
tersenyum manis ke arahnya.
“Halllooo, tuan emo!!”
Sapa gadis itu, di lanjutkan sebuah tawa geli terlontar dari bibirnya, entah di
karenakan ekspresi melongo pemuda di hadapannya atau kebodohan yang mereka
ciptakan saat pertemuan tak sengaja ini.
Onyxnya
mendelik. Pemuda itu meyakini bahwa bukan indera pendengarannya yang sudah rusak,
tapi otak gadis pink ini yang di khawatirkan sudah rusak total, ‘ada apa
dengannya?’ Tanya inner Sasuke
sedikit tak percaya.
“Kau ingat aku tidak?”
Pancing gadis pink itu seraya menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri. Sedangkan
Sasuke hanya bergumam tidak jelas, yang mengakibatkan si gadis mencondongkan sedikit
tubuhnya ke arahnya, “Hah? Aku tidak mendengar apapun!!” Suara nyaringnya mampu
membuat setengah pengunjung menatap ke arah mereka. Kedua objek yang di tatap
hanya menunjukkan sikap apatis, merasa tak terjadi apa-apa.
“A-a-a-akuu tak ingat
sama sekali!” Elak Sasuke sedikit memundurkan tubuhnya, ‘uwaaaah!! Apa yang ku ucapkan barusan?’
Sebuah raut bingung
menghiasi paras imut gadis pink itu, “Seingatku, kau yang waktu itu ‘kan?
Pemuda yang sedang memegangi—“ jeda sebentar, gadis pink itu berdeham, “boneka
yang err—kau tahulah!!” Ucapnya di akhiri dengan tatapan berharap jika pemuda
di hadapannya merupakan orang yang ia maksud.
Sasuke menggaruk
belakang kepalanya yang tak gatal. Wajahnya di penuhi dengan rona merah bak
tomat yang siap di panen, “P-p-pasti kau salah orang. Itu tak mungkin aku.
Gomenasai!!” Sahut Sasuke bergegas meninggalkan sosok gadis pink yang melongo
menatap punggung pemuda itu.
Dengan perlahan, figur
gadis pink itu menegakkan tubuhnya, “Ah~ bahkan aku belum menanyakan apa
keperluannya!!” Keluh gadis itu sembari menumpu wajahnya dengan satu tangannya.
Tak sengaja atensinya
beralih pada sebuah map yang tergeletak di atas meja counternya. Satu alisnya terangkat, “Ini milik siapa?” Gumamnya,
seolah-olah bertanya pada dirinya sendiri. Karena rasa penasaran menggelayuti
dirinya. Tangannya bergerak membuka map berwarna hijau itu. Iris emeraldnya menyisiri bait kalimat yang
tertera di dalam map. Sebuah senyuman mengembang di bibir pinknya.
“Kita akan bertemu
lagi, Sasuke-kun!!”
.
.
.
.
To
Be Continue...
Otakupedia
:
-
Mecha
: Genre
animanga yang kisahnya menitik beratkan pada robot. Genre anime ini bisa kita
temukan kayak Gundam, Tengen Toppa Gurren Lagann, Evangelion, Eureka Seven.
-
Osamu
Tezuka : Mangaka yang author kenal sebagai pencipta manga
Astro Boy.
-
Hikkikomori
:
Dalam bahasa Jepang yang berarti seseorang yang memilih untuk mengisolasi diri
(menghindarkan diri) dari kehidupan sosial (kehidupan luar) dan memilih untuk
menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk diam di rumah, kalaupun ke luar
rumah hanya seperlunya saja.
...